Kejanggalan Kontraktor Proyek Monas yang Diungkap Anggota DPRD DKI

ACEHSATU.COM – Anggota DPRD Jakarta William Aditya menduga bahwa proyek revitalisasi kawasan Monas dimenangkan oleh perusahaan yang kurang benefit. Pasalnya, kantor pemenang proyek itu berada di kawasan perkampungan wilayah Jakarta Timur.

Foto: Rifkianto Nugroho

Dia pun sudah mengungkapkan hal tersebut lewat akun Twitter-nya dan meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menjelaskan hal tersebut.

“Proyek di Monas sampai Rp 71,3 miliar Rupiah tapi pemenang tender lokasinya pas dicek di google map kok di perkampungan begitu? Bisa dijelaskan pak gub @aniesbaswedan,” cuit akun @willsarana seperti yang dikutip¬†detikcom, Jakarta, Selasa (21/1/2020).

BACA: Seorang Remaja Tewas Usai Foto-Foto di Air Terjun Ceuraceu

Revitalisasi kawasan Monas merupakan proyek dari Dinas Cipta Karya, Pertanahan, dan Tata Ruang Pemprov DKI Jakarta. Proyek yang menebang banyak pohon ini nilainya mencapai Rp 71,3 miliar, dimenangkan oleh PT Bahana Prima Nusantara.

William menyatakan, perusahaan yang menang tender besar itu seharusnya memiliki kualitas. Bahkan penempatan lokasi kantornya pun harus jelas. Sayangnya, saat dicek melalui website layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) miliki pemerintah tidak menunjukkan hal tersebut.

“Jadi kami menemukan, kami kan cek di website LPSE cek pengadaan, kita cek karena revitalisasi monas itu sedang ramai, gimana sih kejelasan proyek itu, kita lihat ternyata pemenangnya PT Bahana itu, kita cek alamatnya kok di perkampungan,” kata William saat dihubungi¬†detikcom.

Dia mengaku juga telah mendapat laporan bahwa lokasi kantor PT Bahana Prima Nusantara di Ciracas, Jakarta Timur itu gabung dengan usaha digital printing.

“Menurut saya harus yang bonafit dong perusahaannya,” tegas dia.

Oleh karena itu, tujuan dirinya mencuit atau mengungkapkan pemenang proyek revitalisasi Monas ini agar mendapat penjelasan dari Pemprov DKI Jakarta. Pasalnya, banyak anggota DPRD DKI Jakarta yang kaget serta tidak mengetahui profil perusahaan pemenang.

“Ya sekarang coba dijelaskan dulu kenapa bisa seperti itu, Rp 71,3 miliar itu kan besar, menurut saya perusahaannya harus benefit,” kata dia.

“Harusnya kantornya juga menunjukkan kualitasnya dong, masa lokasi di taruh begitu saja. beberapa media juga cek katanya gabung sama digital printing kantornya, itu kan semakin mencurigakan seperti itu,” tambahnya. (*)