Kamala Harris, Wakil Presiden AS Paling Dekat dengan Yahudi

Wakil Presiden AS Paling Dekat dengan Yahudi
Penampilan Kamala Harris dengan kalung mutiara putih.(Sumber : Getty Images)

Wakil Presiden AS Paling Dekat dengan Yahudi

ACEHSATU.COM Siapa sangka, Wakil Presiden Amerika Serikat terpilih, Kamala Harris adalah sosok yang paling dekat dengan Yahudi, baik secara budaya maupun religi.

Bagaimana tidak, sang suami Douglas Ehmhoff adalah seorang Yahudi.

Penunjukan Harris sebagai calon Wakil Presiden dari Partai Demokrat membuat berang Komite Yahudi dari Partai Republik.

Komite tersebut menggambarkan Harris sebagai seorang radikal kiri dan akan menentang Undang-Undang Anti-Boikot Israel serta mengembalikan AS dalam kesepakatan nuklir Iran.

Tapi Kamala Harris mencatat sejarah menjadi perempuan pertama yang menjadi wakil presiden terpilih dalam sejarah Amerika Serikat.

Tapi Senator yang berusia 55 tahun dari California mulus sampai jadi orang nomor dua di negara adi kuasa itu.

Ia awalnya membidik Gedung Putih untuk menjadi presiden untuk menghadapi Donald Trump.

Namun ia kalah dalam upayanya itu dari Joe Biden yang kemudian memintanya untuk mendampinginya menjadi wakil presiden.

Lantas bagaimana sepak terjang Kamala Harris?

Anggota Demokrat California itu lahir di Oakland, California, dari dua orang tua imigran: seorang ibu kelahiran India dan ayah kelahiran Jamaika.

Wakil Presiden AS Paling Dekat dengan Yahudi
Penampilan Kamala Harris dengan kalung mutiara putih.(Sumber : Getty Images)

Setelah orangtuanya bercerai, Harris dibesarkan oleh ibu tunggal beragama Hindu, yang merupakan peneliti kanker dan aktivis hak-hak sipil.

Dia tumbuh dengan memeluk kebudayaan India. Ia ikut dengan ibunya dalam kunjungan ke India, tetapi Harris mengatakan bahwa ibunya mengadopsi budaya Afrika-Amerika Oakland, hal yang mempengaruhi kedua putrinya – Kamala dan adik perempuannya Maya.

“Ibu saya mengerti betul bahwa dia membesarkan dua anak perempuan kulit hitam,” tulisnya dalam otobiografinya The Truths We Hold.

“Dia tahu bahwa tempat di mana dia tinggal [AS] akan melihat Maya dan saya sebagai gadis kulit hitam dan dia bertekad untuk memastikan kami akan tumbuh menjadi perempuan kulit hitam yang percaya diri dan bangga dengan diri kami.”

Setelah awal yang menjanjikan, kampanye Kamala Harris mengalami kegagalan.

Dia berkuliah di Howard University, salah satu perguruan tinggi dan universitas kulit hitam terkemuka di AS. Pengalaman itu dia gambarkan sebagai salah satu yang paling membentuk dirinya.

Harris mengatakan dia selalu nyaman dengan identitasnya dan hanya menggambarkan dirinya sebagai “orang Amerika”.

Pada 2019, dia mengatakan kepada Washington Post bahwa politisi tidak perlu masuk ke dalam satu kategori karena warna kulit atau latar belakang mereka.

“Maksud saya adalah: Saya adalah saya. Saya baik-baik saja dengan itu. Anda mungkin perlu berusaha memahami itu, tapi saya baik-baik saja dengan itu,” katanya.

Mendaki jabatan hukum

Setelah empat tahun di Howard, Harris mendapatkan gelar hukumnya di Universitas California, Hastings, dan memulai karirnya di Kantor Kejaksaan Distrik Alameda County.

Dia menjadi jaksa wilayah – jaksa tertinggi – untuk San Francisco pada tahun 2003, sebelum terpilih sebagai perempuan pertama dan orang Afrika-Amerika pertama yang menjabat sebagai jaksa agung California, pejabat penegak hukum tertinggi di negara bagian terpadat di Amerika itu.

Dalam dua periode masa jabatannya sebagai jaksa agung, Harris mendapatkan reputasi sebagai salah satu bintang Partai Demokrat yang sedang naik daun.

Momentum ini digunakannya untuk mendorong pemilihannya sebagai senator junior AS di California pada tahun 2017.

Saat berada di Senat AS, Harris telah dipuji karena gaya bertanyanya yang seperti jaksa penuntut.

Sejak pemilihannya menjadi Senat AS, mantan jaksa penuntut itu mendapatkan dukungan dari kaum progresif karena pertanyaan pedasnya terhadap calon Mahkamah Agung saat itu Brett Kavanaugh dan Jaksa Agung William Barr dalam sidang-sidang penting di Senat.

Dekat dengan Komunitas Yahudi

Seperti dilansir Times of Israel, Rabu (12/8), dalam hal kebijakan AS tentang Israel, posisi Harris kurang lebih mencerminkan pemikiran Demokrat arus utama selama 10 tahun terakhir.

Harris mendukung solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Dia juga percaya pada hubungan AS-Israel yang kuat, termasuk kelanjutan bantuan militer Amerika untuk Israel.

Pada November 2017, Harris mengunjungi Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pada April 2019, Direktur Komunikasi Kampanye Harris, Lily Adams mengatakan, dukungan untuk Israel adalah hal yang sangat penting.

Adams menambahkan bahwa Harris memiliki keyakinan Israel juga memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan diri dari serangan, termasuk serangan roket dari Gaza. Harris menjalin hubungan dekat dengan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).

Dia sangat terbuka tentang pertemuan dirinya dengan pejabat AIPAC pada Maret 2019.

Keputusan Biden untuk menggandeng Harris dalam pemilihan presiden pada November mendatang, mendapatkan pujian dari kelompok advokasi Demokratik Yahudi.

Kepala Dewan Demokratik Yahudi Amerika dan mantan asisten Harris, Hailie Soifer mengatakan, Harris memprioritaskan masalah yang sama dengan para pemilih Yahudi. Soifer meyakini, Harris akan mempertahankan nilai-nilai Yahudi Amerika di Gedung Putih. “Dia sangat selaras dengan nilai-nilai Yahudi Amerika, termasuk dukungannya terhadap hubungan AS-Israel, komitmennya untuk memastikan akses ke perawatan kesehatan dan pendidikan yang terjangkau, intoleransi terhadap kebencian dan kefanatikan, dan upayanya yang teguh untuk melindungi komunitas paling rentan di negara kita,” ujar Soifer, dilansir Times of Israel. (*)