Opini

Kegalauan Guru antara Pujian dan Celaan

Suatu hal yang sangat miris, keburukan seorang guru sering didengungkan, tapi kebaikan, ketulusan dan prestasi guru jarang dibicarakan dan cenderung dilupakan.

Oleh Herawati

“Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru dalam Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja untuk Penguatan Pendidikan Karakter.”

Kalimat di atas adalah tema pada peringatan Hari Guru 25 November 2017. Kata demi kata dalam tema tersebut terkandung berbagai harapan ditujukan kepada guru Indonesia.

Guru, digugu dan ditiru, demikian kata–kata bijak yang sering penulis dengar dari masyarakat kita. Guru merupakan teladan bagi siswa dan lingkungannnya.

Namun, masyarakat sekarang menilai guru dengan sudut pandang yang kurang baik, sehingga muncul berbagai pertanyaan yang di tujukan untuk guru, diantaranya, benarkah guru sekarang dan guru zaman dulu sangat berbeda?

Benarkah guru sekarang tidak pantas lagi digugu dan ditiru? Dan benarkah guru sekarang tidak memiliki kedisiplinan dan etos kerja yang baik?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, maka penulis mencoba mengurainya dari sudut pandang penulis sebagai salah seorang guru.

Akan tetapi sebelumnya, penulis ingin mengurai sedikit sejarah lahirnya Hari Guru.

Lahirnya hari guru yang diperingati setiap tahun pada tanggal 25 November, diawali dengan lahirnya cikal bakal PGRI pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah dan Penilik Sekolah.

Kemudian pada tahun 1932 berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pada masa penjajahan jepang, sekolah ditutup, segala organisasi di larang termasuk PGI, sehingga segala aktivitas PGI menjadi padam.

Akhirnya, berlandaskan semangat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tepatnya setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 24 sampai 25 November 1945 para guru menyelenggarakan kongres guru Indonesia di Surakarta.

Dalam kongres tersebut, di sepakati juga seluruh guru Indonesia tergabung dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia yang disingkat PGRI.

Akan tetapi sungguh disayangkan, belum ada keputusan resmi dari pemerintah pada saat itu untuk menjadikannya  sebagai hari resmi nasional.

Sampai akhirnya pada tahun 1994, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan hari lahir PGRI pada  tanggal 25 November  sebagai hari guru nasional.

Dalam undang – undang guru dan dosen No. 14 tahun 2005 juga di tuliskan tentang penetapan hari guru pada setiap tanggal 25 November yang di peringati bersamaan dengan hari ulang tahun PGRI.

Sejak saat itulah hari guru di peringati setiap tahun dengan berbagai tema yang menarik dan berubah setiap tahunnya.

Tahun 2017 tema guru mengandung kata membangkitkan kesadaran kolektif guru, disiplin, etos kerja dan pendidikan karakter. Empat kata kunci tersebut mengandung makna yang sangat mendalam bagi seorang guru.

Penulis dapat sedikit memaknai arti dari tema tersebut adalah harapan pemerintah dan masyarakat pada guru agar dapat membangkitkan sikap kebersamaan dalam meningkatkan semangat mengajar,  mematuhi aturan – aturan dan norma – norma yang telah ditetapkan.

Tujuannya adalah untuk mendidik siswa agar memiliki karakter yang baik. Bagaimana mungkin anak didik akan memiliki karakter yang baik bila gurunya seorang “pembangkang” atas semua peraturan, perundang – undangan dan norma dalam masyarakat.

Pun begitu, guru itu juga manusia biasa yang tidak luput dari salah dan khilaf.

Masih kuat dalam ingatan penulis, beberapa bulan yang lalu, terjadi beberapa kehebohan di dunia pendidikan, diantaranya berita guru yang mencabuli siswa, guru yang dipensiunkan dini karena tidak masuk kerja, guru atau kepala sekolah yang terlibat korupsi dana BOS.

Begitu banyak berita miring yang menjadi viral baik di media massa atau media sosial.

Suatu hal yang sangat miris, keburukan seorang guru sering didengungkan, tapi kebaikan, ketulusan dan prestasi guru jarang dibicarakan dan cenderung dilupakan.

Guru yang mengajar di desa terpencil misalnya, dengan gaji yang sedikit, harus menempuh perjalanan yang sangat sulit, hidup dengan keterbatasan tapi tetap semangat menjalankan tugas walaupun mungkin tidak dapat memenuhi harapan pemerintah untuk mempunyai sikap disiplin yang tinggi.

Gajipun terkadang tertunda, demikian juga halnya dengan dana sertifikasi guru yang sering terjadi keterlambstan dalam pencairan, dan untuk mendapatkan dana tersebut harus memenuhi syarat administrasi yang begitu rumit.

Di antaranya jumlah jam mengajar tidak boleh kurang dari 24 jam tatap muka perminggu, data harus sudah valid di dapodik atau simpatika, tiga hari tidak masuk kerja, maka satu bulan dana sertifikasi melayang.

Begitu banyak syarat lainnya yang harus dipenuhi oleh guru bila ingin menikmati dana sertifikasi, kadang guru harus “gigit jari” untuk beberapa saat diantara banyaknya kebutuhan hidup.

Hal – hal yang demikianlah yang sering membuat beberapa oknum guru tidak memiliki disiplin serta etos kerja yang tinggi, ada juga guru yang mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi biaya hidup yang akhirnya berimbas segala pelanggaran aturan – aturan sekolah.

Disamping problema kelayakan gaji dan tunjangan, terdapat beberapa hal lain juga yang membuat guru melanggar kedisiplinan di lingkungannya, misalnya tidak adanya ketentraman dalam bekerja, tidak adanya pengakuan atau penghargaan atas prestasi guru, perlakuan yang tidak adil dari atasan, dan sarana yang tidak memadai di lingkungan sekolah.

Abad 21 adalah abadnya teknologi, guru pun dituntut menguasai semua teknologi, segala administrasi yang rumit harus dapat diselesaikan guru tepat pada waktu yang telah ditentukan, dari administrasi untuk mengajar berupa perangkat pembelajaran sampai administrasi kepegawaian guru itu sendiri.

Guru zaman sekarang sangat berbeda dengan guru zaman dulu, guru zaman dahulu hanya fokus mengajar dan mendidik siswa, admistrasi guru semuanya di selesaikan oleh staf tata usaha di instansinya.

Guru zaman sekarang harus mengejar waktu diantara jam mengajar yang full dengan update data online dan administrasi lainnya, sehingga waktu guru tidak lagi 100% tercurah untuk mengajar  serta mendidik siswa, sampai cenderung mengabaikan siswa demi mengejar target data yang harus segera selesai.

Guru manusia biasa, bukan Superman yang kuat dan tiada lelah, guru kadang – kadang jenuh dengan peraturan–peraturan yang sedikit memberatkan, guru dikejar rasa bersalah mengabaikan siswa untuk memenuhi target administrasi yang di bebankan.

Kemudian di akhir tahun apabila prestasi siswa tidak memenuhi target, maka kembali lagi guru harus menelan pil pahit dan menjadi kambing hitam atas kegagalan siswa.

Pada akhirnya, hanya segelintir oknum guru yang melanggar disiplin dan tidak memiliki etos kerja, akan tetapi banyak guru–guru yang masih menjunjung tinggi etika dan disiplin, berprestasi dan memiliki etos kerja yang tinggi sehingga menghasilkan siswa–siswa yang memiliki karakter yang baik.

Melalui momentum hari guru 25 November 2017, wahai guru Indonesia marilah kita bahu membahu mendidik anak bangsa, walaupun banyak rintangan dan kegaulauan yang dirasakan, di pundak kita semua harapan tertumpu akan cerahnya masa depan mereka, karena kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

(Herawati, S.Pd. Guru Matematika pada MtSN 9 Aceh Timur. Email: [email protected])

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top