oleh

Jangan Marahi Istrimu dan Pahami Perasaannya

-Kolom-167 views

ACEHSATU.COM – Marah adalah sebuah emosi. Tidak ada manusia yang tidak pernah marah sepanjang hidupnya walaupun sekali saja. Hanya bila ia disalurkan dengan tepat maka emosi marah tersebut akan terukur pula. Tapi bila tidak, justru akan menjadi awal petaka besar datang. Boleh jadi.

Begitu pula dalam kehidupan pasangan suami istri, rasa marah pun sering mewarnai hari-hari mereka. Terkadang seorang suami memiliki sifat pemarah akut dan berlebihan. Atau sebaliknya, si istri yang galak nggak kepalang, minta ampun. Bahkan tak jarang bila mereka ketemu, suasananya terasa seperti di terminal saja.

Dalam Islam, bagi seorang suami diperintahkan untuk memahami akan kebutuhan wanita untuk di kasihi bukan dimarahi. Sebagaimana sikap Nabi Muhammad Saw yang sangat mencintai anak-anak dan orang-orang (baca: kaum) perempuan.

Bahkan Baginda Nabi Muhammad Saw pernah mengibaratkan wanita seperti botol-botol kaca. Begitulah beliau mengumpamakan seorang suami harus pandai menjaga botol-botol tersebut agar tidak mudah pecah dan jatuh.

Dalam sebuah hadits Rasulullah yang mulia berpesan kepada sahabatnya yang bernama Anjasah, ini kata beliau:

“Pelan-pelan saja, hai Anjasah. Jagalah botol-botol kaca itu dengan penuh kelembutan.” (HR. Abu Dawud).

Seringkali sebagian suami menyebarkan begitu banyak tuntutan atas istrinya, harus begini dan begutu. Dengan bahasa khutbah yang berseliweran secara liar dalam kehidupan sehari-hari dalam rumah tangga mereka.

Seorang suami melarang ini dan itu, mengharamkan ini dan itu, atau dengan petuah-petuah sejenis itu. Para suami tidak menyadari bahwa tidak baik berkata-kata demikian. Tentu saja bukan semua petuah itu keliru dan tidak dibolehkan atau tidak benar. Bukan seperti demikian.

Tapi hendaknya kita sama-sama menyadari bahwa wanita itu juga manusia biasa yang memiliki perasaan, emosi, dan harga diri. Wanita itu bukan robot. Mereka bukan pelayan kita yang sesungguhnya. Ia pada hakikatnya adalah pelayan bagi Allah sebagaimana juga suami.

Sehingga wanita butuh digauli secara baik, diperlakukan secara terhormat, dan dijadikan sebagai pendamping hidup kita yang berfungsi untuk saling mengisi, saling melengkapi, dan saling memberi manfaat satu sama lain.

Wanita bukan sekedar butuh diberi petunjuk dan bimbingan, tapi juga butuh disayang, dikasihi, bahkan dikasihani. Begitu kata salah seorang penulis buku populer tentang kewanitaan.

Ia menuliskan lebih jauh, kasihanilah istri yang tengah berjuang melawan segala keterbatasannya untuk menjadi wanita yang shalihah. Coba lihat betapa berat tugas yang diembannya. Istri Anda.

Seorang istri (bahkan semua wanita) harus melawan segala dorongan jiwa untuk menggoda kaum lelaki, dengan menjaga bicara, menjaga cara berpakaian, dalam bersikap dan bergaul. Apalagi di era bebas teknologi ini. Media untuk mewujudkan dorongan itu begitu mudah dilakukan bila ia tidak mampu menjaga diri.

Selain itu ia juga harus merawat anak-anak, mengerjakan beragam pekerjaan rumah, melayani suaminya. Belum lagi beban pekejaan tambahan dalam membantu suami untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Mengajari anak-anak mereka belajar, membantu menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Duuuh, seabrek pekerjaan tersebut kadang harus diselesaikan dalam sekali waktu. Bisakah Anda bayangkan bagaimana rumitnya?

Bahkan itu semua dilakukan disela-sela ia menjalankan kewajibannya melaksanakan ibadah-ibadah khusus kepada Allah, seperti shalat, membaca Al-Quran, berdzikir, berpuasa, dan lain sebagainya. Tidakkah engkau mau mengulurkan tali kasih buat mereka?

Lantas Bagaimana Caranya?

Barangkali memerlukan sedikit perubahan. Perubahan kecil yang kita lakukan dalam memperlakukan istri akan memberikan warna lain yang dirasakan oleh mereka.

Ya, kita bisa mengawalinya dengan sedikit mengubah cara bertutur kata, cara kita memberi nasehat, cara memerintah, cara kita menegur dan memperbaiki kekeliruan istri. Intinya perubahan sikap kita (suami) terhadap istri. Dan itu cukup sederhana dan tidak memerlukan pengorbanan yang begitu besar.

Terkadang sebuah pujian kecil yang mungkin tidak diharapkan oleh istri pun, tapi bisa membuat mereka merasa dihargai karena Anda ucapkan dengan tulus, pun perlu kita lakukan. Hal seperti itulah yang saya maksud perubahan-perubahan kecil.

Ketimbang Anda mengatakan sumpah serapah, mencela, membentak, dan menyindir secara terang-terangan justru membuat keadaan semakin buruk. Jiwa mereka akan sedih dan terpukul oleh karena ucapan tidak baik seorang suami. Ini bisa membuat hari-hari yang mereka lalui jadi gelap dan diselimuti awan hitam.

Karena itu, tentu akan lebih baik bila kita mengungkapkannya dengan cara lain. Walaupun bermaksud menegur atas kekeliruan yang mungkin telah dilakukan atau kita hendak memberi nasehat agar apa yang dilakukan hari ini jadi lebih baik kedepannya. Maka ucapkanlah dengan kalimat yang ma’ruf, lemah lembut, dan dalam suasana penuh keakraban.

Lalu apakah sulit? Mungkin saja bagi sebagian orang melakukan hal seperti itu terasa sulit bahkan sangat rumit. Namun memang demikianlah proses pembentukan dan kebiasaan. Harus ada perjuangan di situ.

Tapi, selama kita teringat akan tanggung jawab kita, dan teringat akan betapa rapuhnya diri wanita, kita akan terdorong untuk berusaha menata sikap dan cara bertutur kata kita kepada istri. Walau bagaimana pun sulitnya.

Memahami Bahasa Wanita

Hasil penelitian yang telah dilakukan selama satu dasawarsa tentang bagaimana seorang pria berkomunikasi dengan wanita atau bagaimana cara berkomunikasi antara pria dan wanita. Secara pasti, penemuan tersebut memiliki perbedaan yang sangat kontras antara keduanya.

Seorang pria yang mungkin belum begitu mengenal sosok wanita, mereka akan dibuat kebingungan. Kebingungan terbesar mereka adalah pada hal mengapa wanita itu banyak bicara. Dan kebanyakan lelaki (suami) yang tidak suka bila istrinya banyak bicara (dikatakan cerewet).

Ketahuilah para suami, secara historis sejak zaman dulu para wanita berkembang didalam sebuah situasi hidup berkelompok dengan para wanita lainnya dan anak-anak yang semuanya berada di dekat gua. Karenanya kemampuan untuk mengikat dan membina hubungan adalah hal tertinggi demi kepentingan bertahan hidup para wanita kala itu.

Ketika para wanita sibuk melakukan kegiatan apa saja secara bersama-sama, mereka akan terus-menerus berbicara sebagai sarana untuk membangun ikatan. Maka kita lihat tatkala wanita modern pergi berkumpul (berbelanja di mal atau acara lainnya) mereka masih tetap bicara terus menerus.

Wanita tidak membutuhkan adanya suatu alasan untuk melakukan percakapan dan tidak membutuhkan tujuan akhir. Mereka bercakap-cakap untuk membina sebuah hubungan satu sama lain.

Bahkan hasil pemindaian otak MRI memperlihatkan otak seorang wanita dengan mudahnya dapat menghasilkan 6.000-8.000 kata yang dapat diucapkan dalam sehari. Berbeda dengan pria yang hanya 2.000-4.000 kata sehari. Oleh sebab itu, maka wajar bila istri kita sering banyak bicara atau mengomel.

Karena itu bersyukurlah wahai para suami tatkala memiliki istri dan diajak berbicara berarti itu sebagai pertanda bahwa ia sedang menjalin ikatan dengan Anda, dan mereka tidaklah berharap (wajib) Anda memberikan solusi namun cukup hanya didengarkan saja.

Pahamilah, ketika mereka berbagi emosi atau masalahnya dengan seseorang, dia sedang memperlihatkan bahwa dia mempercayai orang itu karena rahasia-rahasia yang sedang diberitahukannya.

Seperti kata Barbara dan Allan Peace dalam buku mereka Why Women Cry, “tatkala seorang wanita sedang berbagi rahasia pribadinya dengan Anda, dia bukannya sedang mengeluh—itu artinya dia mempercayai Anda.”

Justru yang harus diwaspadai oleh para suami (lelaki) adalah bila dia tidak suka atau tidak cinta kepada orang itu, tidak setuju dengan apa yang sedang dikatakan, atau dia ingin menghukum orang tersebut, dia akan berhenti bicara. Kebisuan digunakan sebagai sebuah bentuk hukuman.

Tapi bila itu membawa pria yang ingin dihukum pada kedamaian. Maka dia akan lakukan langkah kedua yaitu, “bila seorang istri (wanita) ingin menghukum seorang pria, cara terbaik adalah dengan bicara nonstop kepadanya dan terus mengubah-ubah pokok pembicaraan.” kata Barbara. (*)

Komentar

Indeks Berita