Kasus Penyakit Rabies di Tamiang Menurun Drastis, Dinkes Ajak Masyarakat Jauhi Hewan Liar

Ilustrasi hewan liar. Foto Reki Ilham

Laporan Reki Ilham

ACEHSATU.COM | ACEH TAMIANG – Rabies atau yang dikenal juga dengan istilah “anj*ng gila” adalah infeksi virus pada otak dan sistem saraf.

Penyakit ini tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian, namun di Aceh Tamiang penyakit Rabies ini mulai menurun drastis.

Berdasarkan laporan yang di keluarkan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang kasus gigitan hewan penular rabies di tahun 2019 berjumlah 40 kasus dan tidak ditemukan kasus korban meninggal dunia.

Sementara itu, di tahun 2020 ini Kasus Rabies tersebut Turun drastis hingga bulan Agustus ditemukan hanya 10 Kasus dan juga tidak ditemukan kasus korban meninggal dunia.

Kepala Seksi P2PM Dinkes Kabupaten Aceh Tamiang, M Nuh saat diwawancarai wartawan Sabtu (3/9/2020) mengatakan, Pada Biasanya hewan liar yang sering menjadi ancaman dari kasus rabies ini.

Sebab, hewan seperti anjing dan Kera Liar yang sering menyerang manusia sedangkan untuk hewan peliharaan seperti Kucing apabila menyerang, gigitanya tidak sampai menyebabkan rabies terhadap mereka yang di gigit, karena biasa diberikan vaksin dan sering dibersihkan oleh pemiliknya.

Kendati begitu, Nuh menyebut, bukan berarti Kucing, Anjing, dan Kera yang dipelihara tidak dapat menyebarkan rabies kepada setiap manusia yang di gigitnya. Sebab, pada dasarnya rabies itu memang sudah menjadi bawaan dari tiga hewan itu.

Jumlah Kasus yang diungkap M Nuh ke Awak media itu merupakan Laporan data yang diterima dari 15 puskesmas yang berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang.

M Nuh juga mengungkapkan, Dari 15 Puskesmas yang berada dibawah wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, terdapat 10 puskesmas yang melaporkan kasus serangan dan gigitan hewan terhadap manusia yang terjadi di tahun 2019.

“Tertinggi pertama adalah Puskesmas Rantau, yakni sebanyak 10 kasus. Kemudian, Seruway sebanyak 7 kasus, sedangkan Puskesmas Manyak Payed, Karang Baru dan Simpang Kiri masing masing 5 kasus, Tamiang Hulu sebanyak 3 kasus, Kejuruan Muda sebanyak 2 kasus Dan terdapat 3 Puskesmas yang hanya memiliki 1 kasus, yakni Bendahara, Kualasimpang, dan Sapta Jaya, Sementara 5 puskesmas lainnya nol kasus “, ungkapnya.

Selain total jumlah kasus di tahun 2019 lebih tinggi dari tahun 2020 ini, Nuh juga menerangkan jika jumlah puskesmas yang tidak memiliki kasus, atau nol kasus di tahun 2020 ini berbanding terbalik dari tahun sebelumnya.

“Kalau tahun lalu, 10 puskesmas yang mempunyai kasus, dari 15 puskesmas. Sedangkan tahun ini, hanya 5 puskesmas yang memiliki kasus, dan 10 puskesmas lainnya nol kasus”, ujarnya.

Adapun kelima Puskesmas tersebut yakni, Puskesmas Kualasimpang sebanyak 4 kasus, Puskesmas Sapta Jaya sebanyak 3 kasus, dan Puskesmas Manyak Payed, Karang Baru, dan Rantau sebanyak 1 kasus.

Sementara itu, Pihak Kesehatan menyarankan kepada masyarakat, sedapat mungkin untuk menghindari atau menjauhi binatang Anjing, Kucing, dan Kera. Karena ke tiga hewan itu pembawa dan penyebab rabies. Jika pun suka terhadap salah satu hewan itu dan ingin memeliharanya, pastikan untuk selalu memeriksakan terlebih dahulu ke dokter hewan Tersebut, dan selanjutnya di lakukan pemberian vaksin terhadap hewan itu.

Untuk korban gigitan tersebut diharapkan segera melakukan penanganan awal dengan cara membersihkan luka dengan air mengalir dan cairan Deterjen (sabun), selain itu Korban gigitan juga harus segera ke pusat kesehatan terdekat untuk melakukan pertolongan selanjutnya dengan cara diberikan vaksin. Apabila hewan tersebut dianggap mengidap rabies, maka korban akan diberikan vaksin lanjutan atau penanganan yang lebih serius lagi. Sebab rabies ini dapat mengakibatkan kematian pada korbannya. (*)