Keindahan Alam Pidie Jaya, Potensi Pariwisata yang Terabaikan

Keindahan Alam Pidie Jaya, Potensi Pariwisata yang Terabaikan

Oleh: Dr. Zainuddin, SE.,M.Si.

Tulisan ini mencoba meraba prospek parawisata menurut kacamata penulis di kawasan Pidie Jaya (Pijay) yang terhampar luas dari pantai Selat Malaka hingga penggunungan Bukit Barisan menjanjikan berjuta keindahan dan tantangan dan tidak dalam menyinggung serta menyakiti pihak lain.

Masyarakat Pijay identik dengan Islam taat dan berkarakter sigoe khen, maknanya kemauan mempertahankan ide dan prinsip sangat kental dan konsekuen terhadap keyakinan sangat tinggi dan kelembutan hatinya bisa digali hanya dengan pendekatan agama (Islam).

Oleh sebab itu, hampir setiap kemukiman (wilayah adat yang terdiri dari beberapa desa) terdapat Masjid dan setiap desa terdapat Meunasah (Sebutan lain dari Surau).

Pada zaman tahun 1990 an kebawah semasa saya masih dikampung hampir setiap malam anak-anak muda baik laki-laki maupun perempuan melaksanakan pengajian (mengaji) di balee-balee beet maupun di rumah-rumah masing-masing, dan saya termasuk yang mengaji di rumah yang diajarkan oleh ibu (mak) saya berserta adik-adik saya dan beberapa tetangga.

Pada saat itu suara ngaji Alqur’an ba’da magrib silih berganti antara satu rumah dengan rumah lainya dan antara satu balee dengan balee lainnya, dan sangat indah dan syahdu terasa ingin kembali ke zaman itu.

Para orang tua dulu menempatkan dirinya sebagai orang tua kepada seluruh para remaja dan anak-anak yang ada dikampungnya dan bahkan kepada seluaruh anak-anak diluar kampungnya.

Sehingga para anak-anak menaruh hormat dan segan bila ketahuan tidak mengaji pada waktu mengaji.

Dengan kata lain saling mengingatkan dan mengajak pada kebajikan sangat terasa, sehingga dapat dipastikan generasi 1990 an di Pijay rata-rata pintar mengaji Alqur’an, dan semoga hingga sekarang pun begitu.

Penduduk Pijay bermata pencaharian sebagian sebagai petani, ada sebagai nelayan yang tinggal dipesisir utara (selat malaka), ada sebagian kecil sebagai pedagang atau saudagar, dan sebagaian kecil sebagai aparatur sipil.

Namun, yang sangat dominan penduduknya berprofesi sebagi petani, baik petani sawah maupun petani ladang dan rata-rata kehidupan ekonominya tidak termasuk kelas atas, akan tetapi tangguh dalam menafkahi tanggungannya.

Artinya tipikal orang tuan di Pijay kuhususnya Meureudu dan Meurah Dua sangat mengutamakan pendidikan anak harus lebih tinggi dari dirinya.

Sehingga tidak mengherankan hampir setiap rumah di Pijay ada satu malah lebih sarjana ditambah lagi ada yang lulus pondok hingga tujuh tahun atau dengan sebutan Teungku.

Maknanya, pola pikir orang-orang Pijay sebenarnya sudah global dan adjust dengan perkembangan zaman.

Takdir Allah SWT kepada Pijay dengan bujuran pantai dari barat dimulai dari kecamatan lueng putu hingga Kecamatan Jangka Buya tersedia begitu indah pasir pantai untuk dikemas menjadi tujuan tamasya bahari berkarakter syariah.

Sebut saja pantai di kampung halaman saya di Kecamatan Meureudu ada satu pantai yang indah sekarang diberi nama pantai manohara, pantai ini sebenarnya bisa dikemas oleh pemangku kepentingan dan masyarakat menjadi sangat bernilai ekonomi.

Dulu sebelum kejadian bencana siklus bumi berupa gempa bumi pantai tersebut katanya semarak dan saya juga pernah melihatnya, namun setelah terjadi gempa pantai itu ditutup dengan alasan bahwa keramaian akan mengundang bala atau bencana.

Sebenarnya, ketika alasan itu dikemukan oleh elemen masyarakat maka pemangku kepentingan bisa meluruskan, dimana tidak ada korelasi antara gempa dengan pariwisata.

Gempa bumi adalah siklus alami dan sudah takdirnya, karena pada ummat akhir zaman tidak ada pembalasan dosa langsung ditampakkan di dunia melainkan dosa akan diazab diakhirat kelak, artinya bukan berkmasud untuk dibenarkan berbuat dosa akan tetapi tempat pariwisata jangan ditutup tetapi di manage sesuai syariah.

Karena pada hakikatnya pariwisata itu mendatangkan kemakmuran, apalagi bila tempat tersebut sudah mendunia bakal dengan mudah penyelenggara publik di Pijay mengangkat rakyatnya hidup makmur karena sudah memiliki pendapatan berupa PAD.

Begitu juga saya mendengar bisik-bisik tentang tempat eksotis yang ada di Kemukiman Beuracan tepatnya di Alue Demam yang bakal bisa di manage sebagai tempat pariwisata bakal ditutup atau dilarang mengunjungi oleh tokoh masyarakat setempat dengan alasan akan akan terjadi pelanggaran syariat dan mengundang bala.

Bila pemikiran seperti itu diiyakan ini bertanda kita tidak mau berpikir kearah kemajuan, artinya bila tempat itu diasumsikan akan ada pelanggaran syariat maka yang dilakukan bukan menutup tetapi ada petugas pemantauan dan diedukasi serta dibuat aturan mainnya.

Dengan kata lain jika tikus mau dibunuh bukan rumah yang harus dibakar. Dan lagi-lagi harus dinyatakan tidak ada korelasi langsung antara keramaian periwisata dengan bencana.

Jika itu terkorelasi mungkin Bali sudah tenggelam dan situs-situs sejarah yang banyak dikunjungi sudah habis.

Kenapa pariwisata ini sengaja saya angkat, karena untuk mempromosikan daerah ke dunia luar sangat tepat dengan model pariwisata.

Dalam literatur ekonomi modern pariwisata menjadi kunci pembangunan ekonomi menuju kemakmuran, dan bila pandemi ini bisa dilewatkan akan booming turist dunia mencari tempat untuk tamasya.

Mungkin level kita tidak ke dunia internasional tetapi turis local saja dulu dengan model pariwisata syariah bisa mengenal Pijay dan dengan sendrinya terpromosi bahwa Pijay sudah aman dan damai.

Mengenai bagaimana itu diatur dan dipantau saya yakin seyakinya pemangku kepentingan memiliki pola dan tata cara tersendiri untuk diformulasikan karena di Pijay juga ada dinas yang khusus untuk itu, dan pemimpin disana bisa pariwisata ini untuk mendapatkan PAD nya (ya jika memerlukan pemikiran boleh untuk diajak untuk ikut memikirkan).

Bila tempat rekriasi sudah dikenal, maka dengan mudah sebenarnya untuk memberdayakan masyarakat sekitar untuk berproduksi barang-barang sebagai souvenir dan lain sebagainya, karena bukan tidak mungkin daerah Pijay akan dikunjungi oleh yang di luar Pijay.

Disinilah letak inovatif dan kreatifitas pemangku kepentingan memenage potensi yang ada dengan tata cara kita sebagai daerah syariah.

Mungkin tuisan ini tidak akan terurai secara detail tentang bagaimana meramu pariwisata agar menajadi nilai ekonomi yang dapat menguntungkan masyarakat itu sendiri.

Belum lagi kuliner Pijay yang memiliki kekhasan bisa dengan mudah dikenal bila hidupnya pariwisata.

Dengan demikian, pariwisata itu rahmat Allah SWT yang ditakdirkan untuk diubah menjadi bernilai ekonomi dalam bingkai syariah bagi orang-oarang yang mampu berpikir.

Bukankah istilah Aceh yang popular “bak lee  tapak gaki ureng disinan le rejeki”, oleh sebab itu berpikir cerdas itu perlu dalam membangun ekonomi umat.

Asumsikan saja yang berkunjung ituberiman semua dan pemangku kepentingan tetap mengedukasi nalai-nilai syariah sebagai tugas mensyiarkan nilai-nilai syariah itu sendiri.

Mungkin tulisan ini agak sedikit melawan arus dan itu tidak masalah dalam sebuah kehidupan demokrasi dan pemikiran radikal itu diperlukan untuk sebuah perubahan paradigma. Amiin.(*)

(Penulis Adalah Putra Pidie Jaya Berdomisili di Banda Aceh)