oleh

Jejak Ideologi Abu Razak

-Editorial-571 views

ACEHSATU.COM – Abu Razak  adalah salah satu korban meninggal dalam penyergapan polisi di kawasan Trienggadeng, Pidie Jaya, Kamis (19/9/2019).

Pria yang dulunya mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini punya sederet prestasi dalam bidang teknisi.

Peluang bekerja ke Jepang ia urungkan karena niatnya bergabung dengan GAM.

Pada pada tahun 1999, ia meninggalkan bangku kuliahnya di Pulau Jawa dan mulai bergabung dengan GAM.

‘Tamparan ideologi’ yang membuatnya meninggalkan pendidikannya.

Ia tergerak berjuang dengan pemuda-pemuda Aceh lain di medan perang.

Razak kecil sudah memperlihatkan sikap kreatif dan jiwa pantang mundur.

Saat kecil, Abu Razak sudah pandai merakit sepeda dari bahan kayu.

BACA: Isu KKB dan Rentetan Kekerasan Baru di Aceh

“Dia memang anak yang cerdas dan kreatif,” ucap Keuchik di Blang Ara, Kecamatan Paya Bakong—desa dimana ia dilahirkan dan dikebumikan pada Jumat malam kemarin.

Kemampuan merakit bom dan senjata kemudian membuat Abu Razak dikenal di kalangan GAM.

Ia juga berwara-wiri merakit senjata dan bom di sejumlah kantong-kantong GAM di Aceh.

Ketika konflik Aceh bertransformasikan ke dalam perjuangan politik, Abu Razak ternyata memendam rasa.

Saluran ideologisnya terputus.

Ia pun berubah.

Tahun 2015, Abu Razak  sempat di disidang di Pengadilan Negeri Lhoksukon atas kasus kepemilikan senjata api ilegal.

Kemarin, dalam insiden berdarah jelang magrib, 2 senjata api jenis senapan serbu disita polisi.

Polisi juga mengklaim menemukan sejumlah bukti dokumen yang menunjuk tentang adanya gerakan politik yang menamakan Kerajaan Islam Aceh Darussalam.

Dokumen itu menyebutkan Abu Razak sebagai Sultan Kerajaan Islam Aceh Darussalam dengan gelar Tun Sri Muhammad Azrul Mukminin Al Kahar.

Jejak digital juga meninggalkan sejumlah cuplikan Deklarasi Kerajaan Islam Aceh Darussalam.

Cuplikan terbaru meminta warga non Aceh meninggalkan Aceh sampai batas waktu 4 Desember 2019.

Tanggal tersebut memang jadi hari sakral.

Karena memiliki kaitan dengan ideologi GAM.

Dimana Deklarator, Dr Teungku Muhammad Hasan Ditiro mendeklarasikan GAM pada 4 Desember 1976 di Gunong Halimon.

Kini, ideolog-ideolog baru terus bermunculan.

Mentransformasikan diri dalam gerakan-gerakan baru.

Seperti halnya Abu Razak dan ideoliginya.

Ia pun melanjutkan ideologi menggunakan gerakan bersenjata.

Namun naas, aksinya berhasil digagalkan polisi.

Abu Razak pun pergi bersama ideologinya.

Jejaknya tetap akan terpatri.

Dari setiap lembaran sejarah. (*)

Komentar

Indeks Berita