Joe Biden Terpilih Jadi Presiden Amerika Serikat

Joe Biden Presiden Amerika Serikat
Joe Biden. (AP/Paul Sancya)

Joe Biden Presiden Amerika Serikat

ACEHSATU.COM Joe Biden menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, mengalahkan Donald Trump, menyusul penghitungan suara yang berjalan menegangkan sertelah pemilu Selasa (03/11/2020).

Proyeksi BBC atas kemenangan Biden didasarkan pada hasil tidak resmi dari negara-negara bagian yang telah selesai menghitung suara mereka, dan hasil yang telah diperkirakan dari negara-negara bagian seperti Wisconsin, dengan penghitungan suara yang masih berlangsung.

Pemilu kali ini diikuti oleh pemilih paling banyak sejak 1900.

Biden meraih lebih dari 73 juta suara sejauh ini, suara paling banyak untuk calon presiden dalam sejarah Amerika.

Sementara, Trump memperoleh hampir 70 juta suara, suara kedua terbanyak dalams ejarah.

Kemenangan ini menjadikan Biden sebagai presiden AS yang ke-46, dan presiden tertua di Amerika dengan usia yang menginjak 78 tahun.

President Trump sebelumnya memperingatkan Biden untuk tidak mengumumkan kemenangan – sehari setelah dia sendiri menyatakan kemenangan, walaupun penghitungan masih pada tahap awal.

Secara keseluruhan, jumlah pemilih yang memberikan suara dalam Pilpres AS merupakan yang tertinggi dalam 120 tahun dengan sekitar 66.9%

Kepada para pendukungnya, pada Jumat malam waktu setempat (Sabtu pagi WIB), Biden kembali mengatakan bahwa “jumlah menunjukkan berita yang jelas, kami akan menang pemilihan.”

Joe Biden Presiden Amerika Serikat
Joe Biden. (AP/Paul Sancya)

Biden – didampingi Kamala Harris – mengatakan ia berada dalam jalur untuk menang lebih dari 300 suara elektoral dan menyatakan jumlah orang yang memilihnya merupakan rekor dalam sejarah pemilihan presiden AS – lebih dari 74 juta.

Biden juga mengatakan warga Amerika memberinya mandat untuk menangani pandemi virus corona, perekonomian, perubahan iklim dan sistemis rasisme.

Data kasus positif pada Jumat, menunjukkan kasus baru Covid-19 lebih dari 127.000, rekor baru dalam tiga hari.

Calon dari Partai Demokrat menyebut dirinya calon untuk persatuan setelah pemilihan yang sangat ketat.

“Kita bisa saja menjadi oposisi namun kita bukan musuh, kita warga Amerika,” kata Biden tanpa menyinggung lawannya dari Partai Republik, Trump.

Namun Trump kembali melontarkan berbagai tuduhan yang tidak ada buktinya dalam serangkaian cuitan, unggahan-unggahan yang mendapatkan peringatan dari Twitter.

Empat unggahan disebut Twitter dapat disanggah atau dapat menggiring ke hal yang salah.

Cuitan Sabtu (07/11) termasuk klaim Trump bahwa adanya suara ilegal yang tiba pada hari pemilihan di negara bagian seperti Pennsylvania, sehingga menghapus keunggulanya.

Keunggulan Jo Biden di empat negara bagian penting – Pennsylvania, Georgia, Arizona dan Nevada – karena mulai dihitungnya suara lewat pos.

Suara lewat pos baru belakangan dihitung setelah penghitungan suara orang yang datang memilih langsung. Perkembangan penghitungan seperti ini telah diperkirakan oleh para analis menjelang pemilu, dan bahwa banyak yang memberikan suara melalui pos adalah pendukung Demokrat.

Trump sendiri tidak memberikan bukti apapun terkait tuduhan lewat Twitter.

Penjagaan diperketat

Dinas keamanan AS meningkatkan keamanan terhadap Joe Biden termasuk menetapkan pembatasan penerbangan di atas kediaman Joe Biden di Wilmington, Delaware.

Pembatasan penerbangan sementara, Temporary Flight Restriction (TFR) ditetapkan di seputar kediaman Biden, atas permintaan Dinas Rahasia.

Pada tanggal 4 November, radius pembatasan diperluas menjadi hampir lima kilometer sampai paling tidak 11 November.

Mereka yang melanggar dapat menghadapi penjara maksimal 12 bulan dan denda US$100.000 (Rp1,4 miliar).

Pembatasan penerbangan ini merupakan prosedur yang biasa dilakukan untuk tokoh politik penting.

Namun, rincian keamanan untuk presiden terpiih akan jauh lebih besar skalanya. (*)

Sumber: BBC Indonesia