Ketika Kebohongan Terinternalisasi dalam Sistem, Tunggulah Kehancuran

Jika mau jadi maling, jadilah maling yang baik. Begitu pula bila hendak menjadi orang baik, maka jadilah benar-benar orang baik.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Jika mau jadi maling, jadilah maling yang baik. Begitu pula bila hendak menjadi orang baik, maka jadilah benar-benar orang baik.

Harus totalitas.

Jangan setengah-setengah, kadang maling kadang taat, jika demikian munafik namanya.

Dosa menafik lebih berat dari maling terbaik sekalipun. Tempatnya neraka paling bawah.

Tetapi tidak ada orang yang bercita-cita menjadi maling walau mendapat predikat the best maling.

Sebab itu pula tidak ada sekolah permalingan di dunia ini.

Kenapa?

Karena profesi itu sangat buruk dan tidak dikehendaki oleh siapapun termasuk yang saat ini terlanjur jadi maling.

Terminologi maling tidak terbatas hanya pada pencuri kelas bawah, yaitu tingkat akar rumput yang beroperasi antar kampung dengan target ayam sekandang.

Tetapi termasuk broker proposal proyek triliunan rupiah dikalangan atas, para elit dan pejabat pemilik proyek yang ahli me-mark-up anggaran 2 atau 3 kali lipat.

Semua itu dapat digolongkan sebagai maling.

Selain maling, penipu, koruptor juga memiliki afiliasi yang sama dengan moral pencoleng dan pelaku immoral.

Disebut immoral karena perilaku tidak jujur atau menipu merupakan bagian utama moralitas.

Tokoh-tokoh itu bisa berada di mana saja dan menduduki beragam jabatan.

Tak terkecuali di perguruan tinggi sekalipun, bahkan tingkat kelicikan memanipulasi justru lebih canggih dan sangat ilmiah atau terkesan sangat ilmiah.

Hingga begitu halus modus pelaksanaan kebohongan sampai tidak mampu dideteksi oleh mesin pindai bohong paling canggih.

Begitulah hebatnya seorang tenaga ahli atau pakar, mungkin juga akademisi merancang sebuah kebohongan.

Namun pekerjaan yang sangat bertentangan dengan wilayah moral dan etika tersebut bukan dilakukan tanpa tujuan.

Justru demi mencapai sebuah tujuan, jalan menipu pun menjadi halal baginya.

Karakter menipu memang tiada obatnya.

Tokoh besar Indonesia Muhammad Hatta pernah mengatakan “kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar.

Kurang cakap dapat diperbaiki dengan pengalaman.

Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.” begitu kata beliau.

Berbohong dan kejujuran ibarat minyak dan air. Mereka ibarat dua kutub magnet yang saling bertolak belakang.

Bila seseorang telah sering berbohong, menandakan bahwa ia telah menimpakan bohong demi bohong diatasnya.

Itulah yang dikehendaki oleh sifat bohong atau dusta.

Seperti terkena candu.

Seseorang akan menikmati kebohongan itu sebagai sebuah kelezatan.

Sehingga berbohong sudah manjadi bagian dari kepribadiannya.

Sebaliknya dengan kejujuran.

Sifat ini menginginkan keterbukaan dalam ucapan dan perilaku.

Kejujuran menampilkan konsistensi dan tidak suka memutarbalikkan fakta.

Kejujuran adalah lambang moral seseorang sehingga kepercayaan sepenuhnya pantas diberikan kepadanya.

Orang jujur tak akan pernah merugikan orang lain.

Selain itu orang yang jujur pasti menjaga amanah (kepercayaan), dan orang yang amanah pasti memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, dan menjalankan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Orang yang jujur cenderung bersikap adil.

Kejujuran merupakan jalan yang lurus dan penuh keselamatan dari azab Allah di akhirat kelak.

Bahkan, tidak hanya untuk bersikap jujur, Allah juga memerintahkan kita untuk bersama orang-orang yang jujur.

Dalam Al Quran surat at Taubah ayat 119, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang siddiqin.”

Bersama dengan orang-orang yang jujur diharapkan akan membuat kita untuk terbiasa menjaga kejujuran dalam diri kita.

Karena kejujuran akan membawa keselamatan.

Dewasa ini kejujuran menjadi barang langka.

Dari sekian banyak manusia, barangkali hanya sepertiganya saja yang masih memiliki sifat jujur.

Hal ini bisa kita lihat dalam lingkungan di sekeliling kita.

Bahkan dalam keluarga kita sendiri saja masih ada yang membohongi saudara kandung sendiri.

Begitu pula dalam masyarakat.

Kebohongan yang diawali dengan kesadaran diri secara total meskipun pada hal-hal kecil, ia akan bermetaformosa menjadi kebohongan publik.

Artinya sifat bohong atau dusta akan tertanam dalam interaksi yang lebih luas dan kompleks.

Mana kala nilai kebohongan terinternalisasi dalam sistem, maka disitulah awal terlembagakan kebohongan.

Selanjutnya nilai kejujuran akan pergi dengan sendirinya tanpa perlu kita usir.

Dalam pandangan universal, kejujuran itu sangatlah mahal dan bernilai tinggi.

Tidak ada satu orang pun yang benci pada sifat jujur. Dimana pun dan kapan pun.

Sebab itu dalam budaya apapun, kejujuran selalu menjadi nilai tertinggi.

Sehingga dengan kejujuran itu pula seseorang diberikan jabatan dan tanggung jawab yang lebih besar.

Imbalan kejujuran dalam pandangan Islam adalah surga.

Tidak ada tempat yang lebih tinggi dan mewah selain dari surga.

Surga tidak dapat dibeli dengan uang, apalagi uang atau harta dari hasil menipu dan korup.

Begitulah nilai kejujuran.

Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar telah jujur hingga ia di catat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kezaliman. Dan sesungguhnya kezaliman itu menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dusta hingga ia di catat disisi Allah sebagai pendusta”.

Namun bagaimana bila berbohong itu sudah membudaya?

Membudaya dapat bermakna telah terbiasa. Artinya berbohong sudah dianggap hal biasa dan tidak segan-segan untuk melakukannya karena sudah lumrah.

Berbohong sudah dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Cerminan kebiasaan berbohong dapat kita amati pada dunia politik.

Meskipun dalam berpolitik, “bohong” itu katanya strategi dan bukan pelanggaran moral atau etika.

Tidak hanya dalam politik. Bila perilaku tidak jujur itu dilakukan karena sudah menjadi perilaku normal.

Maka dalam perniagaan atau berbisnis juga mudah kita dapati pelaku usaha/bisnis yang mempraktikkan kecurangan (bohong) dalam sistim bisnisnya.

Mungkin kita sebagai masyarakat pun sudah menanggap hal itu sebagai sesuatu yang biasa pula.

Konkritnya, kejujuran sudah ditransaksikan dengan sesuatu yang bersifat materi.

Sifat bohong atau dusta bentuknya sangat abstrak. Ia tidak berwujud dan hanya dapat dirasakan oleh hati-hati yang bersih saja.

Karena sangat abstrak, maka penyakit berbohong dapat menyerang siapa saja.

Penyakit bohong bisa mengidap pada anak-anak dan orang dewasa. Bahkan segala usia.

Apalagi bila sejak dini perilaku jujur tidak pernah ditanamkan oleh orang tua mereka dalam lingkungan keluarga atau guru di sekolah maka ketika menginjak dewasa, sikap berbohong itu dapat dengan mudah dilakukannya bahkan dalam lingkungan masyarakat.

Menurut psikolog Agustine Dwiputri diperlukan kesinambungan penanaman nilai antara rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat agar nilai–nilai moral bisa terus berkembang.

Meski demikian, di dalam keluarga pengasuhan yang dilakukan orangtua sebagai pendidik utama akan memberikan dampak yang paling kuat untuk terwujudnya nilai tersebut pada kehidupan anak selanjutnya.

Linda K Popov dkk dalam buku The Family Virtues Guide (1997), menjadi jujur adalah tampil tulus, terbuka, dapat dipercaya, dan menyampaikan kebenaran.

Orang yang jujur dapat diandalkan untuk tidak berdusta, menipu, atau mencuri.

Jika dia mengatakan suka pada kita, kita paham bahwa dia benar-benar menyukai kita, bukan hanya karena untuk mendapatkan sesuatu atau sekadar berpura-pura.

Mana kala pendidikan paling dasar dalam pembentukan karakter jujur gagal dilakukan dalam lingkungan rumah tangga, maka ancaman paling besar akan munculnya berikutnya dalam lingkungan masyarakat.

Ekosistem jujur tidak berhasil diciptakan pada skup yang paling kecil maka pada ruang lingkup yang paling besar akan mewarnai perilaku itu sendiri.

Kejujuran adalah landasan dari kepercayaan yang akan menentukan hubungan seseorang dengan orang lain.

Jadi, ketika seseorang berdusta, menipu, atau mencuri, orang di sekelilingnya tidak bisa percaya padanya.

Pepatah yang berbunyi ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”, banyak terbukti dalam kehidupan masyarakat kita atau pada lingkungan kerja.

Kegagalan membangun budaya jujur dalam lingkungan kerja berarti pada saat yang sama budaya berbohong sedang dijalankan atau tanpa disadari kebiasaan berbohong sedang berlangsung.

Tingkat bahaya budaya bohong yang berlaku dalam dunia kerja lebih tinggi daya rusak dan jelajah dampak kerusakan moralnya dibandingkan bila hal itu berlaku pada lingkup pribadi atau grup kecil, walaupun keduanya sama-sama merusak.

Kebohongan dengan memalsukan kebenaran dalam sistem kerja adalah tindakan kebohongan yang sangat berbahaya.

Kebohongan semacam itu akan merusak kepercayaan dan merenggangkan hubungan antar stakeholder.

Ini bisa menimbulkan kehancuran yang mungkin melibatkan banyak orang.

Sehingga muncul lah istilah Corporate Culture yang dikembangkan dalam sebuah organisasi dalam rangka membangun sistem makna yang dianut bersama oleh seluruh pengikut menjadi karakteristik khas setiap organisasi.

Budaya organisasi senantiasa membangun hal-hal yang bersifat positif dan bernilai moral tinggi.

Termasuk nilai-nilai kejujuran dan lain-lain. Langkah ini sebagai bentuk antisipasi agar sistem dibangun atas dasar kejujuran bukan kebohongan. (*)