Ekonomi

Kisah Nek Yen, Eks Kombatan GAM Kini Jadi Penjahit Peci Keliling

Nek Yen menceritakan secara mendalam kisah perjuangan saat terlibat dalam GAM. Sebelum ditangkap oleh aparat keamanan saat darurat ditahun 2003 dia sebagai pejaga radio dalam wilayah Mukim Sagoe Kuta, Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen

ACEHSATU.COM | BIREUEN – M Taufik (38) akrab dipanggil Nek Yen merupakan salah satu dari sekian mantan Eks Kombatan Gerakan Aceh Mardeka (GAM) yang mengadalkan skill  untuk menafkahi keluarga.

Ia tak menenteng proposal ke dinas-dinas dan ia juga tidak meminta-minta proyek. Nek Yen bertahan hidup untuk kebutuhan keluarga dengan cara mengadalkan skill bekerja sebagai pejahit peci keliling.

Udara malam di kota Matang Glp Dua, Sabtu(3/11/2018) terasa dingin menusuk hingga ketulang. Jam sudah menunjukan pukul 00.00 Wib.

Duduk di warkop Halmahera Kota Matang Glp Dua, Memakai baju kemeja biru laut bermotif bunga-bunga. Sambil mengayungkan kedua jari tangan. Jari tangan kanan memengan jarum jahit sementara jari kiri memengang benang yang hampir siap menjadi sebuah peci.

Dari aura wajah yang terpancar ia terlihat lelah, mukanya berminyak keluaran keringan.

“Kaleuh lhee boh”kata Nek dalam bahasa Aceh sambil menunjuk tiga buah peci hasil jahitannya.

Nek Yen menceritakan secara mendalam kisah perjuangan saat terlibat dalam GAM. Sebelum ditangkap oleh aparat keamanan saat darurat ditahun 2003 dia sebagai pejaga radio dalam wilayah Mukim Sagoe Kuta, Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen.

Kisah hidupnya tidak berjalan indah, takdir berkata lain. Sebelum dia menjauh dari Gampong untuk menghindar dari kejaran aparat ia keburu ditangkap aparat.

Setelah ditangkap pria kelahiran Gampong Bugak Krueng Mate. Nek Yen dijebloskan dalam pejaran LP Bireuen. Menjalani masa kurungan selama 10 bulan didalam LP Bireuen.

Nek Yen akhirnya dipindahkan ke LP Porong Surabaya, selama dalam LP secara otodidak ia belajar sendiri cara menjahit peci.

“Sambil menikmati hidup dalam penjara. Saya belajar menjahit. Lama kelamaan sudah terbiasa,”kata Nek Yen mengenang masa lalu.

Selama dua tahun hidup di LP Porong Surabaya, memasuki tahun 2005 seiring dengan MOU Helsinki ia pun dilepas dari pejaran sebagai bekas tahanan politik.

Nek saat ini mengadalkan skill sebagai penjahit peci keliling. Dalam sehari kalau ada peci terjual ia mendapatkan uang 100 ribu.

”Kalau ada peci yang laku hampir tiap hari dapat reseki 100 ribu. Karena peci ini saya jual Rp. 100 ribu/satu,”kata Nek Yen.

Selain menjahit peci berpindah-pindah tempat ke lokasi-lokasi lain. Apabila ada masyarakat yang ingin memesan peci hasil jahitan tangannya ia juga siap menjahitnya sebanyak mungkin.

“Biasa kalau ada yang pesan menghubungi saya melalui no hp 085370227953. Ada juga yang telpon bertemu langsung,”pungkas M Taufik.

Ia berharap suatu saat Pemerintah dapat memberdayakan mantan kombatan GAM yang mempunyai skill dengan cara pembinaan secara kontinue.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top