Isi Surat Keturunan Sultan Aceh kepada Presiden Turki

Keturunan Sultan Aceh, Cut Putri, yang juga pemimpin Darud Donya mengirimkan surat kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Keturunan Sultan Aceh
Foto: Pemimpin Darud Donya Cut Putri (baju merah) saat menemani kunjungan Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Isik (dua kiri), di komplek pemakaman Turki, di Banda Aceh, Jumat (13/10/2017)-(ANTARA)

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Keturunan Sultan Aceh, Cut Putri, yang juga pemimpin Darud Donya mengirimkan surat kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Apa isinya?

“Surat itu berisi permohonan bantuan kepada pemimpin Turki untuk membantu Aceh yang kini tengah berada dalam kondisi darurat,” kata Cut Putri seperti dilansir dari Antara, Jumat (8/10/2021).

Cut Putri mengatakan surat itu berisi soal Aceh yang membutuhkan bantuan Turki untuk menyelamatkan khazanah dan warisan Islam Asia Tenggara di Aceh.

Menurutnya, kondisi warisan Islam di Aceh sedang pada masa kritis dan terancam dimusnahkan.

Cut Putri menyebut situs sejarah itu termasuk makam kuno para raja dan ulama kesultanan Aceh Darussalam. Ada juga situs makam para ulama dan perwira pasukan Turki Usmani yang dulu dikirim oleh Sultan Turki Utsmani untuk membantu kesultanan Aceh.

Keturunan Sultan Aceh
Foto: Pemimpin Darud Donya Cut Putri (baju merah) saat menemani kunjungan Wakil Perdana Menteri Turki Fikri Isik (dua kiri), di komplek pemakaman Turki, di Banda Aceh, Jumat (13/10/2017)-(ANTARA)

Situs yang paling terancam, kata Cut Putri, adalah khazanah peninggalan sejarah peradaban bangsa Turki di kawasan situs sejarah Istana Darul Makmur Kuta Farushah Pindi Gampong Pande Banda Aceh. Situs tersebut terancam musnah dengan dibangunnya proyek IPAL Banda Aceh.

"Kawasan bersejarah berisi ribuan makam para raja dan ulama kesultanan Aceh Darussalam dan peninggalan bangunan-bangunan kuno," ujarnya.

Cut Putri mengatakan proyek IPAL mendapat protes dari sebagian masyarakat. Menurutnya, segala upaya sudah dilakukan untuk mencegah musnahnya warisan budaya Islam di Aceh.

"Para raja dan ulama Kesultanan Aceh adalah para aulia, pendiri tonggak sejarah tegaknya dakwah Islam di Asia Tenggara, yang telah memilih tanah Aceh sebagai tempat bersemayam tulang belulangnya," kata Cut Putri.

Atas dasar itu, Cut Putri menyatakan Aceh dalam kondisi darurat dan sangat membutuhkan bantuan Presiden Turki, Erdogan dan dukungan rakyat Turki. Dia mengatakan pihaknya telah membahas hal ini dengan Wakil Perdana Menteri Turki dalam kunjungan kenegaraan bersama Duta Besar Turki ke Aceh.

"Besar harapan kami agar Presiden Recep Tayyip Erdogan bersama segenap rakyat Turki dapat membantu kami di sini yang sedang berjuang," ujarnya.

Cut Putri juga mengatakan hubungan diplomatik antara Kesultanan Aceh dan Turki telah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Kesultanan Aceh dan Turki, katanya, saling membantu dalam dakwah Islam dan untuk melawan penjajahan para musuh.

"Sejarah juga mencatat eratnya korespondensi antarkedua negara, termasuk permohonan bantuan dari para Sultan Aceh kepada Turki, saat Aceh berada dalam kondisi darurat," ucap Cut Putri.

Seperti diketahui, Pemerintah Banda Aceh kembali melanjutkan pembangunan proyek IPAL di Gampong Pande kota setempat pada akhir Februari 2021. Bangunan itu sempat dihentikan karena banyak ditemukan situs bersejarah seperti nisan makam raja dan ulama Aceh pada 2017.

Kelanjutan pembangunan tersebut menuai kritik serta penolakan dari sebagian masyarakat Aceh, terutama warga setempat, budayawan hingga keturunan sultan Aceh. (*)