oleh

Kota Depok, Surga bagi Kaum LGBT

-Indeks-252 views

ACEHSATU.COM – Melihat judul tulisan di atas, betapa kita akan tercengang dengan kondisi Kota Depok saat ini. Judul itu pun bukan hendak menghujat visi dan misi Kota Depok, ‘Kota Depok yang Unggul, Nyaman, dan Religius’.

Namun, ini sebagai bahan koreksi bagi pemerintahan yang dinakhodai oleh Mohammad Idris Abdul Shomad. Pun karena kota ini di bawah ‘kendali’ partai berbasis Islam yang seharusnya bisa membaca kondisi lingkungannya.

Apalagi, dalam salah satu point misi kota ini disebutkan, ‘meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melaksanakan nilai-nilai agama dan menjaga kerukunan antar-umat beragama, serta meningkatkan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara’.

Maka, sudah sepatutnyalah bila para pemimpin di kota ini lebih peduli dengan setiap fenomena yang muncul di masyarakatnya.

Ironisnya, praktik prostitusi, baik itu dilakukan oleh pasangan yang bukan mukhrimnya atau pun LGBT (lesbi, gay, biseksual dan transgender), justru marak terjadi di kota yang jadi penyangga daerah khusus ibu kota negara Jakarta.

Bahkan, para pelaku LGBT sudah dengan berani dan terang-terangan menunjukkan identitas diri serta komunitasnya.

Tak susah mencari keberadaan mereka. Tinggal cari di mesin pencarian google dan ketik kata kunci lesbi atau gay Depok dan prostitusi gay atau waria Depok, maka banyak muncul nama komunitas lesbi atau gay.

Bahkan juga bermunculan prostitusi online lesbi, gay, dan waria dengan menggunakan beragam aplikasi jejaring sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, Badoo dan Girndr.

Beberapa akun prostitusi LGBT di pencarian google di antaranya @aliyawariadepok, @marisawariadepok, @gayberondongdpk, @gaymargonda, @belogmargonda, @smalesbidepok, bisa didapatkan dengan mudah. Salah satu akun Twitter bahkan mencantumkan nomor ponsel.

Mau coba? Bila beruntung, maka akan terdengar suara serak-serak lembut yang memperkenalkan diri dengan nama, Feby. Setelah percakapan basa-basi, dia dengan terang-terangan menawarkan layanan seks dengan tarif Rp 300 ribu untuk short time.

Maka, selanjutnya terserah Anda!

Berdasarkan informasi, ternyata cukup banyak komunitas gay, waria dan lesbi yang beraktivitas di Depok. Ada komunitas namanya Gay ARH (komunitas gay dan lesbi di tempat fitnes dan aerobic di kawasan Jalan ARH).

Ada juga komunitas Gay Beji, Margonda Gay Community, Gay Margonda-Cimanggis, Gretong Top Community, Waria Bening Beji, Waria Margonda, Waria Sejajar Rel (waria yang biasa menjajakan diri di Jalan Sejajar Rel).

Untuk komunitas lesbi di antaranya ada nama, Depok Belog Community, ARH Lesbi, Group Margonda Belog, Asyik Belog Community, Cantik-Cantik Belog, Genk Jobekerz, Depok dan SMA Lesbi Depok.

Komunitas-komunitas tersebut lebih sering berkumpul di salon, tempat fitnes, kos-kosan dan apartemen. Hanya sekali-sekali para komunitas berkumpul di mal, kafe, dan karaoke.

Sebut saja misalnya Julia. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta yang tinggal di Depok, yang menjadi lesbi saat ditemui wartawan Republika.co.id, belum lama ini, mengaku tidak perduli dengan apa yang menjadi omongan orang lain.

“Kalau kami sih cuek aja apa kata orang, yang penting kami nggak menganggu,” katanya.

Julia kos bersama kekasihnya yakni seorang wanita berambut cepak, berpenampilan pria, sebut saja namanya Bayu (24 tahun). Tak begitu sulit bertemu dengan komunitas Julia yang lebih terbuka dibandingkan menemui kelompok gay yang sangat tertutup untuk orang yang belum dikenal atau bukan dari kelompok gay.

Kebutuhan sehari-sehari, biaya kuliah, penampilan dan gaya hidup menjadi alasan mereka untuk terjun dalam dunia ‘hitam’. Gilanya lagi, Julia pun diperbolehkan oleh kekasih wanitanya dengan menjajakan diri ke ‘pria hidung belang’, di tempat karaoke atau melalui Instagram, Twitter dan Facebook.

“Lagian aku masih doyan laki juga kok. Tapi, aku lebih suka berhubungan dengan gadun (om-om), lebih royal dibandingkan brondong (anak muda) karena gak ada duitnya”. Ucapannya yang blak-blakan itu bahkan tak membuatnya takut akan dosa.

Tak hanya datang dari kalangan mahasiswi, anak-anak dari lingkungan SMA juga banyak yang lesbi. Biasanya, mereka nongkrong di foodcourt mal dan juga di tempat karaoke. Mereka juga ada basecamp di kos-kosan dan apartemen.

Fenomena itulah yang membuat pemerhati masalah sosial di Depok Kota Layak Anak (KLA), Jeanne Noveline Tedja mengaku sangat prihatin.

Apalagi, Kota Depok yang dikenal religius, ternyata praktik seks bebas tumbuh subur. Tak hanya dilakukan oleh komunitas LGBT yang kian marak dan terang-terangan, tapi juga oleh pasangan pencari kenikmatan dunia sesaat.

Dalam pandangan Jeanne, penyandang LGBT ini tentu sangat bertentangan dengan nilai-nilai religius karena fitrah manusia adalah berpasangan (laki-laki dan perempuan).

Selain itu, dengan tumbuh suburnya komunitas LGBT membuat jumlah angka penderita penyakit HIV/AIDS juga meningkat di Kota Depok.

“Ini masalah serius. Saya tidak rela Depok jagi surga LGBT dan prostitusi,” tegas Jeanne. Ya, Pemkot Depok harus membentuk tim yang melibatkan pihak-pihak terkait lalu dibicarakan pendekatan apa yang akan diambil untuk merazia dan membubarkan komunitas LGBT di Depok. Tidak boleh didiamkan!

Sebenarnya, aparat kepolisian tak tinggal diam untuk bertindak tegas membekuk praktik prostitusi LGBT melalui medsos yang marak di Depok. Bahkan, seorang waria berinisial IE alias Ika (34) dibekuk polisi di rumah kontrakan di Jalan Arif Rahman Hakim (ARH) Gang H Kani Beji Depok, pada 2016 lalu.

Aparat kepolisian juga menggrebek kos-kosan yang dijadikan tempat prostitusi gay pada September 2017 lalu. Polres Depok bertindak tegas memberantas segala bentuk prostitusi dan pastinya akan mengusut prostitusi melalui online, terutama maraknya prostitusi LGBT di Depok melalui sosial media.

Pun Kantor Kesbangpol dan Linmas Pemerintah Kota (Pemkot) Depok yang menyatakan sudah melakukan penelusuran maraknya komunitas LGBT di Depok.

Ironisnya, meski sudah lama mendalami kasus prostitusi dan seks bebas ini,  tapi Kantor Kesbangpol dan Linmas Pemkot Depok justru mengatakan bahwa semua data samar. Pertanyaannya, apa benar memang samar? Silakan Anda buktikan sendiri dengan menelusurinya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemkot Depok Sidik Mulyono pun seakan tak mau perduli dengan maraknya praktik prostitusi dan LGBT secara online.

Pihaknya beralasan, tidak memiliki wewenang untuk melarang para LGBT melakukan komunikasi melalui medsos. Namun, ada beberapa rencana pencegahan, antara lain dengan melakukan berbagai kegiatan, di antaranya memberikan literasi digital kepada masyarakat, khususnya remaja, melalui kegiatan sosialisasi bahaya dari dampak aktivitas LGBT.

Yang jelas, saat ini, praktik kemaksiatan menjadi pembicaraan hangat berbagai kalangan setelah keberanian mereka mengibarkan berbagai aksinya secara terang-terangan.

Kelompok manusia pengidap penyakit seks menyimpang ini telah secara terang-terangan menyebarkan penyakit mereka ke seluruh elemen masyarakat melalui lobi-lobi politik dan sosial demi mendapatkan hak yang sama dengan orang-orang normal lainnya.

Ya, LGBT saat ini bukan isapan jempol belaka, tapi telah menjadi penyakit sosial kronis menular yang harus dicegah dan ditangani secara serius.

Pegiat LBGT dengan berbagai cara mencari pembenaran atas penyakit yang mereka derita, dengan mengatakan LBGT bukanlah penyakit tetapi merupakan hak asasi manusia yang harus diperjuangkan sebagaimana hak-hak perempuan.

Tinggal bagaimana stakeholder di Pemerintahan Kota Depok ini bertindak, dalam artian tidakan yang diberikan kepada para pelaku kemaksiatan itu benar-benar memberikan efek jera.

Begitu juga dengan peran ulama, harus lebih intensif lagi dalam membentengi akidah dan moral umat Islam khususnya dan masyarakat Kota Depok pada umumnya.

Ajaran Islam telah menjelaskan hukum bagi segala hal yang terjadi di antara manusia, termasuk persoalan LGBT  tersebut.

“Dan ingatlah Luth ketika berkata pada kaumnya: Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang belum pernah dilakukan seorangpun di alam ini. Sungguh kalian mendatangi laki-laki bukan wanita dengan penuh syahwat. Sungguh kalian kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 81).

Semoga hukuman berat berupa azab yang bertubi-tubi pada pelaku homoseksual (Sodom) dari kaum Nabi Luth dengan dibenamkan mereka ke dalam tanah lalu dihujani dengan batu, tidak menimpa masyarakat Kota Depok. Na’udzubillahimindzalik.

SUMBER: REPUBLIKA.CO.ID

Komentar

Indeks Berita