Ketika Protokol Kesehatan Tak Lagi Mempan Lawan Covid, What’s Next?

Hamdani.

Aceh masih berada pada posisi terbanyak kasus Corona dalam 1 bulan terakhir. Jumlah kasus meningkat drastis dari 3 bulan sebelumnya atau fase awal penularan virus bahkan Aceh meraih award prestasi pengendalian Covid-19 dari Presiden Jowo Widodo.

Berdasarkan data yang diperoleh per September 2020 jumlah positif corona di Aceh mencapai 3.694 kasus, sembuh 1.680, dan wafat sebanyak 136 orang. Angka yang sebelumnya tidak terprediksikan demikian besar. Mengapa bisa sebanyak itu?

Peningkatan kasus yang sangat mencengangkan tersebut menjadi pertanyaan besar masyarakat, mereka langsung mengaitkan dengan tindakan pemerintah yang lamban melakukan antisipasi. Bahkan dituding tidak melakukan upaya signifikan.

Di sisi lain pemerintah gencar bersosialisasi ke masyarakat jika anggaran untuk menangani Covid-19 sangat besar namun kenyataannya masyarakat harus menanggung biaya sendiri yang tidak sedikit untuk melakukan tes reaktif virus seperti rapid tes dan swab. Intinya antara kebijakan dan kenyataan bagai putih dengan hitam.

Kegagalan pemerintah menangani krisis kesehatan dan memang tidak mudah juga mengendalikan situasi ini telah berdampak secara serius terhadap ekonomi. Menteri Keuangan sendiri telah mengumumkan Indonesia sudah memasuki resesi ekonomi.

Kejatuhan ekonomi sangat jelas terlihat pada kegiatan perdagangan dan daya beli masyarakat yang anjlok secara drastis. Situasi ini juga semakin menambah parah krisis pandemi Covid-19. Setali tiga uang, virus Corona merusak perekonomian.

Merespon kondisi terdampak yang begitu besar terhadap sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat, pemerintah daerah terlihat sibuk menghimbau masyarakat agar mematuhi aturan pemerintah tentang protokol kesehatan.

Namun masyarakat sendiri terkesan enggan mengikuti ajakan pemerintah, konon kasus nya menjadi meningkat tajam. Akibatnya penerapan protokol kesehatan bisa dikatakan gagal memotong rantai penyebaran Covid-19.

Menurut sebagian masyarakat untuk mengatasi wabah Covid-19 bukan hanya dengan pendekatan kesehatan. Sehingga cukup dengan menggunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak.

Corona tidak hanya dilihat sebagai virus dalam konteks sain saja. Tetapi juga sebagai cobaan dalam kaitan dengan spritualitas dan nilai kerohanian. Virus dihadirkan oleh sang Maha Pencipta untuk melengkapi ujian bagi manusia, sehingga Dia mengetahui mana yang mau beriman dan mana yang sesat.

Sejatinya memang manusia kembali kepada Allah. Bertaubat atas segala kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat. Perlu diketahui bahwa musibah (apapun bentuknya) tidak akan datang tanpa ada yang mengundang nya. Siapa undang? Itulah melalui dosa dan maksiat.

Sangat miris memang, disaat para ulama dan kaum muslimin sekuat tenaga berdoa dan meminta dijauhkan dari segala bala Covid-19, di sisi lain para pelaku maksiat justru mengundang malapetaka tersebut.

Mereka mengundang bala melalui jari-jari mereka di warung-warung kopi, bermain judi online, mabok chip, dan meninggalkan shalat. Kelompok ini rata-rata ada mereka berusia muda yang kehilangan jati diri sebagai generasi muslim. Dunia game dan internet telah membutakan mereka.

Inilah persoalan bahwa Covid-19 tidak bisa lagi dipandang sebagai krisis kesehatan semata lalu cukup dihadapi dengan protkes. No! Dan kenyataan nya protkes dan tingkat kepatuhan masyarakat tidak menghasilkan apa-apa dari ancaman Corona. Justru sebaliknya, angka Covid-19 terus merangkak naik.

Maka dari itu, ketika protkes gagal mengantisipasi Corona, kembali lah ke ajaran Rasulullah Saw. Beliau menyerukan kepada umatnya untuk meninggalkan maksiat dan meningkatkan amal shaleh bila ingin selamat dari musibah dan bencana.

Mengenai bencana, seorang tokoh dan ulama Nusantara, Buya Hamka mengatakan, bahwa menurut pandangan yang berdasarkan keimanan, bencana-bencana tersebut harus ditanggulangi dari dua dimensi. Pertama dengan berupaya secara lahiriah dan;

Kedua, dimensi yang lebih penting dan mendasar, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Manusia tidak dibenarkan untuk mempersenda-guraukan tentang soal-soal agama dan ketuhanan, sebab kunci rahasia alam ini dipegang oleh kekuasaan-Nya.

Terakhir marilah kita saling menyayangi satu sama lainnya sehingga bencana ini cepat dicabut oleh Allah SWT. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang menebar kasih-sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasihanilah yang di muka bumi, kalian pasti akan dikasihani oleh yang di langit”. (HR. At Tirmidzi no. 1847).

Protokol kesehatan iya, cuci tangan iya, jaga jarak iya, untuk mencegah dan memutus rantai penularan namun aspek yang juga sangat penting lainnya yaitu masyarakat Aceh tidak lagi bermaksiat kepada Allah SWT, naikkan grafik amalan shalih, tebarkan kasih sayang dan tetap istiqamah dijalan NYA. (*)