Klaim Pemerintah Aceh Berhasil Tekan Kurva Terbantahkan

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Pelonjakan kasus warga di Aceh yang dinyatakan positif terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) beberapa waktu terakhir ini patut diwaspadai.

Hingga 5 Agustus 2020, pukul 17.00 WIB, data pasien yang dinyatakan postif Covid-19 di Aceh telah menembus angka 537 orang.

Hal itu seolah menjadi antitesa dari klaim keberhasilan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah soal kurva kasus positif Covid-19 di Provinsi Aceh sudah melandai saat diundang dalam sesi wawancara khusus di Graha BNPB,  pada Jumat (29/5/2020) lalu.

Saat itu, Nova sesumbar bahwa pemerintah Provinsi Aceh telah bekerja lebih awal, terpadu, dan fokus menghadapi kemungkinan terjadinya wabah virus corona.

“Kami mengerjakan apa yang sudah dikerjakan sama seperti daerah lain di Indonesia. Hanya saja di Aceh lebih cepat, terpadu, dan fokus,” akunya.

Namun faktanya, kasus Corona di Aceh masih terus terjadi.

Di beberapa data awal kasus Covid-19 di Aceh menunjukkan penyebarannya disebabkan transmisi luar Aceh.

Sejumlah pasien merupakan orang yang pernah berpergian ke luar Aceh atau orang luar Aceh yang masuk ke Aceh.

Padahal saat itu larangan keluar masuk Aceh tengah diberlakukan.

Pintu perbatasan disebutkan akan lebih diperketat.

Siapa saja yang melintasi perbatasan bakal diperiksa kelengkapan syarat, termasuk surat kesehatan bebas Covid-19.

Kendati demikian, data berkata lain. Sejumlah ‘warga khusus’, atau lebih tepatnya disebut ‘warga kelas satu’, ternyata bisa bebas melewati pintu perbatasan dan kemudian berkeliaran di Aceh yang kemudian terungkap ternyata mengidap Covid-19.

Sebut saja kasus salah satu ajudan Gubernur Sumatera Utara yang mampu menembus Bireuen.

Belum lagi beberapa kasus warga non-Aceh lainnya yang kemudian terdeteksi karena gejala terinfeksinya mulai timbul saat berada dalam kawasan Aceh.

Bahkan yang lebih menghebohkan, ketika sekolompok warga turunan asal Medan yang tiba-tiba hadir di Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Abdul Aziz Syah (RSUD SAAS) Peureulak, Selasa (9/6/2020).

Meski bertujuan mulia untuk menyalurkan obat-obatan dan alat pelindung diri, pihak RSUD SAAS Peureulak terpaksa menolak bantuan tersebut karena alasan yang masuk akal.

“Karena mereka dari Medan dan mereka tidak melengkapi dokumen kesehatan serta tanpa pendampingan, maka dengan terpaksa kita batalkan kegiatan serah terima bantuan, demi menghindari kecemasan masyarakat dan petugas RS,” ujar Direktur RSUD SAAS Peureulak dr Darma Widya, Rabu (10/6/2020).

Meski begitu, rombongan sejumlah warga asal Medan yang belakangan diketahui merupakan perwakilan Yayasan Buddha Tzu Chi itu, dapat menerobos pintu perbatasan Aceh yang katanya dijaga ketat.

Kini, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga tengah mencoba peruntungan lainnya.

Lewat Surat Perintah yang ditujukan kepada para kepala daerah di wilayah perbatasan Aceh, Nova ingin kembali memperketat penjagaan.

Perintah itu disampaikan Nova Iriansyah melalui surat bernomor 440/10863 tanggal 4 Agustus 2020.

“Lebih meningkatkan penjagaan perbatasan dengan tidak mengizinkan orang masuk dan keluar perbatasan Aceh jika tidak memiliki Surat Tugas / Keterangan Perjalanan dari Lembaga Pemerintah, Swasta atau Keuchik atau nama lain dan Surat Keterangan Bebas Covid-19 dari instansi berwenang,” demikian salah satu poin perintah yang diterbitkan Plt Gubernur Aceh.

Semoga saja perintah Nova ini, memang nyata sebagai perintah yang diikuti dengan kepatuhan semua pihak yang dalam pelaksanaannya tidak tabang pilih. (*)