Kenali Kepemimpinanmu, Apakah Tergolong Visioner?

ACEHSATU.COM – “Salah satu ciri pemimpin visioner adalah dapat melewati keraguan orang yang meragukannya. Lalu akhirnya membuktikan bahwa semua orang yang menyalahkannya salah.” kalimat bijak tersebut saya kutip dari akun Babe Fahri Hamzah pada Sabtu, (18/01/2020).

Sangat menarik bagi saya ketika membaca tulisan sederhana itu dari seorang mantan wakil rakyat di DPR. Sosok Fahri Hamzah yang saya kenal sangat berapi-api ketika berbicara saat menyampaikan ide atau gagasan. Bahkan menjadi sangat garang manakala bila mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Ketertarikan saya terutama tertuju pada pesan kepemimpinan yang disampaikan. Pesan esensialnya sangat terkait dengan kemampuan seorang pemimpin untuk melihat jauh kedepan.

Pemimpin yang memiliki daya jangkau di masa depan untuk membawa kemajuan bagi orang-orang maupun organisasi yang dipimpinnya.

‘Pemimpin visioner.’ Begitulah sebutan yang lazim dipahami secara umum. Merupakan gambaran kualitas seorang leader dalam kapasitas ia sebagai “kompas” menuju masa depan. Ibaratnya ia memiliki pandangan yang jelas untuk meraih sebuah harapan.

Dalam hal ini, tentu pemimpin yang visioner bukan semata mampu meyakinkan kelompok pendukungnya, melainkan piawai berkomunikasi secara lintas sektoral dan bersinergi dengan banyak pihak untuk membangun kepercayaan (trust building).

Dr Gun Gun Heryanto dalam artikelnya menuliskan pada era seperti sekarang ini, tak cukup bergerak sendirian. Pemimpin harus mampu membangun semangat kekitaan dalam prinsip kebersamaan, bukan keakuan atau ego personal maupun kelompok.

Selanjutnya untuk mewujudkan visi tersebut seorang pemimpin perlu membekali (punyai) dirinya dengan karakter-karakter yang menjunjung tinggi integritas. Sikap mental ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kerja sama seluru tim.

Apabila pemimpin gagal menunjukkan integritas kepada seluruh bawahan apalagi sampai terbukti tidak memiliki integritas maka orang-orang akan kehilangan respek terhadap pemimpin mereka. Saat ini terjadi, kinerja organisasi untuk mewujudkan visi mulai terganggu.

Bila seorang pemimpin bukan seorang yang visioner, maka ia hanya akan terjebak kepada interpretasi dari fenomena seperti yang sekarang sering terjadi, dimana dengan kekuasaan yang dimilikinya dia bisa menjerat seseorang.

Ketika kekuasaan menjadi yang utama dan agung bagi seorang pemimpin, maka kredibilitas mulai mengalami erosi.

Pada fase inilah biasanya mulai muncul keraguan dari berbagai lapisan terhadap sosok pemimpin yang dicap sebagai “bos”. Keraguan terhadap nilai integritas yang dimiliki oleh sang bos.

Menurut Gardner, ada tiga narasi penting yang menekan urgensi visi kepemimpinan, yakni “menciptakan pandangan hidup masyarakat, mengangkat orang keluar dari kepicikan dan mengejar tujuan….”.

Tulisan ini mengantarkan kita pada intisari kepemimpinan yang unggul, yakni mereka yang memiliki kredibilitas dan visi.

Kredibilitas seorang pemimpin bersentuhan dengan integritas, autensitas atau nurani kepemimpinan, sedangkan visi adalah “mata” jati diri seorang pemimpin.

Pemimpin yang kredibel tanpa visi sama seperti katak di bawah tempurung, tidak pernah bisa melihat cakrawala yang membentang dan menembus batas-batas kekinian.

Mata nuraninya mungkin jernih, tetapi tidak bisa melihat dunia luas, dunia yang akan datang.

Pemimpin yang visioner tetapi tidak kredibel adalah seperti badut di atas panggung sirkus. Opini-opininya hanya bisa menembus angkasa, membentang jauh melampaui zamannya, namun nuraninya yang keruh selalu mengekang langkah kakinya.

“Jangan memburu bayangan, sehingga lepas apa yang sebenarnya hendak ditangkap.”

Pemimpin yang kredibel tanpa visi hanyalah bayangan kosong, dan pemimpin visioner yang tidak kredibel hanya mampu memberikan bayangan kosong. (Bahron Ansori, 2013).

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa pemimpin visioner yang efektif adalah mereka yang memiliki integritas, kredibilitas, dan piawai dalam membangun organisasi dengan nilai-nilai dan pandangan hidup.

Sebaliknya, mereka bukanlah sosok penguasa yang gemar mengancam, mengadu domba, menghina, dan memaksa kehendak demi ambisi pribadi dengan mengatasnamakan pemimpin.

Dengan begitu, semua apa yang ditegaskan oleh Fahri Hamzah melalui status Babe nya dapat dinyatakan, yang pada akhirnya semua orang yang tadi menyalahkannya akan membenarkan kesalahan mereka sendiri. Apakah Anda siap? (*)