Teknologi

Ini Penjelasan Badan Geologi Kenapa Sampai Terjadi Tsunami di Palu

“Mengapa peringatan tsunami waktu itu dicabut, karena ini teorinya berbeda dengan tsunami Aceh atau Krakatau. Setelah kami selidiki, ternyata begini penyebabnya,”

FOTO | DETIK.COM

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut tsunami yang terjadi di Palu tidak diduga karena tidak terdeteksi oleh alat peringatan. Lalu, apa penyebabnya?

Menurut Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Ratmodo Purbo, tsunami yang terjadi di Palu berbeda dengan tsunami yang pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, contohnya tsunami Aceh 2004 dan tsunami akibat letusan Gunung Krakatau 1883.

Untuk mengetahui seperti apa bencana tsunami itu dari sisi teknis, Ratmodo mencoba memberikan penjelasan secara detail.

BACA: Kepedulian Aceh untuk Palu, Malam Amal Segera Digelar

“Jadi Indonesia ini kan berada di beberapa lempeng, di utara ada Eurasia Plate, di timur Pasific Plate dan di Selatan India-Australian Plate,” kata Ratmodo di Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (3/10/2018).

Ia mengatakan, Eurasia Plate ini cenderung tidak bergerak sehingga daerah yang berada di lempeng tersebut aman dari bencana gempa (lihat gambar).

Mengapa Terjadi Tsunami di Palu? Ini Penjelasan Badan GeologiFoto: Penjelasan Badan Geologi ESDM soal tsunami Palu

Sementara Pasific Plate itu bergerak ke arah barat dengan cepetan 12 cm per tahun. Sedangkan India-Australian Plate bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm per tahun.

“Ketika dua lempeng ini bergerak, ada titik temunya. Dua lempeng ini bertabrakan di Sulawesi Tengah, ini yang menimbulkan gempa di Donggala dan sekitarnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, waktu akan terjadinya gempa memang tidak bisa diprediksi, namun sebenarnya potensi gempa bisa diketahui lebih awal dengan memantau pergerakan lempeng-lempeng ini.

BACA: Waspadai Potensi Gempa Besar Seulimuem, Begini Analisa Pakar Unsyiah

“Jadi kalau mau bicara potensi ini sebenarnya gesekan dua lempeng ini masih bisa ditarik lebih jauh ke utara. Jadi kemungkinan bisa terjadi juga gempa di Tolitoli,” jelasnya.

Meski ada potensi gempa di sana, Ratmodo tidak bisa memprediksi kapan gempa itu terjadi. Sebab, itu tergantung kecepetan pergerakan lempeng yang sudah terjadi di Donggala dan sekitarnya.

Lalu, kalau hanya terjadi pergeseran tanah, mengapa terjadi tsunami? Biasanya tsunami terjadi ketika ada gempa yang terjadi di bawah laut, membuat dasar lautnya ambrol dan mendorong air laut dalam jumlah banyak tiba-tiba amblas sehingga riaknya terasa hingga ke darat.

Pada kasus gempa Donggala ini tidak ada dasar laut yang ambrol, hanya ada lempengan yang bergeser. Tapi mengapa tetap terjadi tsunami?

BACA: Cerita Pesatnya Perkembangan LGBT di Palu, dari Pesta Seks Hingga Pemilihan Miss Waria

“Setelah diselidiki, ternyata pantai-pantai di Palu itu dasar lautnya curam. Jadi ada lereng curam di dasar laut dengan tinggi 200-300 meter. Nah bagian dasar laut yang curam ini yang bergerak,” katanya.

Dasar laut yang bergerak itu seolah seperti sendok yang didorong di dalam air. Alhasil ada arus yang didorong ke tengah laut dengan kecepatan tinggi, dan arus ini akhirnya balik lagi ke pantai sehingga menyebabkan tsunami. Ratmodo lalu menunjukkan gambarnya.

“Mengapa peringatan tsunami waktu itu dicabut, karena ini teorinya berbeda dengan tsunami Aceh atau Krakatau. Setelah kami selidiki, ternyata begini penyebabnya,” ujarnya.

Sumber: Detik.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top