oleh

Jeda

-Karikatur-1.129 views

SEBAHAGIAN dari kita mungkin masih ingat, 8 Februari 2007, pasangan Irwandi Yusuf – Muhammad Nazar dilantik di Gedung DPRA.

Sehari sebelumnya, puluhan ribu masyarakat Aceh berkumpul di lapangan Taman Ratu Safiatuddin.

Mereka merayakan kemenangan.

Ornamen berwarna merah sempat  mendominasi sejumlah wilayah Aceh ketika itu.

Menjadi efuoria sekaligus optimisme bagi Aceh baru dibawah kepemimpinan mantan pejuang kemerdekaan Aceh.

Iya, ketika itu Irwandi adalah representasi dari perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan dan penderitaan Aceh.

Ia sekaligus menjadi simbol bagi penolakan terhadap eksklusifitas politik dalam wujud partai.

Maju melalui jalur independen, ia berhasil meraih 768.745 suara, atau 38,20% dari total suara sah dari pelaksanaan pemilihan pada 11 Desember 2006.

Ia kembali unggul pada pilkada 2017 dengan 898.710 suara.

Irwandi adalah tokoh modern dalam lintasan sejarah Aceh yang muncul dalam turbulensi politik dan sosial.

Ia tak bisa tunduk atas satu arahan.

Baginya, kehendak umum adalah satu-satunya perintah politik yang harus dipatuhi.

Namun, “kehendak umum” seringkali menjadi kehendak elemen yang terkadang absurd dan justru menjerumuskan.

Jalan-jalan kekuasaan acap menyimpan lubang yang gelap.

Memaksa si empunya langkah untuk terjerembab dan mengambil jeda dari setiap hingar bingar, janji manis, dan dari propaganda yang sering dimainkannya sendiri. (*)

Komentar

Indeks Berita