oleh

Isu KKB dan Rentetan Kekerasan Baru di Aceh

BARU-baru ini publik di Aceh dikejutkan dengan persitiwa kontak tembak antara kelompok kriminal bersenjata (KKB) dengan aparat gabungan Polda Aceh dan Polres Aceh Timur di di Dusun Seuneubok Teungoh, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur.

Kejadian kontak tembak itu adalah peristiwa penggerebekan kedua yang menurut polisi, untuk menciduk anggota kelompok Tentara Mujahidin Kerajaan Aceh Darussalam.

Polisi cukup bukti menguatkan dugaan bahwa KKB ini adalah kelompok yang mengklaim sebagai Tentara Mujahidin Kerajaan Aceh Darussalam.

BACA: Begini Cara KKB Tentara Mujahidin Aceh Merekrut Anggotanya

Pasalnya, sejumlah lembaran aturan organisasi itu dan bendera berhasil disita aparat kepolisian.

Eksistensi kelompok ini mulai mencuat ke publik tatkala mereka memplokamirkan diri sebagai Pasukan Mujahidin Aceh beredar di chanel YouTube pada tahun 2018.

Sejumlah orang menenteng senjata api laras panjang menggunakan pakaian putih dan menutup muka dengan sorban mengusung bendera warna hijau.

Prosesi pengibaran bendera diiringi lantunan azan. Setelah itu, seorang pria tanpa penutup wajah membacakan deklarasi kelompok ini.

BACA: Al Chaidar: KKB Tentara Mujahidin tidak Berafiliasi dengan ISIS, Cari Dana Sendiri Lewat Cara Ini

Memasuki tahun 2019, polisi berhasil mendeteksi kelompok ini dan menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat dalam jaringan KKB ini.

Awalnya, polisi berhasil menangkap salah satu angota KKB ini berinisial Nas dari tempat persembunyiannya di Aceh Utara.

Setelah dikembangkan, polisi berhasil menangkap Sul alias Sal di Lhoknibong, Aceh Timur.

Kemudian polisi juga berupaya menangkap ML alias AR, di Desa Seuneubok Teupin, Peureulak Timur, Aceh Timur, Minggu (17/2/2019).

Polisi mengklaim ML alias AR salah satu dari sejumlah nama yang dicari terkait kasus penembakan Bripka Anumerta Faisal di Aceh Utara.

BACA: Ternyata, KKB Tentara Mujahidin Aceh Hanya Beranggotakan Belasan Orang

Namun, karena kabur, ML ditembak hingga tewas.

Saat itu polisi berhasil mengamankan senjata api jenis AK-56 bersama 64 amunisi dan jubah yang digunakan Nas saat berlangsung Upacara Deklarasi Kerajaan Islam Aceh.

Nas dan Sul alias Sal tercatat sebagai warga Aceh Timur.

Dua bulan kemudian, atau tepat sepekan lalu, polisi kembali menangkap pimpinan dan anggota KKB pada hari Rabu (24/4/2019) sekira pukul 20.00 wib, di Dusun Seuneubok Teungoh, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur.

BACA: Pengamat Terorisme Sebut KKB di Aceh Timur Muncul Karena Kecewa dengan MoU Helsinki

Dua terduga, NA (45) dan seorang anggotanya berinisial M (34) yang merupakan warga Aceh Timur berhasil dibekuk.

Ilustrasi. Foto | Net

Munculnya kelompok bersenjata baru ini memantik rasa kekhawatiran terhadap meningkatnya gangguan keamanan yang berdampak kepada stabilitas politik dan ekonomi di Aceh.

Masyarakat Aceh yang kini larut dalam efouria demokrasi tentu tidak semudah itu bisa menerima kehadiran kelompok-kelompok ini.

Seperti yang dikemukakan seorang tokoh politik partai lokal yang enggan namanya dipublikasi.

“Saat ini bukan masanya kita berjuang dengan senjata, sejak transformasi perjuangan ke dalam bentuk diplomasi, semua bentuk kekerasan sudah kita tinggalkan,” katanya kepada ACEHSATU.com, Rabu (1/5/2019).

Jika melihat analisa yang dikemukakan oleh Pengamat Terorisme, Al Chaidar sekaligus Dosen Unimal Lhokseumawe.

BACA: Nasir Agung, Pimpinan Kelompok Tentra Mujahidin yang Tewas dalam Kontak Tembak di Peureulak Ternyata Kabur dari LP Lhokseumawe

Yang menarik dicermati dari analisa Al Chaidar adalah, munculnya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Aceh Timur ini karena kekecewaan mereka terhadap MoU Helsinki.

Sementara MoU Helsinki adalah sesuatu yang sudah disepakati di semua elemen masyarakat Aceh dan sudah dirawat hingga 14 tahun kini.

“Mereka bukan kelompok terorisme, dan tidak berafiliasi ke ISIS atau Al Qaeda,” ujar Al Chaidar dalam wawancara khusus dengan  ACEHSATU.com, Minggu (28/4/2019).

Alasannya, kelompok bersenjata itu kecewa dengan MoU Helsinki karena perjanjian tersebut belum bisa menyejahterakan masyarakat.

BACA: BREAKING NEWS: Baku Tembak dengan Kelompok Bersenjata di Peureulak, Polisi Tangkap 2 Pelaku dan Sita 3 Pucuk AK-47

Harapan memiliki negara sendiri berbentuk kerajaan, menjadi alasan kelompok ini kembali mengangkat senjata.

Jika ini terus dipaksakan, sudah pasti kekerasan baru sulit dihentikan.

Korban tentu akan terus berjatuhan, dan sangat disesalkan jika korban dari kalangan sipil.

Dan rentetan kekerasan baru akan jadi sejarah yang berulang di Tanah Serambi Mekkah. (*)

Komentar

Indeks Berita