Kisah Kapak dan Kemiskinan Aceh

Kisah pertama terkait dengan potensi penyebab kemiskinan, merujuk pada kisah kapak seorang tukang kayu dengan konglomerat yang dinukilkan dalam Kitab Al-Mustadrak.
Melawan Rentenir
Prof Dr M Shabri Abd Majid MEc

Dalam sebuah ceramahnya, Al-Habib Segaf Baharun mengisahkan sebuah cerita tentang kapak seorang Tukang Kayu dengan Konglomerat, bersumber dari Kitab Al-Mustadzrak. 

Alkisah, semasa hidupnya seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: “Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku”.

Lantas Konglomerat itu pun menanyakan hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.

Tapi anak-anaknya serempak menjawab: “Manalah mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat.”

Salah seorang anaknya juga menimpali: “Wahai Ayahku, apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Mendengar respon anak-anaknya, dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke seluruh pelosok negeri.

Akhirnya, di detik-detik Konglomerat meninggal, kuburpun telah dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Maka datanglah seorang Tukang Kayu dengan kapak di tangannya mengajukan diri untuk menemani mayat si Konglomerat tersebut selama 40 hari di dalam kuburnya.

Bagi si Tukang Kayu ini adalah kesempatan emas menjadi kaya raya mendadak, tanpa perlu hidup susah, kais sehari untuk makan sehari.

Singkat cerita, keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat menemani mayat Konglomerat sambil membawa kapaknya sebagai satu-satunya aset paling berharga yang dimiliki si Tukang Kayu untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Mungkar-Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat.

Di benaknya, sudah tiba saatnya si Konglomerat akan diinterogasi oleh Mungkar-Nakir.

Namun, apa yang yang terjadi malah sebaliknya, Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya”, jawab Tukang Kayu.

“Apa sajakah harta yang kau miliki?”, tanya Mungkar-Nakir.

“Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki”, jawab si Tukang Kayu.

Malaikat bertanya lagi, “Dari manakah kau dapatkan Kapakmu ini?”.

“Aku membelinya”, balas si Tukang Kayu.

Lalu pergilah Mungkar-Nakir meninggalkan si Tukang Kayu.

Besok di hari kedua, Mungkar-Nakir datang lagi dan bertanya, “Apa sajakah yang kau lakukan dengan Kapakmu?”

“Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar”, jawab tukang kayu.

“Pohon apa sajakah yang kamu potong”?. Tukang Kayu menjawab: “Banyak jenis pohon yang aku potong di hutan”.

Mungkar-Nakir pun menimpali: “Sebutkan secara rinci pohon apa sajakah yang kamu potong itu, dan tidak boleh satupun yang tidak kau sebutkan?”

Tukang Kayupun berpikir keras dan coba mengingat dan memberi tahu malaikat satu per satu jenis pohon yang dipotongnya.

Di hari ketiga malaikat bertanya lagi, “Pohon milik siapakah yang kau tebang dengan Kapakmu ini?”

“Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi ngak ada yang punya”, jawab si Tukang Kayu.

“Apakah kau yakin?”, lanjut Malaikat. Kemudian malaikatpun pergi menghilang. Di hari ke empat malaikat datang dan bertanya lagi: “Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?”

“Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata”, tegas tukang kayu.

“Jika kamu potong dengan ukuran berbeda, apakah kamu jual dengan harga yang berbeda juga”, tanya malaikat?

“Saya jual dengan harga ditentukan pembeli, timpal Tukang Kayu.

“Apakah pohon yang kamu itu potong sudah kering atau masih basah”, Tanya malaikat?

“Aku campur saja, jawab Tukang Kayu.

“Bagaimana pula harga jual kayu basah dan kering kamu samakan?”, tanya malaikat lagi.

“Bagi aku kayu kering dan basah sama saja, karena harga di tangan pembeli”, lanjut Tukang Kayu. 

Di hari-hari selanjutnya, Tukang Kayu terus didatangi Mungkar-Nakir selalu dengan ditanyakan berbagai pertanyaan rinci seputar kapak, dan harus dijawab dengan tepat tanpa rekayasa. 

40 hari berada di alam kubur terasa begitu berat dan lama oleh Tukang kayu.

Singkat cerita, di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar-Nakir dan berkata:

“Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini”.

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri keluar dan loncat dari pintu kuburnya.

Ternyata di luar kubur, sudah banyak orang yang menanti dan ingin mengetahui nasib dan kisahnya 40 hari berada di alam kubur.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dari kubur dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, “Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi.

“Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, “Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari almarhum Konglomerat itu.

Di dunia ini, harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak, tapi Mungkar-Nakir selama 40 hari menanyakan dan meminta pertanggungjawab saya tentang Kapak ini.

Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak?

Entah berapa banyak pertanyaan malaikat, berapa lama waktu aku harus menjawab, dan bagaimana aku bisa menjawab semuanya.”

Apakah kondisi yang mendera kemiskinan masyarakat miskin Aceh sebagai penduduk termiskin di Pulau Sumatera, terinspirasi dari kisah di atas, karena memilih untuk tidak ingin kaya?

Bantuan program pengentasan kemiskinan tidak dimanfaatkan dengan baik, karena takut kaya dan tidak sanggup mempertanggung-jawabkannya di alam kubur dan akhirat?

Islam menggalakkan umatnya untuk bekerja keras dan profesional agar hidup makmur dan bermartabat.

Islam tidak identik dengan kemiskinan, karena “kemiskinan itu mendekati pada kekufuran” (H.R. As-Sayuti).

Oleh karena, berusaha menjadi orang kaya yang dermawan jauh lebih mulia dariapada orang miskin.

Budaya nongkrong di warung kopi berjam-jam tanpa target dan agenda seharusnya dialokasikan untuk kerja-kerja produktif yang menghasilkan pendapatan.  

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh orang yang mau membawa tali atau kapak, kemudian mengambil kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya, itu lebih baik dari orang yang mengemis kepada orang kaya, kemudian dia diberi atau ditolak.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Kapak dan Pengemis (Simak di Halaman Selanjutnya)