Oleh Nur Apriana

ACEHSATU.COM | ACEH BESAR – Aceh memiliki beraneka ragam kekayaan alam yang mengagumkan, selain kekayaan alamnya provinsi paling ujung sumatra ini juga memiliki banyak peninggalan sejarah.

Salah satunya ialah Meuseum Rumah Cut Nyak Dhien yang berada di Lampisang, Peukan Bada Aceh Besar.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini sebenarnya merupakan replika yang dibuat sedemikian rupa agar tampak persis seperti rumah Aslinya, dikarenakan  rumah asli dari mendiang Cut Nyak Dhien telah dibakar oleh belanda pada tahun 1896 setelah diketahui bahwasanya Teuku Umar hanya berpura-pura membelot.

Kemudian pada tahun 1981 meseum ini dibangun kembali dan selesai pada tahun 1982. Setelah itu tahun 1987 museum Rumah Cut Nyak dhien diresmikan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan.

Museum Rumah Cut nyak Dhien berbentuk rumah panggung dengan bahan matrial kayu dan beratap daun rumbia seperti rumah adat aceh pada umumnya.

Untuk masuk ke rumah ini kita harus memaiki beberapa anak tangga dan pintu utamanya juga relatif kecil sehingga ketika masuk ke dalam rumah perlu sedikit membungkukkan badan.

Kemudian pada dinding ruangan di area depan, kita akan disuguhkan dengan foto-foto silsilah keluarga keturunan Cut Nyak Dhien. Di ruang lainnya kita bisa melihat kursi-kursi dan meja kayu yang menjadi tempat untuk para tokoh pejuang Aceh dalam menetapkan strategi perang.

Serta dibagian depan tampak sumur yang sanggat tinggi, ini dimaksudkan agar pasukan Belanda dahulunya tidak bisa meracuni air yang ada di dalam sumur.

Beranjak lebih dalam lagi kita akan menjumpai dua kamar dayang-dayang dari Cut Nyak Dhien yang mana kamar tersebut saling berhadapan.

Untuk kamar dari Cut Nyak Dhien sendiri berada di bagian paling belakang yang mana tujuannya untuk mengelabui belanda jika sewaktu-waktu Belanda masuk kedalam rumah itu.

Salahsatu Ruangan di Museum Rumah Cut Nyak Dhien, Aceh Besar. | Foto: Nur Apriana

Terlihat juga beberapa rencong serta benda tajam lainnya yang ikut di pajang dalam rumah Cut Nyak Dhien ini.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien tersebut banyak dikunjungi oleh wisatwan baik lokal maupun interlokal.

Salah satu penggunjung asal Jakarta, Euis mengatakan ia sangat tertarik dengan sejarah dari Cut Nyak Dhien dan kebudayaan yang ada di Aceh.

“Saya datang dari jakarta mau kesini penasaran sekali dengan sejarah rumah Cut Nyak dhien ini,” ungkapnya.

Selain itu, Euis berharap agar generasi muda tidak lupa akan sejarah dan warisan dari leluhur terdahulu serta ikut berperan dalam melestarikan budaya yang ada.

“Saya harap generasi muda itu jangan lupa sama sejarah terus jaga warisan dari leluhur kita serta tetap lestarikan budaya yang ada,” harapnya.

Wisatawan dapat berkunjung ke Rumah Cut Nyak Dhien ini setiap hari mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00 WIB. (*)