Jembatan Ambruk Dihantam Banjir, Warga Lesten Bertaruh Nyawa Melintasi Sungai

Sebelumnya, petani bisa menggunakan kendaraan roda dua ketika hendak ke kebun, melalui jembatan Bailey yang dibangun Pemerintah Aceh tahun yang lalu.
Jembatan Lesten Ambruk
Jembatan Lesten di pedalaman Gayo Lues ambruk diterjang banjir bandang dua bulan lalu. Rangka baja jembatan itu kini melintang di bawah permukaan air. Warga harus bertaruh nyawa melintas sungai. Foto Ismail Baihaqi

Laporan Jurnalis Warga, Ismail Baihaqi dari Lesten Gayo Lues

ACEHSATU.COM — Lesten merupakan daerah terpencil yang terletak di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo lues.

Kawasan ini selain terkenal dengan ikan jurungnya, juga memiliki tanah yang subur.

Tanaman jenis apapun yang ditanam di daerah ini tumbuh subur, baik tanaman hortikultura maupun tanaman keras.

Karena itu, sebagian besar warga di daerah ini menggantungkan hidup dari hasil kebun.

Namun sebagian lokasi kebun mereka berada di seberang sungai yang bermuara ke Aceh Tamiang.

Sebelumnya, petani bisa menggunakan kendaraan roda dua ketika hendak ke kebun, melalui  jembatan Bailey yang dibangun Pemerintah Aceh tahun yang lalu.

Namun sayangnya, jembatan itu ambruk diterjang banjir bandang dua bulan lalu. Rangka baja jembatan itu kini melintang di bawah permukaan air.

Meski begitu, masih ada saja warga yang melintasi jembatan rusak itu agar bisa menyeberang sungai. Karena memang tidak ada akses lain.

Sebagian warga ada yang menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai.

Namun untuk warga yang tak punya perahu, terpaksa setiap hari berakrobat di atas kerangka jembatan yang ambruk, agar mereka tetap bisa berkebun yang menjadi sumber utama ekonomi mereka.

Mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat membahayakan nyawa mereka. Apalagi saat sungai sedang meluap. Namun mereka seperti tak punya pilihan.

Putusnya jembatan ini pun kemudian diikuti musibah lainnya. Karena warga tak bisa selalu mengawasi kebunnya, tanaman jagung yang hampir panen pun habis disantap gajah liar.

Kini, masyarakat mencoba bangkit dan mulai membersihkan kebun untuk kembali menanam jagung, meski harus mengeluarkan biaya ekstra dan bahkan mempertaruhkan nyawa setiap hendak pergi ke kebun.

Warga sangat berharap Pemerintah bisa memberi solusi atas nasib petani di Lesten, dengan membangun jembatan baru meski bersifat darurat.

Warga juga berharap jalan menuju Ibu kota Kecamatan Pining sejauh 18 Km diperbaiki.

Karena jalan itu merupakan urat nadi masyarakat, baik saat memasok kebutuhan sehari-hari, maupun saat hendak menjual hasil pertanian ke pasar di pusat kecamatan. (*)