Kenapa Pemakan Riba Sama dengan Orang yang Menzinahi Ibunya? Inilah Alasannya

Rasulullah SAW bersabda: “Riba memiliki tujuh puluh tingkat, dan yang paling rendah adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibnu Majah).
Bank Syariah
Prof Dr Shabri A. Majid, M.Ec. Dok. Acehsatu.com

Dosa si pemakan riba itu sama dan bahkan lebih besar dibandingkan dengan dosa seorang lelaki yang memerkosai ibunya.

Rasulullah SAW bersabda: “Riba memiliki tujuh puluh tingkat, dan yang paling rendah adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibnu Majah);

“…dosa seseorang yang memakan riba lebih besar dibandingkan dengan dosa seorang lelaki yang berzina dengan ibunya sendiri.” (H.R. Bukhari).

Hadist senada berbunyi: “Satu Dirham riba yang diterima seseorang dan dia mengetahuinya adalah lebih jelek dibandingkan dengan melakukan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad and Daruqutni).

Hadis lain menyebutkan bahwa: “Allah SWT tidak membenarkan empat golongan untuk mencium bau syurga apalagi memasukinya.

Mereka adalah peminum minuman keras secara terus menerus, pemakan riba, pemakan harta anak yatim, dan pendurhaka kepada kedua orang tuanya.” (Mustadrak al-Hakim, Kitab al-Buyu).

Karena dahsyatnya dampak riba terhadap perokonomian umat.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya: Penundaan Qanun LKS Tidak Logis

Maka Rasulullah sendiri dalam khutbahnya yang terakhir sebelum beliau wafat, kembali mengingatkan umatnya agar menjauhi riba.

Tidak hanya si pemakan riba yang diganjarkan dosa besar, pemberi dan pencatat transaksi riba juga berdosa besar.

Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT melaknat orang yang membayar dan menerima riba, dan saksi yang mencatatnya. Mereka semuanya adalah sama (berdosa).” (HR. Tirmidhi dan Ahmad).

Ini persis seperti kata bijak ureung tuha yang menyebutkan: “Si péh bajoe, si mat taloe, si duk kedroe, saban desya” (Pemukul pasak, Pemegang tali, dan Penonton sama dosanya).

Hadist ini memberi sinyal bahwa kita yang menonton praktik riba di Aceh juga ikut berdosa jika tidak melarangnya!

Jika kita tidak mau dianggap ikut berdosa, maka kita harus berpartisipasi aktif untuk melarangnya.

Ramai yang mahfum bahwa makan riba itu berdosa besar dan bahkan dosanya itu disamakan dan bahkan lebih besar dari dosa seseorang yang menzinahi ibunya (dosa anak perempuan yang menzinahi bapaknya?).

Namun mengapa dosa pemakan riba disamakan dan bahkan lebih besar dari dosa seseorang yang menzinahi orang tuanya?

Mengapa dosa memakan riba tidak disamakan dengan bentuk jenis dosa besar lainnya, seperti merampok, berjudi, dan membunuh?

Kalaulah memakan riba itu dianggap memakan harta orang lain dengan sepengetahuan pemiliknya atau secara batil, mengapa dosa memakan riba tidak disamakan dengan dosa mencuri atau merampok?

Sebuah pertanyaan menarik, tapi tidak mudah untuk dijawab.

Pada tahun 2007, Azeemuddin Subhani yang memiliki pengalaman 30 tahun bekerja sebagai Penasehat Keuangan Menteri Perminyakan, Arab Saudi berhasil menamatkan PhD-nya di bidang Hukum Islam dan Keuangan di Universitas McGill, Kanada.

Dalam disertasinya, Dr Subhani mengkaji pelarangan riba dalam perspektif linguistik (bahasa).

Ia menawarkan definisi dan perspektif baru terhadap konsep riba.

Kerena menariknya disertasi yang ditulis Subhani, Harvard Law School, Amerika Serikat telah mengundangnya untuk mempresentasikan dan bahkan membukukan hasil penelitian Subhani tersebut di Universitas tertua di dunia itu.

Di antara isu menarik yang diulas Dr Subhani dalam disertasinya adalah mencari jawaban Hadist Sahih yang mengasosiasikan dosa pemakan riba sama dan bahkan lebih dashyat dari dosa seseorang yang menzinahi ibunya.

Kata riba bermakna tumbuh, bertambah, dan berkembang.

Orang yang memungut riba, berarti menumbuhkembangkan uangnya dari uang itu sendiri secara haram (peu meu-aneuk bajeung peng) atau “mengharam anak-jadah-kan uang”.

Atau Aristoteles menyebutkannya sebagai “money begets money” atau “money creates money” (uang menciptakan uang).

Begitu juga seorang yang menzinahi ibunya adalah sebuah tindakan untuk menciptakan dirinya sendiri (self-generation) dari “air mani” yang sama dan dilahirkan oleh “”ibu yang sama”.

Islam mengasosiasikan dosa riba dengan dosa perzinahan dengan orang tua sendiri kerena terletak pada kesamaan “proses” dan “hasil” akibat praktik riba dan perzinahan dengan orang tuanya sendiri, yang disebut dengan “self-generation” itu.