Ini Penyebab Utama Warga di Aceh Tak Percaya Adanya Virus Corona

Padahal, kata dia, akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap pandemi COVID-19, justru telah menyebabkan peningkatan angka warga di Aceh.
Tim gugus tugas penanganan COVID-19 Kabupaten Aceh Barat melakukan operasi disiplin masker di salah satu warung kopi di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Kamis (3/9/2020) ANTARA/Syifa Yulinnas

ACEHSATU.COMTim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (COVID-19) Kabupaten Nagan Raya memastikan penyebab utama warga di Aceh tidak percaya adanya virus corona (COVID-19) akibat banyaknya informasi palsu (hoaks) yang diterima masyarakat melalui media sosial.

“Ini yang kita khawatirkan, karena masyarakat kita (Aceh) masih percaya dengan hoaks kalau virus corona itu tidak ada,” kata pejabat GTPP COVID-19 Nagan Raya Ika Suhannas, seperti dilansir Antara, Jumat (25/9/2020).

Padahal, kata dia, akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap pandemi COVID-19, justru telah menyebabkan peningkatan angka warga di Aceh termasuk di Kabupaten Nagan Raya ikut terpapar dan terinfeksi COVID-19.

Ika Suhannas menyatakan penyakit atau serangan virus corona tersebut memang benar adanya, sehingga masyarakat di Aceh harus mewaspadai sebaran virus mematikan ini.

Untuk itu, GTPP COVID-19 Nagan Raya mengimbau agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah, demi keselamatan bersama.

“Virus corona ini memang nyata adanya, bukan rekayasa, kami minta masyarakat agar benar-benar waspada sebelum terpapar virus yang sangat berbahaya ini,” kata kata Ika Suhannas menegaskan.

Ia juga mengakui, meningkatnya jumlah warga di Aceh termasuk di Kabupaten Nagan Raya akibat COVID-19, karena saat ini kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan protokol kesehatan masih sangat rendah.

Bentuk ketidakdisiplinan tersebut, kata Ika Suhannas, terlihat dari banyaknya warga yang tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, masih berkerumun, tidak menjaga jarak saat bertemu satu sama lain, serta berbagai pelanggaran protokol kesehatan lainnya, ungkapnya. (*)