oleh

Ketika Dua Juru Bicara Saling Bicara: Merantau Kuliah Karena “Malu” atau “Spirit”

-Edukasi-42 views

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ditemui ACEHSATU.COM sekaligus kedua-duanya, dua juru bicara pemerintah Aceh yakni Saifullah Abdul Gani dan Wiratmadinata “Saling Bicara” antardua juru bicara Pemerintah Aceh tentang karir pendidikan mereka, Kamis (8/3/2018).

Merantau untuk kuliah adalah dua hal yang sama persis dilakukan oleh kedua tokoh Aceh Saifullah dan Wira. Saifullah mengaku di awal karirnya merantau ke Banda Aceh adalah karena rasa “malu”. Pria kelahiran Peusangan ini merupakan anak dari seorang guru yang kerap menganjurkan anak orang lain agar mau merantau ke kota Banda Aceh menjadi semacam ambisi optimisme bagi orang tua, karenanya Saifullah akhirnya memutuskan berangkat ke Ibu Kota Propinsi Aceh.

Memulai merantau dengan maksud meneruskan pendidikan dan mencari penghidupan, Saifullah menempuh pendidikan awalnya di jenjang D-I (diploma satu) merupakan sekolah ikatan dinas, setelah selesai malah diangkat sebagai pegawai honor (asisten dosen) di kampusnya, sempat pula mengabdi di Puskesmas, selain berkuliah, kesibukan primernya adalah sebagai penjahit di pasar Aceh.

Kemampuan sebagai penjahit sudah dimiliki sejak masih di kampung halamannya, Bireuen. Tahun 1989, ia diangkat sebagai CPNS golongan II, selama bekerja berkesempatan melanjutkan pendidikan D-III (Diploma Tiga) di Surabaya, status tugas belajar. Terakhir menyelesaikan D-III-nya pada 1994, ternyata ketika selesai D-III, ia lalu memperoleh kesempatan kembali melanjutkan pendidikan hingga Strata Satu (Sarjana) di kota yang sama yakni Surabaya.

Keahlian yang dimiliki Saifullah yaitu Teknik Pengolahan Limbah, ketika berkesempatan kembali untuk melanjutkan pendidikan, ia kembali lulus S2 bidang Epidemologi. Keahlian riset bidang teknik lingkungan,. Strata Dua (Magister) Teknik Lingkungan tersebut ia selesaikan di Universitas Sumatera Utara.

Penulis di antara dua Juru Bicara Pemerintah Aceh, Saifullah dan Wiradmadinata.

Saifullah merupakan tokoh Aceh berkarakter mudah akrab, tulisannya tersebar di berbagai media massa ini pernah pula menjabat di salah satu bidang pada lembaga BRR.

Lain lagi latar belakang pendidikan Wiratmadinata. Pria kelahiran Kebayakan, Aceh Tengah ini memulai pendidikan di jurusan D-III jurusan Bahasa Inggris, Unsyiah, 1988. Tahun 1989 sudah memulai karir di jurnalis sebagai wartawan Serambi Indonesia.

Belum lagi sempat selesai kuliah sambil bekerja, ia ditempatkan setahun oleh medianya di Takengon, belum sempat tamat di Diploma III, akibat kesibukannya bekerja sebagai wartawan di kampungnya, ternyata jurusan D-III malah tutup, sempat berhenti kuliah, pada tahun 1991 akhirnya ia melanjutkan dan tamat.

Full bekerja sebagai wartawan di Banda Aceh, tidak membuat dirinya lupa atas tujuan sejak dari kampung pada dasarnya untuk menempuh pendidikan. Sempat setahun belajar di IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Sarjananya ia peroleh di kampus Muhammaddiyah Aceh (Unmuha), Fakultas Hukum. Saat sedang menyelesaikan tugas akhirnya (skripsi) bidang hukum S1 di Unmuha tersebut, Wira memperoleh kesempatan kursus kuliah internasional di Australia, fakultas hukum (intensif dua bulan) beasiswa, sebab Wira merupakan aktivis HAM, ia mendalami bidang International Human Right terkait diplomasi internasional.

“Menempuh pendidikan bagi saya adalah soal spirit,” ujar Wira. Sebab baginya keberhasilan seseorang dalam karir hidup mestilah didasari oleh spirit terdidik dan berpengetahuan yang cukup apalagi mumpuni di bidangnya.

Sempat enam tahun melanglang di Jakarta, akhirnya Wira pulang, melanjutkan pendidikan di Strata Dua (Magister Hukum), tak lama kuliah di S2 Unsyiah kembali mendapatkan kesempatan ke luar negeri yakni di Amerika Serikat dalam bentuk program beasiswa di bidang Hukum Internasional, ia menetap hanya tujuh blok jaraknya dari gedung putih.

Program resident di dua universitas di Amerika  ia lewati dengan mulus pada fakultas ilmu pemerintahan dan ilmu politik. Wiratmadinata hingga saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Strata Tiga (S3) di Universitas Syah Kuala.

“Rasa malu, bagi saya sebagai anak kampung yang berorangtuakan guru, menjadi alasan terkuat untuk menjadi spirit berkuliah dan menempuh segala onak duri dalam mencapai mimpi,” papar Saifullah.

Orang susah, kalaupun mampu menghadapi titik-titik ujian hidupnya untuk mencapai tujuannya meraih pendidikan tinggi tetap saja kehilangan nilai efektivitas “waktu” dalam mencapai, namun sangat disayangkan terkait waktu yang lama untuk baru bisa berhasil berpendidikan yang “cukup” jika hanya jadi sia-sia, sedangkan bagi pelajar yang berlatar belakang orang mampu, maka jumlah waktu dan tantangan dalam pencapaian pendidikan yang mumpuni tidaklah sedemikian sulitnya, demikian aku Wira.

Karenanya, spirit dari rasa “malu” untuk mulai melakukan proses berpendidikan tinggi melalui cara merantau ke kota merupakan hal yang patut ditiru dari dua tokoh juru bicara Pemerintahan Aceh tersebut.

“Rasa mensyukuri nikmat itu unik, untuk menyadarinya bisa dilakukan dengan cara mengingat kembali dari mana titik mula kita berangkat dalam menempuh pendidikan, maka kesyukuran terhadap apa yang sudah diperoleh merupakan kunci sukses sebenarnya,” tutup Saifullah di akhir pembicaraan energi spirit dari rasa “malu” untuk memutuskan merantau demi menempuh pendidikan. (*)

Komentar

Indeks Berita