Kolom Muhrain

Jangan Mau “Dikibuli” Puisi Sukmawati [Rudi Fofid Ambon Menulis]

Sebab itulah saya tidak pernah membayangkan Sukmawati Soekarnoputri tidur di dalam penjara, karena menulis dan membaca puisi “Ibu Indonesia”.

Oleh: Rudi Fofid 

“I don’t believe Bible
I don’t believe Jesus
I don’t believe Budha
I don’t believe Beatles
I just believe in me
Yoko and me
And that’s reality.”
(God, John Lennon feat Plastic Ono Band, 1970).

Kontroversial John Lennon sangat individual, ia cetuskan lirik-lirik di atas: Saya tidak percaya Alkitab, saya tidak percaya Yesus, saya tidak percaya Budha.

Pernyataan “saya tidak percaya” dalam lirik lagu “God” sudah 48 tahun beredar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bisa diakses di youtube.

Lirik lagu ini sesungguhnya lebih serius ketimbang Sukmawati Soekarnoputri dalam puisi “Ibu Indonesia”. John Lennon menulis “tidak percaya”, Sukmawati menulis tidak tahu. Beda.

Reaksi publik terhadap puisi “Ibu Indonesia” karangan Sukmawati tiba-tiba menjad riuh sekali. Indonesia ramai karena puisi yang ditulis dan dibaca penyairnya sendiri tersebut.

Ustad Felix Siau bereaksi dengan menulis puisi “Kamu Tak Tahu Syariat”, dan Irene Radjiman menulis “Ibu Muslimah”. Saya juga menulis sebuah puisi dengan lebih dulu mempertanyakan posisi berdiri saya.

Apakah saya ada dalam kelompok tersinggung, atau memihak Sukmawati? Apakah saya netral diam, netral bingung, atau netral cuek apatis? Saya temukan posisi saya. Saya tidak sedang berhadap-hadapan dengan Sukmawati.

Puisi “Ibu Indonesia” mengandung satu bahan tidak lazim, yang mengejutkan semua pihak, baik masyarakat puisi, masyarakat Islam, maupun masyarakat Indonesia.

Respon sangat beragam bersamaan dengan ini, kritik kepada Sukmawati tetap tajam. Memang, ada banyak keharuan juga, tetapi untuk Sukmawati, amarah masih bagai bara.

Saya sadar, jangan sentuh elemen-elemen keimanan yang sakral, jika masih ada elemen lain yang secara kreatif bisa dikelola, tapi diksi yang dipilih Sukmawati adalah bukan kuasa saya, melainkan Sukmawati sendirilah.

Puisi adalah Kreasi Kibul

Apa itu puisi, puisi dibangun pakai alat dan bahan apa, untuk apa ada puisi, bagaimana menafsir dan memahami puisi, bagaimana memperlakukan puisi, bagaimana memperlakukan Sukmawati Soekarnoputri yang menjadi penyair untuk puisi “Ibu Indonesia”?

Kepakaran akademik saat ini memang dibutuhkan untuk menelaah puisi, sebab puisi itu unik, puisi itu khas, puisi itu prismatik, puisi itu imajinatif, puisi itu liar dan lebih pelik adalah puisi bukan barang sederhana.

Supaya Indonesia sanggup membaca “Ibu Indonesia” dengan mata batin yang damai, bukan dua bola mata rabun, apalagi buta baca teks puisi. Penjelasan kiranya menyangkut kedudukan satire dengan gaya ironi, sarkasme, maupun parodi.

Kalau kita tuntas meraba puisi, maka kita akan menemukan bahwa sejatinya puisi hanyalah sebuah kepura-puraan. Imajinasi penyair telah melahirkan komposisi simbolik yang sebenarnya pura-pura, seolah-olah, tidak nyata, palsu, hoax.

Sebut sajalah “kibul” (bukan tipu dalam arti tindak pidana yang diatur KUHP). Kita lihat, betapa puisi-puisi penuh dengan kibul. Penyair mengibuli pembaca puisi dan publik. Artinya, komposisi puisi hanyalah sebuah komposisi kibul.

Makanya, kibul harus dibedakan dengan kebenaran faktual. Kita perlu bedakan, maka fakta, mana kibul, mana kalimat konkrit, mana kalimat imajinatif yang kibul.

Kita baca cuplikan beberapa puisi penyair Indonesia:

“Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali” (Diponegoro oleh Chairil Anwar).

Jika kita tidak pakai mata puisi, maka kita akan terkurung di sepasang mata bola kita yang kasar. Maka reaksi kita mendengar larik di atas adalah: “Serius? Pangeran Diponegoro sudah hidup kembali? Bangkit dari kubur?”
Tentu tidak.

Itulah puisi, inilah kibul. Bukan makna sebenarnya. Terhadap fakta larik imajinatif “Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali”, kita bisa kembali ke dunia konkrit dengan membuat penyangkalan: “Di masa pembangunan ini, tuan Diponegoro tidak hidup kembali”.

“Beta Pattiradjawane/ yang dijaga datu-datu/ Cuma satu” (Cerita Buat Dien Tamaela oleh Chairil Anwar juga). Chairil Anwar kibul. Chairil bilang: “Beta Pattiradjawane”. Itu berarti Chairil Anwar bermarga Pattiradjawane. Jadi selengkapnya: Chairil Anwar Pattiradjawane.”

Terhadap frasa imajinatif: “Beta Pattiradjawane”, kita dapat membuat penyangkalan supaya kembali ke dunia konkrit: Beta (Chairil Anwar) bukan Pattiradjawane.

Mari baca puisi karya Joko Pinorbo berjudul Mei, pada bait pertama:

“Tubuhmu yang cantik, Mei
Telah kaupersembahkan kepada api
Kau pamit mandi sore itu
Kau mandi api”

Joko Pinurbo membuat puisi tentang peristiwa bulan Mei 1998, yang telah memakan korban antara lain gadis-gadis Indonesia keturunan Tionghoa yang diwakilkan dengan simbol nama perempuan Tionghoa, Mei. Entah Mei Lan, Mei Hwa, dan Mei lain.

Sebuah puisi bukanlah gambaran sebenarnya dari satu realitas, melainkan hanya rupa, hanya citra, hanya bayang, hanya simbol, hanya seolah-olah, hanya pura-pura, hanya kibul.

Membaca puisi bukan seperti membaca berita surat kabar. Berita adalah sesuatu yang faktual. Jurnalis tidak pakai bahasa bunga untuk kelak ditafsir ganda melainkan demi satu makna tunggal yang dibaca segala usia, segala zaman, dengan satu pengertian yang sama.

Membaca puisi haruslah bebas menjelajah wilayah imajinasi yang tidak tersurat melainkan tersirat, sehingga makna konotatiflah yang didapat.

Membaca “Ibu Indonesia”

Tidak tampilkan seluruh badan puisi “Ibu Indonesia” di sini, melainkan bagian-bagian paling dikritik atau dipersoalkan. Memakai huruf kapital pada kata-kata paling sensitif, menurut saya.

Aku TAK TAHU SYARIAT ISLAM
Yang KUTAHU SARI KONDE ibu Indonesia sangatlah indah
LEBIH CANTIK DARI CADAR DIRIMU

Aku TAK TAHU SYARIAT ISLAM
Yang kutahu SUARA KIDUNG Ibu Indonesia, sangatlah elok
LEBIH MERDU dari ALUNAN AZANMU

Setidaknya dari dua bait ini, terdapat tiga bagian sensitif: Pertama: Aku tak tahu syariat Islam. Kedua: Sari konde lebih cantik dari cadar dirimu. Ketiga: Suara kidung lebih merdu alunan azanmu.

Bagaimana membaca, menerjemahkan, menafsir ini? Apakah hanya Sukmawati dan Tuhan yang tahu? Anggaplah Sukmawati sudah mati, dan tak ada kesempatan kita meminta penjelasan. Tentu, pertama-tama kita perlu kembali ke hakikat hoax, kibul. Ini cuma pura-pura.

“Aku tak tahu syariat Islam” Begitulah larik pembuka. “Aku” adalah aku liris, bukan penulis, bukan Sukmawati. Ini adalah “Aku” yang bukan mewakili Islam. Maka mari kembali kembali ke dunia konkrit.

Faktanya, Sukmawati sebagai perempuan Muslim, pasti tahu apa itu Syariat Islam. Jadi larik puisi “Aku tak tahu syariat Islam” hanyalah pura-pura, ini makna konotatif. Sila tafsir siapa yang tidak tahu, yang jelas, bukan Islam.

Kedua: Sari konde lebih cantik dari cadar dirimu.Cantik relatif. Namun membuat perbandingan antara “sari konde” dan “cadar dirimu”. Dalam realitas hidup, sungguh tiada perlu karena kedudukan sari konde dan cadar tidak sama.

Cadar adalah simbol agama, dan berhubungan dengan ajaran maupun praktik keagamaan. Konde hanyalah tradisi tata busana dan rias kecantikan. Tidak etis menempatkan keduanya sejajar dan menyebut konde lebih cantik.

Akan tetapi, lagi-lagi ini puisi. Bukan itu maksud yang tersurat. Itu pura-pura, kibul. Jadi, kembali ke realitas, cadar pasti lebih bernilai dari sari konde sebab cadar atau jilbab adalah bagian dari penghayatan keimanan seorang perempuan Muslim
.
Ketiga: Suara kidung lebih merdu alunan azanmu.
Larik ini kalau dibaca seperti membaca berita, atau kalimat konkrit, saya sungguh keberatan. Sejak kecil saya yang Katolik sudah terbiasa dengan lantunan azan. Saya menikmatinya dengan segenap keindahan, keagungan, dan kemuliaan. Sejak kapan alunan azan bisa dikalahkan oleh suara kidung Ibu Indonesia? Banyak sahabat dan saudara Muslim paling marah dengan larik ini. Sebab di dalam azan, bukankah mengalun kalimat Basmalah dan Dua Kalimat Syahdat?

Nah, sampai di sini, lagi-lagi perlu ingat bahwa larik “Suara kidung lebih merdu alunan azanmu” hanyalah kibul. Tidak benar itu. Yang benar adalah penyangkalannya: Alunan azan lebih merdu suara kidung ibu Indonesia”.

Jangan Mau Dikibuli Puisi Sukmawati

Kondisi dari situasi Indonesia akhir-akhir ini, tiba-tiba terjadi geger oleh adanya puisi “Ibu Indonesia”. Di Ambon, saya bersama-sama komunitas-komunitas muda pegiat sastra sedang bergerak meneguhkan perdamaian, rekonsiliasi dan persaudaraan.

Kami bangun budaya cinta lintas batas dengan mengusung puisi sebagai media perjumpaan kreatif orang-orang muda Islam dan Kristen di Maluku, dari latar belakang berbeda, bisa dipertemukan oleh puisi dan kami makin saling sayang. Kami mencintai puisi dan sedang berjuang menulis puisi untuk dua hal:

Pertama: Semoga Allah dimuliakan melalui puisi-puisi kami. Kedua: Semoga kami manusia memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat karena puisi.

Kami hormat puisi, merayakan hari puisi, dan merawat puisi dengan segenap rasa sayang. Sebab itu, sungguh sedih, sebuah puisi telah melukai perasaan begitu banyak orang.

Saya tidak berhak memaksa umat Islam Indonesia dan dunia supaya tidak tersinggung, sebab perasaan tersinggung adalah sebuah perasaan yang sangat personal dan tak dapat dipertukarkan dengan perasaan saya.

Saya percaya bahwa tradisi agama, tradisi bangsa, untuk saling mendengar, akan berlanjut pada saling memahami. Maaf itu gampang, yang penting adalah pikir dan rasa sudah saling bertaut.

Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menulis catatan ini secara tidak akademis, dan berharap ada pernyataan akademis dari para profesor puisi di Indonesia tentang puisi Sukmawati, “Ibu Indonesia”.

Semoga kita semua ingat bahwa puisi, teater, film, lukisan, patung, instalasi dan berbagai karya seni, hanyalah pura-pura belaka.

Jejeran ukiran kayu berbentuk penis manusia di toko-toko sovenir hanyalah batang kayu yang pura-pura belaka. Jadi, jangan mau dikibuli puisi-puisi Chairil Anwar, WS Rendra, penyair di ujung Bumi manapun termasuk puisi Sukmawati Soekarnoputri.

Saya percaya, jika Allah dihujat, Allah tetap mulia tak ternoda, jika nabi dihujat pun nabi tetap mulia tak ternoda, jika kitab-kitab suci dihina, tetaplah kitab suci yang tak ternoda.

Sebab itulah saya tidak pernah membayangkan Sukmawati Soekarnoputri tidur di dalam penjara, karena menulis dan membaca puisi “Ibu Indonesia”.

Semoga diksi kibul, pura-pura, dalam puisi “Ibu Indonesia” tidak menguras energi bangsa besar ini untuk “merajam” dengan kata hujatan. Biarlah Allah tetap akbar, Islam tetap takbir, puisi tetap netral. Indonesia selalu ada sepanjang usia Bumi.

Salam damai dari tanah yang manis!

Ambon, 4 April 2018

*Rudi Fofid menulis uraian lengkap terhadap puisi Sukmawati di akun facebook pribadinya, tulisan ini sudah disesuaikan untuk tampilan website.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top