Kasus Covid-19 Melonjak, Pemerintah Aceh Sebut RS Darurat Belum Dibutuhkan

Pemerintah Aceh sebut pembangunan RS Darurat Covid-19 di Aceh belum dibutuhkan
Foto: Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto. | ACEHSATU.COM/IST

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menanggapi masukan Komisi V DPR Aceh terkait usulan pembangunan Rumah Sakit (RS) Darurat untuk menangani pasien corona di Aceh. Pemerintah Aceh beralasan usulan tersebut belum dibutuhkan.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto yang dikutip ACEHSATU.COM, Senin (10/8/2020).

Meski jumlah kasus warga Aceh terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dalam dua pekan terakhir menunjukkan pelonjakan. Namun menurut Iswanto, pembangunan RS Darurat di Aceh belum lagi dibutuhkan.

Dia merujuk pada kesiapan pemerintah Aceh dan seluruh pemerintahan kabupaten/ kota dalam menangani penyebaran Covid-19.

“Masukan (Komisi V DPR Aceh) itu bisa menjadi pertimbangan pemangku kepentingan di pemerintah Aceh untuk mengambil kebijakan. Tapi sampai saat ini insya Allah kita masih siap dan terus bekerja maksimal dan pembangunan rumah sakit darurat untuk saat ini kami pandang belum perlu,” kata Iswanto di Banda Aceh, Minggu (9/8/2020).

Dijelaskan Iswanto, sejak Februari saat wabah covid terjadi, pemerintah Aceh telah mengambil berbagai tindakan kewaspadaan hingga penanganan.

Mulai dari mempersiapkan dua ruang Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging (Pinere) untuk perawatan bagi pasien terinfeksi Covid-19. Dua ruangan tersebut berkapasitas 40 tempat tidur.

Fasilitas lain

Selain Pinere, kata Iswanto, pemerintah Aceh juga menyediakan fasilitas poliklinik dan RICU di RS Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.

“Plt Gubernur juga mengarahkan para pimpinan SKPA mempersiapkan beberapa fasilitas seperti BPSDM dan Asrama Haji sebagai tempat istirahat bagi Orang Tanpa Gejala,” ujarnya.

“Di kedua tempat ini terdapat 195 kamar dengan 388 tempat tidur. Kapasitas yang tersedia diyakini masih mampu menampung jumlah pasien covid di Aceh,” imbuhnya lagi.

Untuk pemeriksaan spesimen masyarakat, pemerintah juga memfungsikan Balai Litbang Kesehatan yang sampai hari ini sebanyak 3.443 sampel telah diperiksa.

Di Litbangkes, masa tunggu hasil laboratorium adalah 1-2 hari dengan maksimal 170 orang per hari (dua shef) bisa diperiksa.

Update Covid-19 Aceh

Sementara itu, juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG) merilis prevalensi kasus Covid-19 di Aceh.

Berdasarkan data yang dilaporkan laporan Gugus Tugas Covid-19 kabupaten/kota, per tanggal 09 Agustus 2020, pukul 19.00 WIB jumlah kasus Covid-19 di Aceh secara akumulatif mencapai 578 orang.

Jumlah tersebut dengan rincian sebanyak 409 orang dalam penanganan tim medis di rumah sakit rujukan, 148 orang sudah sembuh, dan 21 orang meninggal dunia.

Kasus baru Covid-19 yang dilaporkan pada Minggu (9/8/2020) sebanyak 31 orang, masing-masing 15 orang warga Kota Banda Aceh, 13 orang warga Kabupaten Aceh Besar, 1 orang warga Kabupaten Bireuen, dan 2 orang lainnya orang dari luar Aceh.(*)