Ketua IDI Aceh: Kasus COVID-19 Sudah Tahap Sangat Serius

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh dr Safrizal Rahman menilai kasus Corona (COVID-19) di Aceh sudah sampai pada tahap sangat serius, karena terus meningkat.
IDI Aceh
Ketua IDI Wilayah Aceh, Safrizal Rahman. [Foto: Indra Wijaya/Dialeksis.com]

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh dr Safrizal Rahman menilai kasus Corona (COVID-19) di Aceh sudah sampai pada tahap sangat serius, karena terus meningkat.

Penanganan Corona disebut harus punya strategi.

“Sampai saat ini kita berpikir Aceh sudah sampai pada tahap sudah sangat serius. Kita harus punya strategi. Kalau tidak, kita bisa tidak berdaya nanti,” kata Safrizal saat dimintai konfirmasi wartawan, Jumat (4/9/2020).

Menurut Safrizal, tingginya angka kematian Corona di Aceh disebabkan oleh tingginya kasus positif. Pasien yang meninggal umumnya mengalami penyakit penyerta (komorbid) serta bergejala berat.

Pasien-pasien tersebut dirawat di ruang Respiratory Intensive Care Unit (RICU) di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), Banda Aceh. Safrizal menjelaskan ruang RICU hampir setiap hari penuh karena banyaknya pasien.

“Dikhawatirkan, kalau ada pasien berat lain (tapi) ruang RICU penuh, nggak bisa dimasukkan, dirawat di tempat biasa. Tentu dengan di RICU saja susah kita untuk bisa membantu mereka, apalagi tanpa ada perawatan intensif,” ujar Safrizal.

Untuk diketahui, berdasarkan data Satgas COVID-19 pusat, per hari ini kasus positif Corona di Aceh ada tambahan 90 orang. Secara total kasus terkonfirmasi COVID-19 di Aceh ada 1.884. Kasus sembuh total 434, lalu meninggal 74 orang.

Sebelumnya, IDI memberikan tiga rekomendasi kepada pemerintah Aceh untuk mencegah menyebarnya COVID-19. Surat rekomendasi IDI bernomor 594/IDIACEH/VIII/2020 diteken Ketua IDI Aceh dr Safrizal Rahman beserta 22 ketua IDI cabang kabupaten/kota.

Menurut Safrizal, IDI mengajukan saran untuk pembatasan bertahap hingga target positivity rate 5 persen dengan active case finding.

“Rekomendasi pertama kita pembatasan aktivitas dimulai dengan gerakan bekerja di rumah (work from home/WFH) guna menghindari keramaian dan penularan tempat kerja,” jelas Safrizal, Kamis (13/8).

Sementara itu, rekomendasi kedua adalah pemberlakuan jam malam bila WFH tidak mampu menurunkan kasus positif. Menurutnya, pemberlakuan jam malam bertujuan mengurangi keramaian pada malam hari, terutama di ruang publik, seperti warung kopi dan kafe.

“Apabila kasus jumlah kasus terus meningkat, perlu dipertimbangkan pengajuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna menghentikan penyebaran virus SARS-CoV-2,” ujar Safrizal.

Sekadar informasi, jumlah positif Corona di Aceh hari ini bertambah 90 orang sehingga totalnya menjadi 1.883 kasus. (*)