Budaya dan Seni

Kaka Penulis Naskah Tjut Nyak Mutia Sang Mutiara Rimba

“Lewat naskah pentas kali ini Tjut Nyak Mutia mau berkata, teruskan nilai-nilai patriotik bela Nanggroe ini, jangan biarkan sejengkal pun dikuasai asing,!” tutup Kaka mengilustrasikan betapa kuatnya atmosfir panggung yang akan nanti ditampilkan Sabtu depan.

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Kaka Zaffana (Kaka) bernama asli Khairul Anwar, putra dari seorang tentara sudah sejak lama tertarik dengan naskah-naskah sejarah Aceh, terlibat di berbagai even kolosal tari, sendratari maupun teater indoor Taman Seni dan Budaya Aceh (TSBA) juga pementasan lapangan dengan jumlah pemain sampai 470-an telah pernah ia jalani selaku bagian tim pertunjukan.

Kali ini Kaka sebagai penulis naskah Tjut Nyak Mutia mencoba menyesuaikan irama permainan para penari serta aktor pentas sejumlah 40-an pemain dalam panggung tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh pada Sabtu, 13 Oktober 2018 mendatang.

Bersama sutradara Afrimer (Meks), asisten sutradara Winda Utami. serta para aktor antaranya; Mirza Irwansyah (Gub. Militer Aceh C.V. Daalen), Hamdani Chamsyah (T. Chik Tunong), Cut Raudhatul Jannah (Tjut Nyak Mutia), Ichsan Mantovani (Pang Nanggroe) dan lainnya untuk menyajikan atmosfir permainan teater pentas di samping itu para pelakon yang didominasi pemain pemula serta pemain yang sudah pernah mentas di TSBA.

Dody Sanjaya, selaku humas pertunjukan Tjut Nyak Mutia saat wawancara Senin malam (8/10/2018) menyampaikan bahwa kali ini pertunjukan yang didanai langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian tersebut berusaha memaksimalkan pertunjukan.

Baca: SEULANGA Segera Pentaskan Jejak Perjuangan Mutiara Rimba Tjoet Nyak Meutia

“Kita melibatkan banyak pihak untuk sinergi sama-sama mempertunjukkan kebolehan bersama, harapannya agar selain mengokohkan nilai tampilan, kesempatan berpertunjukan bersama ini dapat menjadi nilai tambah bagi pemain yang sudah pernah terlibat di TSBA maupun menjadi ajang belajar bagi pemula, kami berupaya tampil maksimal, hadirlah menonton dan menikmati.” ujar Dody didampingi Zulkifli selaku penata musik.

Kaka sendiri saat rehat usai latihan malam H-4 menyebut bahwa pertunjukan dengan naskah yang ditulisnya ini merupakan penyesuaian ke bentuk naskah panggung tertutup. Bersama timnya Kaka dibantu oleh Riadi Zulfahmi (Multi Media) juga Intan Mauliza (Penata Rias), Mustafa Kamal (Penata Artistik), Fauzul (Penata Busana), Teuku Ilyas (By Disain) bersinergi juga dengan Nurqrasyi Diauddin selaku Stage Manager.

“Naskah Tjut Nyak Mutia adalah naskah yang awalnya untuk dipentaskan kolosal out door di Lapangan Blang Padang, naskah ini kita sudah sesuaikan untuk lebih berkesesuaian pada pementasan TSBA, durasi 23 menit cukup ketat kita coba kemas mengejawantahkan peristiwa sejarah perjuangan Tjut Nyak Mutia sang Mutiara Rimba,” ungkap Kaka bersemangat.

Khairul Anwar alias Kaka ini bukanlah pelaku seni yang asing lagi bagi dunia pertunjukan di Aceh, sebagai bagian Sanggar Buana yang juga menjadi pengurus Lembaga Seulanga kerap juga menangani seni kolosal baik tari maupun teater.

Selaku penulis naskah, Kaka pernah menghasilkan berbagai naskah berafiliasi sejarah Aceh dalam mempertahankan bangsa oleh tokoh-tokoh terkemuka. Antara naskah ciptaan Kaka adalah; Teuku Umar, Tjut Nyak Dhien, Sultanah dan Tjut Nyak Mutia.

Baca: Sultanah Aceh dalam Ingatan Dunia

“Saya sangat berminat dengan naskah-naskah sejarah Aceh khususnya meninjau kembali ketokohan para pejuang Aceh yang sangat memiliki nilai edukasi dan menanamkan patriotisme bagi segenap kalangan,” urainya.

“Garapan naskah saya tidak bersumber dari selain edukasi dan penokohan yang energik, capaian dari itu semua adalah ketika naskah sejarah Aceh  yang berhasil direka ulang ke dalam bahasa panggung akan dapat mendidik penonton dan menyiarkan secara lebih gamblang nilai perjuangan tokoh-tokoh Aceh di masa lampau, sesederhana itu saja,” urai Kaka melanjutkan.

Baca: Perang Aceh Menurut Paul Van ‘t Veer

Pementasan Mutiara Rimba dimaksudkan untuk mengetengahkan kepada khalayak bahwa warna dan nuansa atmosfir seni pertunjukan yang mengambil sejarah sebagai ilustrasi cerita Tjut Nyak Mutia ini memberi informasi beginilah naluri perjuangan seorang perempuan Aceh.

“Selama ini kita hanya mendengar atau membaca Tjut Nyak Mutia dalam berita atau tulisan sejarah Aceh, kali ini kami menghadirkannya dalam panggung, penonton dapat menjadi saksi seperti apa kiranya aroma perang dan ketegangan-ketegangan setiap alur sang Mutiara Rimba mengacungkan rencong ke udara tanah leluhur kita,” paparnya melanjutkan.

“Lewat naskah pentas kali ini Tjut Nyak Mutia mau berkata, teruskan nilai-nilai patriotik bela Nanggroe ini, jangan biarkan sejengkal pun dikuasai asing,!” tutup Kaka mengilustrasikan betapa kuatnya atmosfir panggung yang akan nanti ditampilkan Sabtu depan.

“Jangan lupa nonton, waktu cukup ketat, dimulai pukul 20.30 WIB sampai 21.00 WIB, tak ada tayangan ulang, jangan telat ya!” ujar Dody menutup wawancara. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top