oleh

Kejutan ‘Jual-Beli’ Jabatan: Rommy Beri Arahan, Menag Pasang Badan

-Nasional-78 views

ACEHSATU.COM – Dalam lembaran surat dakwaan yang disusun jaksa KPK, ada kolaborasi Romahurmuziy (Rommy) dengan Lukman Hakim Saifuddin. Dalam kerja sama keduanya, bahkan Lukman rela ‘pasang badan’. Untuk apa?

Hal tersebut terungkap dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan terdakwa Haris Hasanuddin. Haris merupakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur (Kanwil Kemenag Jatim) yang didakwa menyuap Rommy dan Lukman.

Romahurmuziy dan Menag Lukman Hakim (Foto: dok detikcom)

Bermula dari keinginan Haris mendapatkan jabatan tersebut tapi terkendala persyaratan administrasi, yaitu tidak pernah mendapatkan sanksi disiplin dalam 5 tahun terakhir. Sedangkan Haris pernah dijatuhi sanksi pada 2016. Singkat cerita, Haris berupaya mendekati Lukman melalui Rommy demi mendapatkan jabatan itu dan gayung pun bersambut.

“Pada tanggal 1 Maret 2019, Lukman Hakim Saifuddin menghubungi Janedjri M Gaffar selaku Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan berkonsultasi mengenai cara untuk tetap mengangkat terdakwa sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur,” kata jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan.

Dari konsultasi tersebut, Lukman tetap akan mengangkat Haris dalam jabatan itu. Dalam perjalanannya, Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sempat menyampaikan kepada Lukman mengenai adanya ketidaksesuaian antara persyaratan umum seleksi terbuka dan hasil seleksi administrasi karena terdapat dua peserta seleksi, yaitu Haris Hasanuddin dan Anshori, yang ternyata keduanya pernah mendapatkan hukuman disiplin PNS pada 2015 dan 2016.

“Atas temuan itu, KASN merekomendasikan kepada Menteri Agama untuk membatalkan kelulusan kedua orang tersebut,” ucap jaksa.

Namun Lukman jalan terus. Dia tetap mengangkat Haris untuk jabatan tersebut. Haris pun memberikan total Rp 70 juta kepada Lukman atas bantuannya.

“Tanggal 1 Maret 2019 di Hotel Mercure Surabaya, terdakwa melakukan pertemuan dengan Lukman Hakim Saifuddin. Dalam pertemuan tersebut, Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan ia ‘pasang badan’ untuk tetap mengangkat terdakwa sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur,” ujar jaksa.

Namun apa yang disebut suap oleh jaksa itu ditepis. Jadi apa?

Adalah pengacara Haris, Samsul Huda Yudha, yang menepis anggapan bahwa Lukman ‘pasang badan’ seperti tertera dalam dakwaan.

“Nggak pernah ada (pasang badan) itu,” kata Samsul seusai persidangan.

Bahkan Samsul menyebut suap seperti di dalam dakwaan bukanlah suap. Lalu apa?

“Yang ada itu bentuk tradisi lama yang diambil bahasa Arab, namanya bisyaroh, yang artinya itu menggembirakan,” kata Samsul.

Samsul menyebut bisyaroh dalam lingkup pondok pesantren sebagai tanda terima kasih. Samsul juga menyebut uang yang diberikan Haris kepada Lukman adalah hasil patungan dari seluruh kepala kantor wilayah Kemenag di Jawa Timur.

“Untuk Rp 50 juta tanggal 1 Maret di Kemenag Kanwil Jatim itu bukan dari uang Pak Haris, melainkan dari seluruh kepala kantor, urunan untuk hormati Pak Menag yang datang dan itu sudah berlangsung lama, kebiasaan atau tradisi atau bisyaroh kepada pimpinan yang hadir,” ucap Samsul.

Namun jaksa menepisnya. Jaksa mengatakan bisyaroh yang diberikan berkaitan dengan jabatan.

“Bisyaroh itu kan istilah bantuan atau ucapan terima kasih. Tapi kan kita tidak bisa melepaskan antara bisyaroh itu dan jabatan Menteri Agama, apalagi momennya adalah ketika terdakwa akan maju sebagai Kepala Kanwil,” ujar jaksa KPK Wawan Gunawarto.

“Jadi kita tak bisa melepaskan itu bisyaroh dan jabatan itu. Pasti ada kaitannya dengan jabatan itu,” imbuh jaksa Wawan.(*)

Komentar

Indeks Berita