Ketua Sekber Irwandi–Nova: Muhammad Nazar Orang Tepat Mengisi Kursi Wagub

Ketua Sekber Irwandi–Nova Aceh Selatan, Abdullah Kluet mengatakan, inisiatif Partai Nanggroe Aceh (PNA) memasukkan nama Muhammad Nazar sebagai Cawagub Aceh sisa masa jabatan 2017-2022 sudah sangat tepat.
Ketua Sekber Irwandi–Nova
Muhammad Nazar. Foto Antara.

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ketua Sekber Irwandi–Nova Aceh Selatan, Abdullah Kluet mengatakan, inisiatif Partai Nanggroe Aceh (PNA) memasukkan nama Muhammad Nazar sebagai Cawagub Aceh sisa masa jabatan 2017-2022 sudah sangat tepat.

Sebelumnya, berbagai kritikan dan reaksi masyarakat terus bermunculan dalam dua bulan terakhir ini terkait pengisian sisa masa jabatan wagub Aceh periode 2017-2022.

Arus keinginan masyarakat Aceh, baik di Aceh maupun yang menetap di luar Aceh, semuanya mendorong agar segera dilakukan pengisian jabatan wagub Aceh yang telah kosong sejak 5 November tahun lalu.

Sejak kasus penangkapan terhadap gubernur Irwandi Yusuf tahun 2018 lalu, keadaan pembangunan Aceh mulai terganggu lagi.

Pemerintahan Aceh berjalan pincang, beban begitu berat, Aceh juga cukup luas, dampak konflik belum tuntas, kemiskinan sangat tinggi, bahkan keadaan sosial politik semakin tidak sehat.

Semua itu berpotensi merusak perdamaian, memperbanyak pelanggaran undang-undang dan merugikan pembangunan.

Ketua Sekber Irwandi–Nova
Muhammad Nazar. Foto Antara.

Abdullah Kluet melanjutkan, wajib hukumnya jabatan wagub itu segera diisi dengan figur yang berpengalaman, layak, tidak untuk magang, tidak untuk sekedar gaya dan selera insting politik pribadi.

“Kita mengharapkan Gubernur Aceh sebagai pembina politik di daerah serta partai-partai pengusung untuk segera bertindak serius melakukan pengisian sisa jabatan wagub Aceh. Selain yang saya sampaikan tadi yang memang kebutuhan rakyat, pembangunan dan kedamaian Aceh, hal itu juga merupakan kewajiban undang-undang. Jangan biasakan diri mengabaikan undang-undang dan melakukan hal-hal yang merugikan Aceh,” seru Abdullah yang pernah menjadi anggota DPRK Aceh Selatan periode 2009-2014.

Terkait siapa figur dan bagaimana kriteria wagub Aceh sisa masa jabatan yang ideal, Abdullah Kluet, yang biasa disapa Dolah, menyatakan apa yang dilakukan Ketua umum PNA, Irwandi Yusuf beserta jajarannya yang memasukkan nama Muhammad Nazar, S.Ag, mantan Wagub Aceh itu, sudah tepat.

“Saya katakan tepat karena ada nama mantan wagub Muhammad Nazar yang memang layak, berpengalaman, teruji dan bahkan jasanya dalam perjuangan Aceh juga besar,” tandasnya.

“Jika saja tak ada nama bang Nazar yang sering disapa wagub senior itu, mungkin reaksi publik masih adem ayem saja dan proses pengisian jabatan wagub itu tak banyak disorot, karena nama-nama yang beredar sebelumnya memang belum pantas, tak ada daya tarik, juga belum sanggup untuk memikul beban tugas setingkat jabatan wagub Aceh, dengan sisa masa jabatan yang singkat, katanya.

Beban Aceh yang berat, legitimasi sosial politik terhadap gubernur Nova yang rendah dan segala kompleksitas lainnya di daerah ini yang justru butuh figur selevel kemampuan Muhammad Nazar.

“Kalau bicara hawa (keinginan) menjadi wagub ya banyak, saya pun hawa dan ingin tapi kan saya belum berpengalaman dan teruji untuk jabatan itu,” katanya.

“Kita dan kawan-kawan respek dengan inisiatif PNA dan memasukkan nama Muhammad Nazar yang sudah pernah menjadi wagub yang riil periode 2007-2012. Kami juga tahu, BW (Bang Wandi: panggilan kepada Irwandi Yusuf) selaku ketua umum PNA tidak mengizinkan kak Ati (istrinya Irwandi) dan bang M (panggilan untuk M. Zaini, adiknya Irwandi) mengisi pos wagub yang kosong itu,” paparnya.

Selain itu, PNA juga tidak memaksakan pengurus atau kader internal PNA menjadi cawagub.

BW, kata Dolah, seorang pejuang seperti bang Nazar SIRA juga dan lebih mementingkan kepentingan Aceh, pembangunan dan perdamaian dengan segala komplikasinya yang ada,” ujar Abdullah.

Kalau seandainya PNA dan BW memaksakan harus dari kalangan keluarga dan kader partai, justru itu tidak sesuai dengan prinsip demokrasi dan konstitusi negara yang berlaku. Terlebih jika dikaitkan dengan kebutuhan serta kepentingan pembangunan tadi, jujur saja memang belum ada yang layak selain nama mantan wagub Muhammad Nazar, katanya

“Kemenangan Irwandi-Nova itu mayoritas dari suara yang bukan bahagian dari partai pengusung, bukan menang karena suara keluarga para kandidat dan tidak akan cukup juga suara kader partai pengusung,” tambah Abdullah.

“Maka saya katakan dan dimana-mana saya coba memancing diskusi tentang pengisian pos wagub itu dan figurnya, semuanya sepakat dan tak ada yang membantah bahwa Bang Nazarlah yang paling ideal dan gubernur Nova pasti akan terbantu banyak dengan kehadirannya sebagai wagub,” ungkapnya.

“Jika pos itu diisi secara sembarangan dengan figur yang belum teruji belum berpengalaman dalam urusan pemerintahan, itu bukan hanya tidak bermanfaat untuk Aceh, tapi juga bikin malu Aceh di tingkat nasional dan keadaan Aceh akan tambah sakit,” pungkasnya. (*)