Kasus Covid-19 di Indonesia Belum Capai Puncak, Ini Buktinya

Dia juga berbicara mengenai keputusan pemerintah yang tetap akan menggelar Pilkada 2020 pada Desember dengan asumsi kurva Corona sudah melandai. Namun nyatanya, hingga kini kasus Corona Indonesia tak kunjung mencapai puncak.
Pandemi Corona
Ilustrasi COVID-19 (Foto: Edi Wahyono)

ACEHSATU.COMDirektur Eksekutif Lembaga Survey Indo Barometer M Qodari menyebut kasus Corona (COVID-19) di Indonesia belum mencapai puncak sejak kemunculan kasus pertama di Indonesia pada Maret 2020. Sejauh ini, Indonesia masih merangkak menuju puncak.

Penjelasan ini dipaparkan Qodari dalam Webminar Nasional Seri 2 Kelompok Studi Demokrasi Indonesia Strategi Menurunkan COVID-19, Menaikkan Ekonomi melalui data berjudul ‘Flattering The Curve’, Minggu (20/9/2020). Dalam data yang disampaikan Qodari, kasus positif Corona di Indonesia relatif terus meningkat.

Paparan Qodari terkait Kasus Corona di Indonesia (Foto: Istimewa)

Dia juga berbicara mengenai keputusan pemerintah yang tetap akan menggelar Pilkada 2020 pada Desember dengan asumsi kurva Corona sudah melandai. Namun nyatanya, hingga kini kasus Corona Indonesia tak kunjung mencapai puncak.

“Pertama, jumlah kasus kita terus naik ya, keliatan polanya kemudian kasus semua wilayah misalnya dengan situasi walaupun tiap daerah punya variasi Indonesia dan di mana? Ini pertanyaannya ya. Kita ini kalau ada istilah gelombang pertama, gelombang kedua dan ketiga kelihatannya gelombang pertama pun belum begitu. Bicara soal Pilkada ya Pilkada bulan Desember ini diputuskan pada bulan April dalam rapat bulan April dengan asumsi bahwa pada bulan Juli atau Agustus ini kita sudah pada posisi ini,” kata Qodari, seperti dilansir detik.com, Minggu (19/9/2020).

Paparan Qodari terkait Kasus Corona di Indonesia (Foto: Istimewa)

Qodari lantas menyoroti penambahan kasus positif Corona di Indonesia. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus regresif polynomial, Qodari memprediksi pada akhir September jumlah konfirmasi positif Corona di Indonesia bisa mencapai 257 ribu.

“Setelah dimasukkan dalam rumus ini, maka kemudian rumus ini terbentuk sendiri ya angka-angkanya yang konstantanya karena membaca pola yang sudah terjadi sebelumnya dan kalau mengikuti angka ini maka pada akhir September atau tanggal 30 September itu kita akan mendapatkan 257 ribu,” ungkap Qadari.

“Perhari ini kita sudah tinggal 10 hari kemarin kasus 4 ribu dan saya melihat angka 250 ribu ini berangkat dari asumsi kasus harian 3 ribu sampai 3.500 jadi kalau kasusnya di atas 3.500 sampai Rp4.000 maka angka 257 ribu ini akan jebol dan untuk sementara dengan kecepatan yang terjadi sekarang saya memproyeksikan angkanya akan sampai 270-280 ribu ya bahkan lebih,” sambungnya.

(Foto: Istimewa)

Melalui perhitungan ini, Qadari memprediksi dalam 6 bulan ke depan jumlah kasus bisa semakin meningkat. Bahkan, lanjut Qadari, jumlahnya bisa mencapai 900 ribu.

“Artinya nanti di ujung sini ya pada tanggal pada akhir bulan Februari 2021, setahun setelah penanganan kasus COVID alias 6 bulan dari sekarang angka yang diproyeksikan di sini dengan rumus yang ada sekarang ini yang didasarkan kepada pola yang terjadi 6 Itu akan lebih daripada angka 900 ribu namun nanti saya akan punya rumusan-rumusan yang yang lebih diwarnai teori epidemi ya,” ungkapnya. (*)