Kenapa Hong Kong Begitu Penting bagi China, Jawabannya Lihat 4 Fakta Berikut Ini

ACEHSATU.COM – Posisi Hong Kong bakal tak sebebas sebelumnya. Pemerintah China di Beijing akan menerapkan Undang-undang Keamanan Nasional di Hong Kong yang sekali lagi mencerminkan bahwa otonomi kota administrasi China ini memang sudah bisa dikompromikan.

Pemerintahan Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang kembali ke pemerintahan China pada tahun 1997 ini berjalan berdasarkan prinsip “satu negara, dua sistem”.

Mekanisme ini memungkinkan Hong Kong mendapatkan beberapa kebebasan yang tidak dapat dinikmati oleh kota di China daratannya lainnya, seperti adanya kekuasaan pemerintahan sendiri, hak pemilihan terbatas, hak penggunaan mata uang sendiri (dolar Hong kong), dan sistem hukum yang sebagian besar bersifat independen.

Otonomi yang diberikan oleh China mendukung posisi Hong Kong sebagai pusat keuangan dan bisnis global. Ini juga yang menjadi alasan mengapa AS, yang membuat UU khusus Hong Kong, juga memperlakukan wilayah ini secara berbeda dari kota-kota China lainnya.

Tetapi dengan penerapan UU Keamanan Nasional, maka status khusus Hong Kong sekarang berada di bawah ancaman.

Ekonomi

Namun tak bisa ditampik, tetap saja, Hong Kong masih menjadi pintu gerbang penting antara China dan ekonomi di seluruh dunia. Kondisi ini membuat posisi Hong Kong kemungkinan akan tetap bertahan seperti ini dalam beberapa waktu ke depan, meskipun kontribusi Hong Kong terhadap pertumbuhan ekonomi China sudah berkurang selama bertahun-tahun.

“Jujur saja, saya pikir [kebebasan seperti] Hong Kong akan sulit untuk ditiru di tempat lain di (China). Saya pikir masuk akal untuk menggandakan visi besar Hong Kong yakni ‘satu negara, dua sistem’,” kata Kurt Tong, mantan konsul jenderal AS untuk Hong Kong dan Makau, kepada CNBC dalam program “Squawk Box Asia” awal Juni, dilansir CNBC, Jumat (19/6/2020).

Berikut adalah beberapa grafik yang menunjukkan beberapa alasan mengapa Hong Kong begitu penting bagi China, seperti dilansir CNBC.

1. Pasar modal terbuka

Salah satu ciri paling jelas yang memisahkan Hong Kong dari wilayah China lainnya adalah posisinya sebagai ekonomi yang bebas dan terbuka. Keunggulan ini memungkinkan HK bisa menarik dana dari berbagai belahan dunia lebih efisien ketimbang kota-kota China daratan lainnya yang tunduk pada kontrol pemodal.

Akibatnya, makin banyak perusahaan China mengambil keuntungan dari akses Hong Kong ke investor global dalam hal pendanaan.

Keuntungan ini telah membantu Hong Kong menjelma menjadi pasar utama dunia untuk penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dalam 7 dari 11 tahun terakhir, termasuk pada 2019 ketika Hong Kong didera protes pro-demokrasi yang meluas dan berpotensi memicu kekerasan.

Perusahaan China yang telah tercatat di Bursa Hong Kong di antaranya termasuk raksasa teknologi Alibaba dan JD.com.

“Kota ini juga menjadi pintu gerbang bagi investor China untuk berinvestasi di perusahaan internasional,” kata Charles Li, Chief Executive Officer (CEO) Bursa Efek Hong Kong.

 

Foto: IPO China dan HK/CNBC
IPO China dan HK/CNBC

Posisi yang diraih Hong Kong ini bakal tetap bertahan dengan catatan akan lebih banyak perusahaan asing bisa menjual saham dalam IPO kepada investor di China daratan melalui pencatatan di Bursa Hong Kong.

“Ketika itu terjadi [IPO marak], kita akan melihat arus yang sangat, sangat berkelanjutan dari perusahaan-perusahaan asing yang ingin terdaftar [listing di bursa] di sini karena mereka dapat langsung menjual [saham] ke China, yang masih merupakan basis pemilik modal,” kata Li kepada Emily Tan dari CNBC pada Rabu (17/6/2020).

Bursa Efek Hong Kong, Shanghai dan Shenzhen juga dihubungkan melalui program yang disebut stock connect. Hal ini memungkinkan investor untuk berdagang/trading, melalui pertukaran broker sekuritas yang mereka pilih.

2. Yuan Tiongkok menjadi global

Status Hong Kong sebagai pusat keuangan dan bisnis global juga membantu Tiongkok mempromosikan penggunaan mata uang, renminbi, atau yuan China yang lebih besar lagi secara global.

Wilayah Hong Kong, yang memiliki mata uang sendiri yakni dolar Hong Kong, adalah salah satu dari sedikit tempat di mana yuan diperdagangkan di luar China daratan.

Data terbaru dari Bank for International Settlements (BIS), lembaga keuangan yang melayani bank sentral di seluruh dunia, menunjukkan bahwa Hong Kong adalah pasar terbesar di dunia untuk transaksi valuta asing (valas) yang melibatkan yuan China.

 

Foto: Renminbi/CNBC
Renminbi/CNBC

Kondisi ini memberi HK keunggulan dibanding kota pusat-pusat keuangan utama lainnya, seperti Singapura dan London, dalam menarik investor yang ingin memperdagangkan renminbi.

Omzet harian rata-rata transaksi yuan tersebut di HK naik 39,6% dari US$ 77,1 miliar pada April 2016 menjadi US$ 107,6 miliar pada April 2019. Data ini dikumpulkan oleh BIS, yang diterbitkan setiap 3 tahun.

3. Investasi luar negeri China

Peran Hong Kong sebagai perantara antara China dan dunia tidak berhenti di situ. Ketika perusahaan-perusahaan China memperluas investasi mereka di luar negeri, banyak dari aliran uang itu dialihkan melalui Hong Kong untuk “mengambil keuntungan dari peraturan yang menguntungkan di wilayah itu, dan layanan profesional yang tersedia,” tulis lembaga think-tank, Peterson Institute for International Economics yang berbasis di Washington.

“Sejumlah besar investasi China tidak tetap di Hong Kong, dipulangkan ke China sebagai keuntungan, atau dikirim ke tempat lain di seluruh dunia,” tulis Peterson.

Biro Statistik Nasional China melaporkan, pada 2018, Hong Kong menyumbang sekitar 55,5% dari total investasi langsung luar negeri China, meskipun proporsi itu lebih rendah dari satu dekade lalu. Data menunjukkan jumlah investasi tumbuh secara substansial selama bertahun-tahun.

4. Memfasilitasi perdagangan

Pembukaan perdagangan China dan masuknya Hong Kong ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengurangi pentingnya Hong Kong dalam memfasilitasi perdagangan barang antara China daratan dan dunia.

Tapi peran HK menjadi penting saat terjadi puncak perang perdagangan AS-China, ketika kedua negara sama-sama menyoroti tarif yang tinggi pada produk masing-masing negara.

“Hal itu [terjadi] karena aturan penjualan pertama yang mengatur bagaimana AS menerapkan tarif impornya,” kata Iris Pang, Kepala Ekonom untuk China daratan di bank Belanda ING.

Di bawah aturan penjualan pertama tersebut, ekspor ke AS yang bertujuan ke lebih dari satu negara akan mendapatkan perhitungan tarif berdasarkan harga transaksi pada leg pertama, jelas Pang.

“Misalnya, ketika eksportir China menjual barang ke eksportir kembali Hong Kong dengan harga lebih rendah, maka eksportir Hong Kong (misalnya, anak perusahaan dari perusahaan China daratan yang berlokasi di Hong Kong) menjual dengan harga yang lebih tinggi ke importir AS, tarif akan didasarkan pada transaksi pertama,” kata Pang.

“Karena itu, tarif yang dibayarkan dapat diturunkan ketika ada throughput [bongkar muat] melalui Hong Kong,” tambahnya.

Departemen Perdagangan dan Industri di AS mencatat, pada 2018, ketika perang dagang pecah antara Washington dan Beijing, sekitar 8% dari ekspor China daratan ke AS dan sekitar 6% dari impor China daratan dari AS dialihkan melalui Hong Kong.

Tetapi Pang mengatakan “aturan penjualan pertama” mungkin tidak berlaku lagi jika Hong Kong kehilangan status khusus yang disebutnya di bawah hukum AS.

AS memperlakukan kota itu sebagai wilayah pabean yang terpisah dari China, yang memungkinkan Hong Kong memiliki hak-hak tertentu termasuk pembebasan tarif tinggi yang dikenakan AS terhadap China dalam perang dagang.

Sekretaris Negara AS Mike Pompeo menyatakan pada Mei lalu bahwa Hong Kong tidak lagi otonom dari China. Setelah itu, Presiden Donald Trump mengatakan dia akan mulai mengambil langkah-langkah untuk mencabut status perdagangan yang disukai di Hong Kong itu dengan AS, tapi tanpa memberikan perincian tentang pencabutan seperti apa yang diperlukan. (*)