Kisah Kapak dan Kemiskinan Aceh

Kisah pertama terkait dengan potensi penyebab kemiskinan, merujuk pada kisah kapak seorang tukang kayu dengan konglomerat yang dinukilkan dalam Kitab Al-Mustadrak.
Melawan Rentenir
Prof Dr M Shabri Abd Majid MEc

Kisah kedua tentang kapak merujuk pada Hadist riwayat Abu Daud.

Anas bin Malik meriwayatkan sebuah kisah dimana pada suatu hari datanglah seorang pengemis miskin dari kalangan Anshar datang mengemis pada Rasulullah SAW.

Rasulullah lantas bertanya pada Pengemis: “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” 

Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa saya pakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” 

Rasul berkata, “Ambil dan serahkan ke saya”

Rasulullah kemudian melelangnya dan terjual dengan harga dua dirham.

Dari hasil penjualan itu dibelikan makanan dan kapak.

Rasullulah bersabda: “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, dan selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.”  Tapi setelah itu datang dan melaporlah ke saya, kata Rasulullah.

Selang dua minggu kemudian, pengemis pun datang  menjumpai Rasulullah dan membawa uang 10 Dirham.

Rasulullah bersada: “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha” (H.R. Abu Daud).

Kisah ini sangat inspiratif dan patut dijadikan referensi dalam menyusun kebijakan dan program pengentasan kemiskinan di Aceh.

Program pengentasan kemiskinan tidak akan efektif jika hanya diberikan dalam bentuk bantuan tunai langsung untuk memenuhi kebutuhan makanan, tapi harus dibarengi dengan bantuan pemberian modal kerja baik dalam bentuk bantuan peralatan, tumbuhan, maupun hewan.

Modal kerja ini diharapkan akan dapat digunakan orang miskin untuk menghasilkan pendapatan.

Sebaliknya, modal kerja yang diberikan kepada orang miskin tanpa didahului dengan bantuan uang untuk membeli makanan, juga akan gagal mengentakan kemiskinan di Aceh.

Karena ketika perut kosong, bantuan modal kerja akan dijual.

Dalam Islam, “Perut adalah sumber berbagai penyakit …” (H.R. Muslim), termasuk penyakit fisik dan moral, maka “Hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (Q.S. ‘Abasa: 24).

Tamsilannya, jika pemerintah ingin memberi ikan pada orang miskin, berilah umpan ikan dan makanan untuk orang miskin sekaligus lengkap dengan peralatan pancingnya.

Terakhir, kisah ini juga member catatan penting agar program pengentasan kemiskinan di Aceh sukses, maka setiap orang miskin diberikan bantuan, mareka harus dimonitor, dievaluasi, dan didampingi.

Hal ini sangat penting dilakukan agar ketika orang miskin mengalami hambatan dan kesukaran dalam upayanya keluar dari kubangan kemiskinan, mareka segera mendapat petunjuk dan rekomendasi jalan keluar dari permasalahan.

Begitu juga, monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara reguler dan kontinyu agar orang miskin tetap amanah dan tidak menyalahkan penggunaan bantuan program pengentasan kemiskinan.

Suksesnya si Pengemis miskin menghasilkan uang 10 Dirham  dalam kisah di atas itu semata-mata karena pengawasan yang dilakukan Rasulullah terhadap penggunaan kapak yang diberikan kepada si Pengemis.

Semoga kisah kapak menginspirasi kita untuk membebaskan Aceh dari kemiskinan.

Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam, Koordinator Master Ilmu Ekonomi Universitas Syiah Kuala, dan Sekretaris Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam DPW Aceh.