Jilbab untuk Melindungi Perempuan dari Kejahatan

Kebijakan pakai jilbab bukan hanya untuk kepentingan ajaran Islam tapi juga menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi perempuan.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Berita soal pakaian wajib sekolah di Sumatera Barat atau di Kota Padang terus dijadikan bahan gunjingan oleh kelompok intoleran untuk memojokkan Islam dan masyarakat Minangkabau.

Diisukan ada siswi sebuah SMK Negeri yang bukan beragama Islam dipaksakan memakai jilbab.

Dugaan pemaksaan semacam itu dibantah oleh mantan Wali Kota Padang Fauzi Bahar yang mengatakan bahwa aturan itu memang sudah sejak lama berlaku.

Aturan itu juga ditetapkan dengan berbagai pertimbangan mendalam oleh pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat.

Karena bila sekarang isu itu begitu heboh, dan Fauzi Bahar menyebut hal ini hanya persoalan miskomunikasi saja.

Kita sepakat dengan Fauzi Bahar bahwa aturan penggunaan jilbab dilingkungan sekolah memang local wisdom (kebijaksanaan daerah), apalagi masyarakat Minang yang kental dengan Islam.

Sebagai seorang muslim tentu saja memiliki kewajiban untuk melindungi siapapun dari potensi kejahatan termasuk siswi-siswi di sekolah umum.

Kebijakan pakai jilbab bukan hanya untuk kepentingan ajaran Islam tapi juga menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi perempuan.

Sebab itu menggunakan jilbab dapat memberikan manfaat yang besar bagi setiap perempuan, bila itu untuk tujuan melindungi diri.

Maka sesungguhnya aturan tersebut bila ditinjau dari sisi manfaat non muslim pun sejatinya menggunakan karena dapat menutupi tubuh.

Barangkali kita tidak menyadari jika banyak kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, dan perbuatan cabul yang terjadi sasarannya kerap mereka yang berbusana seksi.

Pakaian yang digunakan sangat minim, menampakkan paha bahkan menonjolkan sisi menggoda para pria. Inilah penyebab utama terjadinya kasus-kasus tersebut.

Namun sayangnya orang-orang yang membenci Islam menjadi perintah menggunakan jilbab sebagai gaya hidup kuno.

Wanita muslimah oleh mereka digambarkan sebagai teroris, pelacur, dan framing negatif lainnya. Itulah yang terjadi.

Namun disisi lain politisi non muslim justru dengan menggunakan atribut peci yang menjadi ciri khas muslim dipakai dan menggunakan baju koko. Apa itu tidak salah?

Lihat saja bagaimana penampilan Ruhut Sitompul, Ahok (BTP), James Riyadi, hingga Hary Tanoe atau pun lihat penampilan Tessa Kaunang dengan jilbab nya.

Bak seorang kiyai atau ustadzah mereka dengan pedenya memakai pakaian seperti seorang muslim keluar masuk pesantren dan masjid yang sebetulnya hal itu tidak layak mereka lakukan.

Mengapa itu tidak dipersoalkan?

Kita mesti adil menilai sebuah fenomena. Kasus di Padang itu bukan persoalan mengislamkan siswi Kristen. Namun upaya masyarakat muslim untuk melindungi generasi Islam dari kemaksiatan.

Sekali lagi ini bukan masalah intoleransi Islam tetapi bagaimana orang non muslim menghargai Islam.

Tidak mau memakai tentu tidak masalah jika aturan yang ada mengatur demikian. Namun jangan melihat kasus ini dari sisi negatif belaka dan mengkampanyekan nya sebagai sikap memusuhi Islam. (*)