Kenapa Pemakan Riba Sama dengan Orang yang Menzinahi Ibunya? Inilah Alasannya

Rasulullah SAW bersabda: “Riba memiliki tujuh puluh tingkat, dan yang paling rendah adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibnu Majah).
Bank Syariah
Prof Dr Shabri A. Majid, M.Ec. Dok. Acehsatu.com

Sulit untuk dibayangkan apabila dari perzinahan antara sang anak dengan ibunya itu lahirlah seorang “anak haram”.

Kalau anak haram itu membesar, dia harus memanggil siapa kepada orang tuanya?

Anak itu layak memanggil “abang” atau “ayah” atau mungkin gabungan antara keduanya, “bang-yah” atau “yah-bang” kepada orang tua lakinya. “Ibu” dan “nenek” atau “bu-nek” atau “nek-bu” kepada orang tua perempuannya.

Sungguh akan kacau-balau dunia ini dan akan hancur tatanan kehidupan sosial masyarakat jika angkara murka ini.

Begitu juga ketika praktik riba dilakukan secara terus menerus, maka uang itu akan melahirkan “anak-anak uang” yang banyak sekali.

Tindakan mengembangbiakkan uang secara ilegal atau “mengharam anak-jadahkan uang” (peu aneuk bajeung peng), tentunya akan menyebabkan ketidakadilan ekonomi.

Karena yang meraup untung adalah mereka yang memiliki uang yang banyak (kaya), dan yang rugi adalah mereka tidak berkecukupan uang (miskin).

Dengan hanya meminjamkan uangnya kepada orang lain atau mendepositokan uang di “bank konvensional”.

Maka dengan hanya duduk berpangku tangan, goyang-goyang kaki, akhir bulan atau tahun pemberi pijaman atau pendeposito akan mendapatkan uang yang banyak.

Jumlah uang yang dipinjamkan ditambah dengan riba (bunga), tanpa mengambil risiko sedikit pun.

Itulah sebabnya Islam memandang riba sebagai dosa terbesar.

Dalam Islam, riba dianggap sebagai penyebab krisis ekonomi, pemicu ketidakadilan ekonomi.

Penyebab ketidakseimbangan antara sektor riil dan keuangan (inflasi), penghambat pertumbuhan ekonomi, dan punca timbulnya konflik sosial-ekonomi.

Baca Juga Artkel Menarik Lainnya: Walikota Banda Aceh akan Cambuk Rentenir

Riba juga menghambat usaha produktif, penghalang inovasi, dan aktivitas wirausahawan (entrepreneurship).

Menyebabkan alokasi sumber daya yang tidak efisien, memicu ketimpangangan ekonomi dan berbagai penyakit ekonomi lainnya.

Pelaksanaan Qanun LKS adalah strategi jitu untuk memerdekakan Aceh sepenuhnya dari riba.

Misi suci ini tidak boleh ditunda lagi. Untuk itu, perlu dukungan padu semua pihak, di samping ke-istiqamah-an pemerintahan Aceh.

Semoga dalam hitungan hari, Aceh benar-benar merdeka dari belenggu riba dan masyarakat Aceh dapat menikmati rahmat ekonomi yang lebih berkeadilan. (*)

(Penulis Adalah Guru Besar Ekonomi Islam, Universitas Syiah Kuala)