oleh

Kado Ulang Tahun Jokowi

-Indeks, Kolumnis-93 views

ACEHSATU.COM – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi baru saja berulang tahun ke-59, Minggu, (21/06/2020) beberapa hari lalu.

Banyak ucapan Happy Birthday mengalir dari berbagai kalangan dan tokoh nasional hingga kepala daerah. Mulai dari menteri hingga DPR RI serta bupati dan gubernur.

Ucapan selamat ulang tahun yang dialamatkan kepada sang presiden tentu doa suka cita bangsa Indonesia atas tambahan usia yang diberikan Tuhan kepada kepala negaranya.

Pejabat sekeliling Jokowi serta politisi ring satu tentu sangat senang dan memberikan pujian agar Jokowi senantiasa bahagia, sehat dan kuat menjalankan amanat penderitaan rakyat.

Tidak ada yang salah. Hari ulang tahun pasti dilewati oleh siapa saja yang masih bernyawa. Semua juga harus bersyukur dan bahagia karena itu nikmat Tuhan.

Tak terkecuali orang miskin papa sekalipun, rakyat jelata sekalipun bahkan orang yang tidak pernah tahu tanggal berapa ia dilahirkan sekalipun. Tetap miliki hari ulang tahun.

Doa yang dipanjatkan juga sama. Setiap yang berulang tahun pasti meminta agar usianya dipanjangkan.

Hidup bahagia, sukses dalam karir, dan dimudahkan segala yang ingin dicapai dalam hidupnya kedepan.

Akan tetapi kebahagiaan yang dirasakan Jokowi pada perayaan hari ulang tahunnya kali ini mungkin sedikit berbeda dengan apa yang dirasakan rakyat Indonesia (baca: wong cilik) dalam menjalani hidup mereka sehari-hari.

Rakyat Indonesia (baca: wong cilik) merasa kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah telah membuat nelangsa dan menjadi cobaan hidup yang amat berat.

Apalagi ditengah pandemi Covid-19. Hampir-hampir seperti cuplikan dialog dalam film G30S PKI. “Pedih Jenderal”.

Bagaimana tidak pedih. Rakyat akar rumput sulit memperoleh pekerjaan, harga-harga mahal, listrik naik, iuran BPJS naik, BBM tidak turun, hukum tidak adil, korupsi merajalela, persatuan bangsa hancur, adu domba antar kelompok umat menjadi alat, dan banyak lagi lainnya.

Mengapa bisa demikian, apa yang salah dengan negara ini?

Saya mencoba mengutip sebuah artikel yang dituliskan oleh Muslim Arbi, Koordinator Gerakan Perubahan (Garpu) yang dipublis di salah satu media online. Tentang “Daftar Dosa Kekuasaan Jokowi Selama Masa Berkuasa”.

Berikut isi tulisannya.

Pertama; Ancaman Kemerdekaan Papua oleh OPM semakin kuat di era Jokowi. Bahkan tahun 2014 diawal pemerintahan nya membiarkan terjadi jajak pendapat dengan pengumpulan 1,4 juta tanda tangan yg konon di klaim oleh Benny Wenda sebagai dukungan terhadap Papua Merdeka yang akan di bawa ke Sidang PBB.

Dan mendapat dukungan dari negara kecil di Pacific Vanuatu. Hal itu merupakan ancaman disintegrasi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan NKRI

Kedua; Melakukan politik kiblat ke RRC sehingga memperoleh hutang untuk bangun infrastruktur. Tapi pembangunan infrastruktur yang tidak diperhitungkan matang-matang itu telah menjadi ancaman negara tersandera bahkan diambil alih jika gagal bayar hutang seperti proyek-proyek RRC dengan sejumlah negara di Afrika dan Asia.

Dimana negara-negara itu terancam menjadi lemah dan tak berdaya karena hutang dan kelemahan ekonominya. Sehingga mata uang nya diganti kan dengan Renmimbi.

Ketiga; Serbuan TKA Cina semakin menggila di sejumlah Perusahaan tambang. Apakah TKA itu tentara merah yang menyamar? Untuk sebuah perencanaan penyerbuan dan pendudukan? Dilaporkan pada malam hari berdatangan TKA Cina di Bandara tanpa pengawasan ketat.

Keempat; Penerbitan Dwi Kewarganegaraan. Dimana seorang WNI bisa berkewarganegaraan ganda. Dengan WNI dan WNA China ini sangat berbahaya. Karena bisa terjadi eksodus besar-besaran WNA Cina lalu memperoleh WNI.

Ancaman gelombang kehadiran ratusan juta WNA akan menyerbu negeri ini karena sistem birokrasi dan birokrat yang lemah dan mata duitan.

Kelima; 66 janji politik selama pilpres 2014 hanyalah fatamorgana dan janji-janji belaka yang tujuannya hanya sekedar raih kekuasaan. Tapi tidak pernah ditepati. Publik anggap Jokowi tidak tahu malu dan juga tidak tahu diri.

Keenam; Melemahnya ekonomi di era Jokowi sehingga membuat banyak warga miskin terjepit dan berteriak akan mahalnya harga-harga. Tapi tidak ada respon yang memadai.

Ketujuh; Warga dari berbagai kalangan mendatangi Istana untuk mengadukan persoalannya tidak di jumpai. Malah pergi menghindar.

Kedelapan; Masyarakat terbelah dengan politik adu domba dalam penegakan hukum dan keadilan.

Begitulah kata Muslim Arbi dalam opininya mengatakan hal itu sebagai dosa Pak Jokowi sebagai pemegang kekuasaan.

Benar tidaknya apa yang telah diuraikan. Publik dapat melihat, merasakan dan menilainya sendiri. (*)