oleh

Kisah Sahat dari Langsa, Penambal Ban yang Berjuang Sekolahkan Anak-anaknya

-Potret-74 views

ACEHSATU.COM — Saat matahari mulai menampakkan bayangannya di ufuk timur, Sahat (53) warga Dusun Garuda Gampong Pondok Pabrik Kebun Lama, Kecamatan Langsa Lama ini bergegas bangun dari peraduannya.

Ia menjalankan aktivitas kesehariannya sebagai penambal ban.

Namun, pria paruh baya yang miliki tiga orang anak ini juga sebelumnya tidak pernah melupakan kewajibannya untuk terus dapat menjalani kewajibannya menafkahi anak-anaknya.

Seperti biasa selesai mengurus keperluan sebelum berangkat kerja, ia selalu menyempatkan membantu hal-hal biasa di rumah sebagai seorang ayah.

Ia sangat bersyukur atas segala nikmat hidup yang telah dimilikinya, memiliki keluarga yang sederhana yang amat ia cintai.

BACA: Kisah Pilu Dikeheningan Malam, Sebilah Rencong Hujani Tubuh Bocah 9 Tahun Hingga Tewas, Ternyata Pelakunya Ayah Kandung

Embun pagi masih membasahi dedaunan.

Dinginnya udara diarungi dengan semangat dan keyakinannya kepada Yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang.

Perlahan tapi pasti, Sahat mengayuh pedal sepeda tua satu-satunya harta yang dimilikinya menuju tempat usaha tambal ban yang terletak di Jalan Jenderal A. Yani, Kota Langsa.

Dalam perjalanannya sesekali Sahat memperhatikan lintasan jalanan yang ia lalui saat rutinitas pagi menikmati kota kecil yang kian bagus berbenah.

Pembangunan Kota Langsa yang kian membaik dalam pikirannya serta merta membuat dirinya mencoba membandingkan dengan keadaan dia dan keluarganya, yakni rumah yang ditempatinya.

Rasa khawatir tidak dapat dipisahkan dari benaknya.

BACA: Kisah Perjuangan Sabri Ismail, dari Berdiplomasi di Jepang Hingga Menjadi Petani di Kruengmane

Kecemasan itu bukan karena akan turunnya hujan yang akhir-akhir ini jelang penghujung tahun semakin kerap mengguyur kota, bagi para petani tentu menjadi berkah, namun belum tentu bagi dirinya.

Hal itu karena atap rumah yang saat ini ia dan keluarganya tempati kondisinya rusak parah dan bocor di sana-sini.

Setibanya di tempat usahanya, Sahat mempersiapkan segala perkakas penunjang kelancaran usahanya.

“Isi angin pak,” tiba tiba seorang ibu pengendara sepeda motor berhenti di depan tempat usahanya.

Sahat bergegas menghidupkan mesin kompresor selanjutnya menarik selang angin ke arah ban sepeda motor milik ibu tersebut.

BACA: Kisah Duka Istri Nelayan Idi: Seminggu Sudah Dimakamkan di Myanmar, Nurlela Tetap Ingin Jasad Suaminya Dipulangkan

“Terima kasi pak,” kata ibu muda itu seraya menyodor lembaran uang nominal Rp2.000.

Terlihat tangan sahat sedikit gemetar tatkala menerima uang itu, dari mulutnya spontan meluncur berucap syukur.

Berbincang kepada ACEHSATU.com, Kamis (20/12/18) di tempat usahanya, Sahat mengakui menjalani profesinya sebagai penambal ban semenjak tahun 2010.

Dari hasil jerih payah usaha yang digelutinya, ia memperoleh penghasilan Rp50 ribu hingga Rp60 ribu rupiah per hari.

“Terkadang  adakalanya sehari penuh serupiahpun tidak dapat,” ujar Sahat lirih.

BACA: Kisah Nek Yen, Eks Kombatan GAM Kini Jadi Penjahit Peci Keliling

Untuk menutupinya, Sahat juga menjalani profesi lainnya yaitu sebagai juru parkir.

“Tiga orang anak saya saat ini sedang menempuh pendidikan di sekolah, semuanya membutuhkan biaya,” kata Sahat.

Anak tertuanya saat ini sedang menjalani pendidikan semester terakhir kuliahnya di salah satu lembaga pendidikan swasta.

Sementara itu dua orang adiknya masing masing duduk di kelas terakhir sekolah menengah atas  serta kelas enam sekolah dasar.

“Bulan ini anak paling tua akan menjalani wisuda serta butuh biaya harus saya akui bingung saya kemana harus mencari biayanya,” katanya blak-blakan.

Demi kelangsungan pendidikan anaknya, ia terus berusaha dan kerja keras.

“Saya pasrah dan menyerahkannya semua ini Tuhan .. dek,” kata sahat dengan rawut wajah sedih.

“Tambal ban pak” tiba tiba terdengar suara dari seorang pemuda berhenti mendorong sepeda motornya di tempat usaha milik Sahat.

BACA: Kisah Riski Adrian, Perwira Muda yang Pernah Sukses Menangkap Anak Buah Din Minimi

Pria tua itu terlihat tergopoh mengambil peralatannya dan mengangkat sebaskom air selanjutnya lakukan proses menambal ban dalam sepeda motor yang bocor itu.

Usai nenjalankan tugasnya Ia menerima ongkos Rp10.000 dari pemuda pemilik sepeda motor itu.

Selanjutnya sahat duduk dikursi plastik lusuh yang ia miliki.

Pandangan matanya menatap hiruk pikuk  lalu lalangnya berbagai jenis kenderaan di depan tempat usahanya seraya berharap ada pengendara yang singgah butuh jasanya.

Sementara itu sayup sayup terdengar suara musik dan nyanyian lagu Pance F. Pondagh dari sebuah caffe yang berjarak hanya beberapa langkah dari tempat usahanya.

“Demi kau dan sibuah hati terpaksa aku harus begini”.

Bait demi bait lagu tetsebut seolah  bagai memahami realita hidup yang sedang dialami Sahat.

Semoga Sahat, bapak tua yang ikhlas bekerja ini mendapat kemudahan dari Tuhan. Amin. (*)

Komentar

Indeks Berita