Kemiskinan Dapat Dientaskan Apabila Pemangku Kepentingan Adil dan Jujur

Dalam perspektif ekonomi kehidupan itu dipandang dinamis yang selalu bergerak dan berubah dari waktu ke waktu sepanjang para pelaku kehidupan itu sendiri terus bergerak menggapai tujuannya.
Dr Zainuddin, SE,M.Si Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh

Publikasi Aceh Termiskin di Sumatera

Oleh: Dr. Zainudin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Ada publikasi yang menyatakan Provinsi Aceh menjadi termiskin di Sumatera mendapatkan respon beragam, baik dari masyarakat umum maupun masyarakat akademis.

Namun yang mengejutkan ada papan bunga ucapan selamat atas prestasi yang diraih oleh provinsi paling barat Indonesia.

Berita ini seakan-akan sebagai pukulan telak atas jargon bahwa Aceh merupakan daerah modal dengan kandungan sumber daya alam (SDA) yang melimpah yang dimilikinya.

Tapi itu semua semestinya harus disikapi dengan ilmiah pula atas apa yang dipublikasi oleh yang mempublikasi bahwa Aceh termiskin sesumatera, tidak perlu mempelintir dan emosi berlebihan seakan-akan seperti dunia bakal terbalik.

Dalam perspektif ekonomi kehidupan itu dipandang dinamis yang selalu bergerak dan berubah dari waktu ke waktu sepanjang para pelaku kehidupan itu sendiri terus bergerak menggapai tujuannya.

Pada dasarnya variabel kemiskinan merupakan variabel endogen yang banyak dipengaruhi oleh variabel eksogen yang lain, dan untuk menetralisir kemiskinan itu sendiri identik dengan bagaimana kemudian harus terciptanya pertumbuhan yang merata (rata-rata) pada setiap anggota/keluarga masyarakat yang ada di Aceh.

Berbicara pertumbuhan untuk menetralisir kemiskinan, mengingatkan kita pada sebuah model ekonomi yang cetuskan oleh  Solow (Solow growth model) yang memasukan tiga variabel eksogen utama, yaitu Capital (K), Labor (L) dan Knowledge atau efesisnsi tenaga kerja (A) untuk terciptanya suatu pertumbuhan ekonomi.

Nah, jika kita merujuk pada Solow model kira-kira bagaimana dengan yang dimiliki oleh Aceh.

Jika kita melihat variabel capital yang dimilki Aceh tentu terbayang bumi Aceh dan isi alam yang luar biasa dapat diandalkan bahwa kiranya Aceh memiliki modal berupa sumber daya alam yang boleh dikatakan tersedia untuk dieksplor demi peningkatan ekonomi umat.

Tetapi yang menjadi kendala adalah pada modal pada sisi yang lain semisal tidak memiliki dana (investasi) dan teknologi itu sendiri yang dibutuhkan untuk mengubah sumber daya alam menjadi bernilai ekonomi.

Selanjutnya, bagaimana dengan labor atau tenaga kerja manusia (SDM) yang tersedia di Aceh sudah memiliki etos kerja yang disiplin dengan semangat pantang menyerah pada usaha produktif, tentu yang bisa menjawab tentang etos kerja ini adalah para penghasil tenaga kerja itu sendiri.

Sekilas tentang tenaga kerja yang tersedia di Aceh jika dihubungkan dengan keberadaan perguruan tinggi yang menjamur hampir disetiap tingkat dua tentu kita akan berkesimpulan bahwa tenaga kerja di Aceh berkualitas.

Tetapi hal ini tidak terjadi karena terbukti tidak ada kreativitas yang dapat diandalkan dari tenaga kerja yang dihasilkan oleh perguruan tinggi di Aceh yang bersifat industri atau bisa terciptanya kawasan-kawasan industri demi menciptakan pertumbuhan ekonomi, hal ini sangat juga tergantung dengan variabel capital yang ada.

Kemudian, bagaimana dengan variabel ilmu pengetahuan yang bisa terciptanya efesiensi dalam produksi, hal ini sifatnya bisa global dan paling tidak sudah terjadi di Aceh semisal pada bagaimana dunia pertanian yang telah menggunakan teknologi tiinggi sehingga untuk bertani itu bisa dilakukan seefisien mungkin. 

Disamping variabel-varabel yang ada pada model Solow, ada variabel yang paling menentukan untuk terciptanya pertumbuhan ekonomi secara merata untuk menetralisir kemiskinan, yaitu variabel keadilan dan kejujuran.

Variabel keadilan dan kejujuran terutama harus ada pada pemangku kepentingan atau pada elemen yang kehidupannya ditanggung oleh Negara, maknanya  mereka harus memiliki sifat keadilan dan jujur dalam mengelola budget yang dimiliki oleh Aceh, dan mereka harus benar-benar sebagai pengabdi Negara bukan sebagai pembisnis.

Artinya bahwa setiap budget yang ada harus benar-benar untuk kemakmuran rakyat bukan hanya untuk kemakmuran koroni-kroninya dan tidak di korupsi.

Jika variabel keadilan dan kejujuran dipraktikan, maka kekuarangan dari variabel yang di model Solow bisa ditutupi.

Sehingga, bukan tidak mungkin kemiskinan di Aceh akan terentaskan dan publikasi tahun depan bukan lagi termiskin melainkan termakmur Insya Allah.

Berikhtiar itu wajib dan soal hasil itu urusan taqdir Allah, orang beriman tidak takut miskin tapi yang ditakuti memenuhi nafkah dengan yang tidak halal. Amiin. (*)

(Penulis adalah Akademisi FE USM)