Jubir Satgas COVID-19 Prihatin Masih Ada Yang Menyepelekan Penularan Virus

"Melihat kondisi ini kami amat prihatin, karena masih saja ada orang yang menyepelekan penularan COVID-19, bahkan sedang tinggi dalam dua minggu terakhir,"
Satgas COVID-19
Sementara di minggu lalu penambahan kasus positif mencapai lebih dari 170.000 kasus atau hampir dua kali lipat puncak lonjakan kasus pertama.

ACEHSATU.COM | Jakarta – Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengaku prihatin dengan masih adanya masyarakat yang menyepelekan penularan virus corona saat kasus positif sedang melonja dan Wiku juga mengimbau Kepada pihak RS untuk atur ritme kerja nakes agar tidak kelelahan

“Melihat kondisi ini kami amat prihatin, karena masih saja ada orang yang menyepelekan penularan COVID-19, bahkan sedang tinggi dalam dua minggu terakhir,” ujar Wiku dalam konferensi pers daring diikuti di Jakarta, Selasa malam.

Wiku mengimbau masyarakat agar dapat mengesampingkan ego terlebih dahulu untuk bepergian saat terdeteksi paparan COVID-19, di tengah risiko penularan guna keselamatan bersama.

Ia menilai selain diperlukan kesadaran yang harus tinggi dari masyarakat, pemerintah setempat, termasuk pengelola wisata sebagai penanggung jawab fasilitas publik tersebut, untuk betul-betul melakukan penapisan kesehatan.

Hal itu ditujukan agar dapat mencegah penularan yang tinggi, di tengah kondisi alamiah fasilitas publik yang cenderung terdapat penyebaran virus.

Selain itu, pemerintah daerah juga harus memberikan sanksi yang memberikan efek jera kepada masyarakat yang memberikan risiko penularan penyakit dan melanggar Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan.

“Karena sudah dua tahun berjalan pandemi, TNI, Polri, Pemda perlu menegakkan peraturan agar kita semua bisa produktif dan aman,” kata dia.

Sebelumnya beredar kabar viral di media sosial unggahan mengenai pasangan suami istri yang mengaku positif COVID-19 ditolak memasuki wilayah Bali, kemudian memilih jalan-jalan ke Malang dan Kota Batu.

Pasangan tersebut diketahui sempat berkunjung ke pusat perbelanjaan melalui foto-foto yang diunggah ke dunia maya.

Baca Juga: Jumlah Pasien COVID Dirawat di RS Wisma Atlet Kemayoran 5.155 Orang

Wiku Adisasmito juga minta pihak RS atur ritme kerja nakes agar tidak kelelahan

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 meminta pihak rumah sakit untuk mengatur ritme kerja para tenaga kesehatan agar tidak kelelahan di tengah meningkatnya jumlah kasus. 

“Diimbau untuk pihak rumah sakit memastikan betul bahwa tenaga kesehatan dapat bekerja dengan ritme yang manusiawi untuk mencegah kemunculan kelelahan,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam Konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa. 

Ia menambahkan, Kementerian Kesehatan bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga terus berusaha untuk memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, baik untuk optimalisasi perawatan pasien maupun perlindungan tenaga kesehatan yang bertugas. 

“Seperti pemberian alat pelindung diri level satu, dua, dan tiga berdasarkan besar peluang kontak dengan kasus positif,” katanya.

Untuk itu, Wiku meminta kepada seluruh masyarakat, khususnya tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit untuk ekstra hati-hati dengan disiplin menggunakan alat pelindung diri sesuai pedoman profesi yang telah ditetapkan. 

Saat ini, Wiku mengemukakan, kenaikan kasus COVID-19 telah melampaui puncak lonjakan pada gelombang pertama. Pada puncak kasus pertama, ia memaparkan, penambahan kasus mingguan tertinggi sebesar 88.000 kasus,

Sementara di minggu lalu penambahan kasus positif mencapai lebih dari 170.000 kasus atau hampir dua kali lipat puncak lonjakan kasus pertama. 

“Yang perlu menjadi kewaspadaan pada saat kasus mulai meningkat adalah tingkat perawatan di rumah sakit,” katanya.

Per tanggal 7 Februari 2022, Wiku menyampaikan, tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) nasional mencapai 24,77 persen per tanggal . Wiku mencatat, terdapat empat provinsi yang persentase BOR-nya di atas angka nasional, yakni DKI Jakarta sebesar 66 persen, Bali 45 persen, Banten 39, dan Jawa Barat 32 persen.