Home / Kolom Muhrain / Ironisme Sajak Din Saja dalam Kotak Pandora [Apresiasi Sajak Din Saja]

Ironisme Sajak Din Saja dalam Kotak Pandora [Apresiasi Sajak Din Saja]

Kepada Yang Terhormat

Oleh: Din Saja

Apakah pembangunan untuk rakyat, tidak
Apakah hasil kekayaan bumi untuk rakyat, tidak
Apakah dunia bisnis dan perdagangan milik rakyat, tidak
Apakah kedaulatan milik rakyat, tidak
Apakah pendidikan untuk mencerdaskan rakyat, tidak
Apakah demokrasi untuk rakyat, tidak
Apakah kebebasan milik rakyat, tidak
Apakah kesenian dan kebudayaan dari rakyat, tidak
Apakah seluruh rakyat sudah sejahtera, tidak
Apakah kesehatan gratis untuk rakyat, tidak
Apakah listrik dan air minuman gratis untuk rakyat, tidak

Apakah rakyat jadi pengungsi di negeri ini, benar.

Banda Aceh, 7 Februari 2018.

Ironisme terbaca begitu kuat dalam sajak-sajak Din Saja. Penyair yang juga seniman teater tersebut berbicara tentang keseharian manusia Indonesia, gamblang dan menjauh dari pemakaian diksikalitas kiasan dan klise.

Selain ironi, selaku pembaca banyak sajak Din Saja, penulis menangkap pesan “Kotak Pandora” melalui pemakaian fakta puitis yang dipapar diksi-diksi Din dalam kinerja menyairnya.

Tanpa menangguhkan makna, sebagaimana gaya penyair terdahulu, misalnya saja pada angkatan “bagai dara di balik tirai”, angkatan sastra puisi masa dahulu itu ternyata membawa pilihan menyingkap makna secara tidak langsung, tersirat. Penuh ketidakterusterangan, atas dasar peristiwa-peristiwa politik yang menyengsarakan apa saja termasuk “suara jiwa” sang penyair.

Perbandingan zaman termasuk pula cara menengadah ilusifitas, endapan jiwa dan bahkan suara nurani manusia yang seperti apakah lagi hendak dibungkam zaman.

Di saat tersebutlah manusia penyair mengambil peranan bahasa untuk meluruskan ketimpangan pranata sosial dan kasta serta moralitas yang unduh di luar yang seharusnya dimiliki bangsa yang merdeka menyuarakan soal-soal kehendak hidup yang merdeka.

Meskipun pembaca tidak diajak berputar-putar untuk memperoleh makna dari sajak yang ditulis penyair Din Saja, namun sajak-sajak yang ditulisnya tetap punya potensi artikulasi yang sublim, menohok akal pikir sekaligus menekuni dunia kesadaran.

Nilai-nilai dipertanyakan dengan penguatan yang bersahaja, respon penyair atas kesadaran yang terus ditutupi oleh hidup yang kian mengancam akal sehat dari pola berbuat manusia zaman kini.

Akhirnya logika dan rasionalitas “menyerang” sebagai diksi pilihan, kekuatan puitik sesekali lahir dari nada jiwa sebagai penyair “penyaksi”, terkadang malah penyairnya sendiri sebagai ‘aku-an’ yang sangat sadar atas upaya penyampaian dirinya sebagai manusia pengalami ketimpangan, sadar yang tidak lagi disimpan di balik tilam. (*)

About Redaksi

Check Also

Jangan Mau “Dikibuli” Puisi Sukmawati [Rudi Fofid Ambon Menulis]

Oleh: Rudi Fofid  “I don’t believe Bible I don’t believe Jesus I don’t believe Budha …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *