Kaki Diamputasi dan Mulai Membusuk, Ibrahim Perlu Uluran Tangan Dermawan

Ibrahim, seorang tukang becak di Kota Lhokseumawe kini harus pasrah dengan kondisi kaki kanan yang sudah diamputasi serta sebelah kirinya mulai membusuk.
Ibrahim
Ibrahim, seorang tukang becak di Kota Lhokseumawe kini harus pasrah dengan kondisi kaki kanan yang sudah diamputasi serta sebelah kirinya mulai membusuk.

ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE – Ibrahim, seorang tukang becak di Kota Lhokseumawe kini harus pasrah dengan kondisi kaki kanan yang sudah diamputasi serta sebelah kirinya mulai membusuk.

“Awalnya saya ke gunung mencari nafkah untuk anak istri, namun disana kaki saya tertimpa batu. Saat itu hanya sedikit dan tidak parah,” kata ayah dari satu orang anak itu, Jumat (15/10/2021).

Lanjut Ibrahim, setibanya di rumah, kakinya mulai nyeri dan dia pun merasa kesakitan. Kemudian dirinya berupaya mengobati kakinya secara tradisional, akan tetapi tidak kunjung sembuh.

“Kemudian saya berobat ke Rumah Sakit Daerah Zainoel Daerab Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, mereka mengambil inisiatif agar kaki saya diamputasi, kalau tidak akan menjalar,” ujarnya.

Awal Mula Penyakit Ibrahim

Ibrahim mengaku kejadian itu sudah berlangsung sejak 2015, dirinya mencari rezeki ke gunung yakni mencari butiran emas di pergunungan Tangse, Kabupaten Pidie. Dan untuk naik ke sana membutuhkan waktu dua hari dan dua malam.

“Sekarang kaki kanan juga sudah mulai membusuk, bahkan jempol sudah dipotong, padahal saya tidak menderita penyakit gula atau diabetes,” tuturnya.

Ibrahim
Ibrahim, seorang tukang becak di Kota Lhokseumawe kini harus pasrah dengan kondisi kaki kanan yang sudah diamputasi serta sebelah kirinya mulai membusuk.

Untuk mendapatkan uang memenuhi kebutuhan hidup, Ibrahim tetap berupaya narik becak karena harus mengirimkan nafkah untuk anaknya yang masih berusia dua tahun dan berada di rumah orangtuanya, daerah Tangse, Kabupaten Pidie.

Baca Juga: Respon Cepat Mahasiswa Aceh di Wuhan, Kementerian Luar Negeri RI Apresiasi Aceh

“Sama istri sudah pisah, di Kota Lhokseumawe saya tinggal di rumah kerabat yang saya kenal. Kalau malam saya tidur di becak depan rumah warga Keude Cunda ini,” jelasnya. Untuk berobat saat ini, ia hanya beli di apotik saja untuk antinyeri.

Dirinya mengaku terpaksa tetap berkerja karena memiliki tanggungjawab terhadap biaya hidup anaknya.  “Saya pernah membuat proposal untuk mendapatkan kaki palsu, tapi tidak kunjung dapat.

Harapannya, semoga ke depan saya bisa mendapatkan kaki palsu agar memudahkan mencari nafkah,” imbuhnya.

Bagi yang ingin membantu, meminta izin kepad Ibrahim untuk melampirkan nomor hanphone ya, 0852 6253 0728.