Kisah Banteng Sesat Ideologi

ACEHSATU.COM – Kalangan binatang hampir selalu bernasib kurang menguntungkan. Meski tidak semua.

Jika ia tidak menjadi sasaran daging santapan. Pasti menjadi tawanan.

Bila tidak disembelih, maka jadi korban pembunuhan.

Minimal sekali bila itu kerbau atau banteng, maka pasti jadi alat untuk ditunggangi.

Menunggangi banteng memang sangat mengasyikkan apalagi bila banteng nya gemuk dan bego.

Banteng gemuk berarti bertenaga. Kekuatannya bisa setara sepuluh ekor kuda. Kakinya kokoh dan berotot kuat.

Sangat cocok untuk diikutkan dalam kontes pemilu binatang.

Konon di sebuah negeri pemilu binatang diadakan lima tahun sekali.

Dalam ajang lima tahunan itu kader-kader banteng biasanya bekerja keras untuk memenangkan titah emaknya.

Yaitu berhasil menjadi penguasa.

Emak banteng pernah beberapa kali menunjuk kader banteng yang agak berisi, sehat, dan terlihat gagah untuk ikut pemilu.

Maklum, di pasar hewan biasanya yang profil banteng seperti itu cepat laku dan menarik minat pembeli.

Namun sayangnya jagoan emak banteng selalu gagal di lapangan kontestasi.

Gagal mengelabui binatang-binatang yang ditugaskan menjadi pelaksana pemilu raya bangsa binatang.

Akibatnya banteng tidak pernah menang menjadi penguasa. Kalau pun ada karena faktor keberuntungan.

Padahal di dunia binatang banteng dikenal pekerja keras, dan bahkan memproklamirkan diri sangat nasionalis lagi.

Sejatinya pekerja keras yang nasionalis mendapatkan dukungan seluruh kalangan binatang.

Sebab nasionalis bukanlah anti agama

Karena ya, memiliki jiwa patriotisme gitu!

Kenyataanya justru tidak demikian.

Kelompok banteng sering dicurigai sebagai kawanan penipu, pendusta, dan tidak bisa dipercaya.

Banteng disebut oleh bangsa jin identik sebagai preman, bringas, culas dan licik.

Bahkan ada juga yang menyebut goblok. Gobloknya tidak tanggung-tanggung. Goblok abadi.

Sindiriran itu terbukti ternyata banteng hanya mengandalkan otot dan dengkul dalam bekerja memenuhi ambisi politiknya.

Dalam bekerja dia tidak menggunakan pikiran baik dan cerdas tapi pakai siasat licik. Biasanya kelompok banteng bekerja saat binatang dan manusia lainnya sudah tidur terlelap.

Konon pula slogan petugas banteng adalah kerja kerja kerja, berbeda dengan kelompok manusia yang bekerja, usaha, ibadah, dan berdoa.

Kendati demikian, banteng memang tangguh. Apalagi bila mereka menjalin nepotisme dengan iblis.

Wah bikin manusia kerepotan dan keblinger dalam menghadapi perilakunya.

Iblis yang menjadi sponsor utama banteng di arena perebutan kekuasaan dunia binatang sebenarnya juga terlahir dari turunan emak banteng.

Lebih tepatnya turunan banteng yang murtad. Tidak mau ikut ajaran eyangnya mengenal Tuhan.

Setelah sekian lama, kini banteng-banteng murtad itu tumbuh besar di bawah ketiak emak banteng.

Mereka dipelihara dengan baik oleh para pengembala dan dilindungi.

Sangking begitu dimanja oleh ketua pengembala kadang merangkap mak nya juga, maka banteng-banteng sesat ideologi itu pun sampai hati menunggangi emaknya.

Kawanan banteng bengkok ideologi itu mengarahkan kepala emak banteng ke istana kerajaan binatang sambil menduduki punggung.

Targetnya adalah menjadi penguasa tunggal di negeri binatang selamanya.

Meneruskan perjuangan yang dulu pernah diwasiatkan kepadanya.

Singkirkan manusia dan ubah ideologi ketuhanan dengan ideologi kebinatangan. Agar semua menjadi pengikut ratu iblis.

Banteng yang telah kotor pikirannya dengan ideologi sesat mengira tuhan tidak dibutuhkan.

Bahkan mereka bilang. Panggilan Tuhan tidak semerdu senandung kidung…

Begitu kata salah satu nenek banteng suatu waktu.

Begitulah sekelumit kisah banteng di sebuah negeri.

Jika ada kesamaan dalam kisah ini hanya kebetulan saja. (*)