oleh

Jika Komunis Terlahir Kembali, Pantaskah Kita Tetap Duduk Manis?

Jika Komunis Terlahir Kembali, Pantaskah Kita Tetap Duduk Manis?

Oleh  Intan Destia Helmi

ACEHSATU.COM — Hiruk pikuk isu komunisme kembali trending di lini masa media sosial.

Lazimnya, perbincangan partai yang dihabisi selama rezim Orde Baru Soeharto itu biasanya meningkat saat adanya peringatan gerakan pengkhianatan PKI di akhir bulan September 1965 atau yang dikenal dengan G30S/PKI.

Namun sebulan lalu, pada Mei 2020, isu PKI kembai jadi bahan sorotan netizen.

Jika kita mengulas kembali sejarah setelah kemerdekaan bangsa, begitu banyak pembantaian brutal yang dilakukan oleh pihak Partai Komunis Indonesia, yang sebagian besar korban pembantaian yang dianiaya pada saat itu masih menimbulkan misteri akan keberadaanya hingga kini.

Seperti salah seorang tokoh nasional, Otto Iskandardinata, yang diculik, dieksekusi, dan keberadaan mayatnya masih menimbulkan misteri hingga kini.

Keganasan PKI seperti menyembelih Kyai di Gontor, penggorokan leher kepada para sahabat Haji Dimyati yang merupakan sesama aktivis Masyumi, pemotongan telinga dan kemaluan kepada para sahabat-sahabat sesama aktivis Muhammad Amir, penyeretan menggunakan Jeep Wills sepanjang 3 Km hingga wafat kepada Kapolres Ismiadi, dll.

Cukup menjadikan alasan mengapa PKI dianggap sebagai pengkhianat bangsa dan harus ditumpas habis, seperti yang dilakukan pada masa Rezim Soeharto.

Paham marxisme-leninisme komunisme yang dianut oleh Partai Komunis Indonesia ini menuntut akan tidak adanya perbedaan pendapat, dan jika harus menjatuhkan korban demi mempertegak paham tersebut, hal tersebut menjadi sebuah kewajaran untuk dilakukan.

Maka tidak heran bila berjuta-juta penduduk tewas di Uni Soviet, Kamboja, dan Cina pada masa lalu hanya karena ingin meluruskan program dan mengukuhkan kekuasaan komunis.

Paham Komunis tidak mengakui adanya Tuhan dan Pancasila, hal tersebut yang memicu berbagai pemberontakan di masa orde lama.

Dulu, berbagai kalangan aktivis dan kaum politik tidak menyetujui berbagai kebijakan yang diajukan oleh pihak PKI, hal tersebutlah yang memicu berbagai aksi brutal oleh kaum PKI.

Lebih memilukannya lagi, disaat para pejuang bangsa berusaha merebut kemerdekaan dari belenggu penjajah, di saat itu pula PKI membuat pergolakan internal dengan merebut kekuasaan di Slawi, Serang, dll.

PKI pernah mengkhianati bangsa, apa jaminan mereka tidak mengulanginya ?

Generasi muda saat ini seperti terlihat acuh tak acuh akan kehadiran PKI.

Padahal, jika memang benar bahwa sendi-sendi PKI telah menguat karena paham dari PKI ini sangat dengan mudah mempengaruhi kaum ekonomi ke bawah yang disebabkan oleh sistem persamaan dalam hidup manusia, maka hal tersebut akan menjadi ancaman besar bagi perkembangan bangsa ini.

Indonesia adalah negara demokrasi dimana kebebasan berpendapat adalah hak setiap insan di tanah air.

Jika paham PKI mulai masuk ke dalam pemerintahan Indonesia, bagaimana masyarakat bisa bebas menyatakan pendapatnya ?

Akibat dari paham komunis, Ideologi bangsa Indonesia bisa berubah dan sangat berbahaya bagi kedaulatan negara Indonesia.

Dulu, Buya Hamka yang merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama difitnah dan dipenjara dengan mudahnya oleh PKI, karena tokoh PKI sangat dekat dengan pemerintah yang berkuasa saat itu.

Bayangkan jika paham komunis kembali masuk ke dalam pemerintahan Indonesia saat ini, bukan hanya tokoh-tokoh agama yang dijarah, melainkah paradigma generasi muda bisa tercemar.

Jika kaum yang menganut paham komunis berfikir bahwa penyamaan pendapat, hak, dan kewajiban adalah kesejahteraan mutlak, maka bukan hanya paham akan adanya tuhan yang dihilangkan.

Tetapi juga kemampuan manusia untuk berkembang dalam berbagai hal juga akan hilang, yang nantinya akan menuntun bangsa ini kearah kemiskinan yang disebabkan oleh paham yang mengikat pergerakan bangsa.

Kita lihat saja Korea Utara.

Negara ini mampu memproduksi nuklir sendiri, tetapi kekuatan ekonomi negara ini sangat lemah, bahkan tergolong dalam kondisi negara termiskin di dunia.

Sistem komunis yang mengikat mereka menjadi belenggu akan perkembangan, padahal secara kemampuan, negara ini mampu menyaingi berbagai negara maju lainnya.

Bayangkan jika sistem negara ini berganti dari yang demokrasi menjadi komunis, bukan hanya paham yang akan berganti, tetapi kekuatan ekonomi pun akan terkikis. Inilah yang menjadi poin penting akan paradigma bangsa yang harus dibenahi kembali.

Tembok berlin sudah roboh, Uni Soviet sudah berantakan, dan Cina sudah beralih paham kepada kapitalis. Jika Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia tidak di cabut, maka pergerakan komunis juga tidak akan melesat.

Sudah menjadi keharusan bagi generasi muda untuk memperkuat pertahanan dan keamanan bangsa dengan bersatu padu dalam menepis paham komunis, sehingga jika memang benar paham komunis tersebut sudah mulai tumbuh dan sudah memiliki banyak pengikut, generasi muda bisa mengambil andil dalam mencabut paham tersebut hingga keakar-akarnya, melalui berbagai aksi berbau demokrasi yang pada dasarnya memberikan manfaat bagi masyarakat banyak.

Bukan aksi yang berbau perang, melainkan aksi yang berbau ilmu pengetahuan, yaitu melalui kegiatan-kegiatan positif yang dapat mengubah paradigma masyarakat.

Jika bukan kita, siapa lagi?

Indeks Berita