Jembatan Asa, Harapan Rakyat dan Janji Manis Politisi

Jembatan tersebut menghubungkan dua Gampong dalam Kecamatan Nurussalam yaitu, Gampong Kuala Bagok dan Gampong Teupin Pukat.
Jembatan Nurussalam
Kondisi jembatan rusak di Nurussalam Aceh Timur yang belum dibangun kembali hingga kini. Foto Lukfar Razi/ACEHSATU.com

Sore Minggu pekan lalu, langit biru tampak cerah. Tak lama kemudian gumpalan awan hitam mengundang mendung saat melintasi jalan berbatu menuju sebuah gampong di pesisir Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur.

Terlihat perahu nelayan mulai bersandaran di pinggiran, dan tempat pembongkaran ikan yang biasa ramai di kunjungi warga mulai terlihat sepi.

Tak jauh dari tempat sandaran perahu nelayan terlihat jembatan sudah putus dan tidak beralas lagi.

Saat ACEHSATU sedang memotret kondisi jembatan terdengar sebuah suara berkata "Peu neu foto-foto bang, hana guna nyan, ka padum goe di peek but wartawan tapi hana soe pakoe." (Apa Abang foto-foto tidak ada guna, sudah berapa kali di muat oleh para wartawan tapi tidak ada respon.”

Jembatan Nurussalam
Kondisi jembatan rusak di Nurussalam Aceh Timur yang belum dibangun kembali hingga kini. Foto Lukfar Razi/ACEHSATU.com

Gerimis tak diundang pun perlahan mulai membasahi bumi sehingga Wartawan ACEHSATU pun mencari tempat berteduh sambil menikmati secangkir minum hangat bersama warga.

Banyak cerita jerih payah masyarakat untuk mempertahankan jembatan tersebut.

Dari cerita masyarakat, jembatan tersebut adalah jembatan yang menghubungkan dua Gampong dalam Kecamatan Nurussalam yaitu, Gampong Kuala Bagok dan Gampong Teupin Pukat.

Selain jembatan tersebut digunakan untuk lalu lalang masayarakat, jembatan tersebut juga salah satu jembatan yang digunakan menganggkut hasil laut nelayan.

Jembatan yang dibangun sejak tahun 2000 tersebut mulai rusak seiring berjalannya waktu.

Sebelum putus jembatan tersebut di perbaiki dengan anggaran swadaya masyarakat seadanya agar masih bisa tetap digunakan.

Naas, pada sabtu malam pada 3 Maret 2020, jembatan beralas papan dan leger besi tersebut ambruk akibat dilintasi mobil panther membawa rombongan tahlilan.

Saat mobil melintasi jembatan itu leger yang sudah rapuh dimakan usia pun patah yang membuat rombongan tecebur ke dalam sungai, namun semuanya terselamatkan.

Sampai saat ini tidak sedikit warga yang berang terhadap pemerintah yang dianggap mengabaikan rintihan rakyat.

Bagaimana tidak, jembatan tersebut lintas utama aktifitas warga dalam mencari rupiah dan juga untuk dilintasi para anak-anak yang menuntut ilmu.

Di tahun 2019, masyarakat menaruh harapan besar pada sejumlah caleg yang maju kursi Legeslatif baik itu DPRK, DPRA dan DPR-RI untuk pembangunan jembatan tersebut.

Ada dari mareka yang datang untuk melihat jembatan tersebut dengan menebar janji-janji manis.

Ada diantara mareka yang datang, hari ini sudah menduduki kursi Dewan namun kepedulian mareka lupa akan janji palsu mareka.

Jembatan Nurussalam
Kondisi jembatan rusak di Nurussalam Aceh Timur yang belum dibangun kembali hingga kini. Foto Lukfar Razi/ACEHSATU.com

"Dulu ada beberapa caleg DPR-RI dan bahkan sekarang sudah menjabat anggota DPR-RI datang kemari untuk melihat jembatan tersebut, ada diantra mareka yang berjanji akan berupaya membantu lobi agar jembatan tersebut di bangun,tapi kami rasa itu hanya janji manis saja," ujar Husaini, Panglima Laot Lhok Dalam kepada Lukfar Razi, Wartawan ACEHSATU.com.

Hari ini masyarakat hanya menunggu sesuatu yang tidak pernah kunjung tiba.

Warga desa sudah apatis, apakah jembatan itu akan diperbaiki atau tidak.

“Lebih baik kami pergi ke tambak mencari ikan dari pada pusing memikirkan jembatan yang tak pernah kunjung diperbaiki,” tukas Husaini menutup pembicaraan. (*)