Banda Aceh

Kelompok Bersenjata asal Myanmar Belajar Perdamaian di Aceh

 

Johnny dan Luther Htoo dan pasukan suku Karen God's Army yang dipimpinnya di kamp militer di Myanmar. Pasukan yang berperang secara gerilya ini harus melawan pasukan dari Thailand dan Myanmar sejak tahun 1990an. (PIXNET.COM)

Johnny dan Luther Htoo dan pasukan suku Karen God’s Army yang dipimpinnya di kamp militer di Myanmar. Pasukan yang berperang secara gerilya ini harus melawan pasukan dari Thailand dan Myanmar sejak tahun 1990an. (PIXNET.COM)

Laporan Riswan Haris

ACEHSATU.COM, BANDA ACEH – Tiga kelompok etnik bersenjata (Ethnic Armed Organizations- EAOs) asal Myanmar berkunjung ke Aceh untuk bertemu dengan beberapa tokoh dan organisasi di Aceh.

Kegiatan itu berlangsung sejak tanggal 14 hingga 20 Februari 2016 digunakan sebagai media belajar memahami tentang proses perdamaian, pencapaian selama ini dan tantangan yang dihadapi bagi perdamaian berkelanjutan.

Karen sendiri merupakan kelompok bersenjata yang sudah menandatangani perjanjian gencatan senjata nasional (National Ceasefire Agreement, NCA) Myanmar, yang terdiri dari Karen National Union/ Karen National Liberation Army (KNU/KNLA), Democratic Karen Benevolent Army (DKBA), dan Karen National Union/ Karen National Liberation Army Peace Council (KNU/KNLA PC).

Kelompok ini mempelajari pengalaman Aceh terkait tahapan-tahapan dalam transisi dan transformasi dari pejuang kemerdekaan yang kemudian menjabat posisi penting di pemerintahan.

Pada hari Selasa, 15/2/2016, kelompok bersenjata Karen mengunjungi kantor Wali Nanggroe dan diterima langsung oleh Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haydar.

Pada kesempatan itu, Wali Nanggroe memaparkan perjuangan Aceh, konflik Aceh serta proses perdamaian Aceh yang telah diinisiasi sejak tahun 1999 yang difasilitasi oleh Henry Dunant Centre dan sempat mengalami proses maju dan mundur hingga sekarang yang ditandai dengan perjanjian damai di Helsinki, Finlandia.

Dalam proses menuju damai Aceh terdapat banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi, hamper sama dengan konflik Myanmar yang saat ini sudah mulai memasuki fase damai, namun masih ditemui beberapa tantangan.

Wali Nanggroe menganjurkan kepada para pihak yang berkonflik, kelompok bersenjata di Myamar untuk mengikuti cara-cara melalui meja perundingan atau dialog.

“Jika anda melakukan dialog maka Anda akan mendapat dukungan dari rakyat dan juga komunitas internasional” papar Malik Mahmud.

Disampaikan Wali, dulu pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berfikir tidak ada solusi lain selain dengan berperang, namun ternyata ada harapan solusi lain yaitu melalui dialog yang ternyata dapat membawa damai yang berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak.

Pada akhir diskusi wali nanggroe berharap kelompok-kelompok bersenjata ini dapat bersatu agar dapat menjadi lebih kuat dan dianggap penting oleh pemerintah nasional. Kelompok Karen juga diharapkan dapat mengambil kesempatan berdialog agar tercapainya perdamaian dan mengambil keuntungan.

“Perdamaian ini bukan hanya untuk kelompok Karen tapi juga untuk rakyat Anda” pungkas Malik Mahmud.

Selain berdiskusi dengan Wali Nanggroe, grup bersenjata ini juga akan belajar dan berdiskusi secara intensif dengan Gubernur Aceh, Walikota Banda Aceh, para mantan kombatan dan anggota GAM, anggota partai lokal di Aceh, akademisi, LSM, organisasi masyarakat sipil, media, dan pihak-pihak yang pernah berkontribusi dalam proses perdamaian Aceh sejak era tahun 1999.

Kelompok bersenjata terdiri dari 15 pejabat tinggi dan sayap militer kelompok Karen yang dipimpin langsung oleh Jenderal Isaac Po, dalam kunjungannya didampingi oleh staf dari Center for Peace and Conflict Studies dan bekerjasama dengan lembaga riset International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), sebuah lembaga riset berpusat di Aceh di bawah Unsyiah, UIN Ar- Raniry dan Unimal.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top