Lingkungan Hidup

Ini Isi Petisi Teungku Nurhayati yang Menuai Aksi Simpati Para Artis Nasional

Mereka memposting dukungannya melalui akun sosial media mereka dengan meminta para fansnya turut mendukung sebuah petisi yang dibuat seorang ulama perempuan dari Aceh.

FOTO Penyelidikan kematian bunta| dok. ISt

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Sejumlah publik figur memberikan dukungannya agar aparat keamanan bisa mengusut tuntas pembunuhan gajah jinak bernama Bunta di Aceh.

Mereka menyatakan kesedihannya karena gajah itu dibunuh dengan sadis dan gadingnya hilang sebelah.

Sejumlah artis seperti Chicco Jerikho, Arifin Putra, Tulus, Wulan Guritno, Baim Wong, Ammar Zoni, Irish Bella, Melly Goeslaw, Putri Marino, Rio Dewanto dan Daniel Mananta.

Mereka memposting dukungannya melalui akun sosial media mereka dengan meminta para fansnya turut mendukung sebuah petisi yang dibuat seorang ulama perempuan dari Aceh bernama Teungku Nurhayati terkait pembunuhan gajah Bunta dari Conservation Response  Unit (CRU) Serbajadi di Aceh Timur.

Petisi ini  meminta pengusutan kasus pembunuhan gajah Bunta dan meminta Pemerintah Indonesia segera merevisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragahayati dan Ekosistem terkait penerapan hukuman yang berat bagi pembunuh satwa.

Hingga hari ini, Rabu (13/6/2018), petisi yang dikeluarkan di Change.org ini telah mendapat dukungan lebih dari 18.542 orang.

Berikut isi petisi yang ditulis Teungku Nurhayati dari Bireuen:

Innalillahi wainnailahi raji’un. Berita menyedihkan saya terima dari Aceh, saat saya sedang berada jauh di Tanah Suci Mekkah.

Sebuah foto mengenaskan, seekor gajah tergeletak mati, belalainya penuh darah gadingnya hilang sebelah. Ada luka menganga dari bagian pipi hingga rahang, sepertinya ini cara pembunuh untuk mengambil gadingnya. Siapa yang begitu kejam melakukan tindakan sadis ini?

Yang lebih membuat saya terkejut itu adalah Bunta, gajah jinak yang saya temui saat berkunjung ke Conservation Respon Unit (CRU) Serbajadi di Aceh Timur tahun lalu.

Bunta bertugas menangani konflik gajah dan manusia di Aceh. Saya pernah bertemu Bunta, dia gajah yang ramah saat kami dekati, bahkan sempat memeluknya sebelum pulang.

Dengan santunnya dia mengantar rombongan kami pulang bersama mahoutnya. Masya Allah, ada binatang halus budi pekerti seperti itu.

Saya tak habis pikir bagaimana ada manusia yang kejam membunuh Bunta. Meracun kemudian mengambil paksa gadingnya sebelah. Tidak terbayangkan sakitnya Bunta saat meregang nyawa. Dan itu dilakukan di dalam bulan suci Ramadhan, dimana harusnya manusia tidak berbuat kezaliman. Teganya membunuh makhluk ciptaan Allah hanya untuk sebuah gading.

Padahal sudah jelas Firman Allah SWT yang memerintahkan untuk berbuat kebajikan (ihsan) antar sesama makhluk hidup, termasuk di dalamnya dalam masalah satwa langka, salah satunya surat QS. Al-Rum [30]:41) “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Bahkan diperkuat dengan Hadist Rasullulah Dari Jarir ibn Abdullah RA, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sayangilah setiap makhluk di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Dzat yang di langit”. (HR. Abu Dawud, al-Turmudzi, dan al-Hakim).

MUI juga sudah mengeluarkan Fatwa no 4/2014 tentang larangan membunuh satwa liar dilindungi demi menjaga keseimbangan ekosistem. Apa kurang jelas segala ayat dan hadist ini bagi manusia?

Sudah begitu banyak gajah dibunuh di Aceh juga di tempat lain di Sumatera, diracun, ditembak dengan senjata api, dijerat dengan perangkap, semua kekejaman semata untuk diambil gadingnya.

Saya Teuku Nurhayati, tinggal di Bireun Aceh, sebagai seorang ustadzah saya merasa ada yang perlu diperbaiki dari moral kita. Saya terketuk membuat petisi ini karena saya harus menghentikan kekejaman yang terus terjadi terhadap gajah Sumatera.

Tanah Aceh, tempat saya tinggal sejak zaman Kesultanan Aceh begitu menghormati gajah sebagai Po Meurah atau raja yang mulia.

Tapi kejahatan bisa mengubah banyak kearifan lokal. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tak takut berburu dan memperdagangkan satwa. Mungkin karena tak rasa takut akan dosa, tak ada kesadaran itu aset milik bangsa yang hampir punah.

Apresiasi kepada Bapak Sapto, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berserta tim dan kepolisian yang langsung bergerak cepat.

Namun mereka membutuhkan dukungan kita agar pemburu cepat ditangkap dan bisa menjebloskan pelaku ke penjara dengan hukuman yang berat.

Melalui petisi ini,saya meminta kepada Bapak Irwandi Yusuf selaku pimpinan tertinggi Pemerintah Aceh, Bareksrim POLRI, dan Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera mengusut Pembunuhan Gajah Bunta ini, dan desakan kepada DPR-RI untuk segera mengesahkan revisi UU 5/1990 agar pelaku kejahatan lingkungan dihukum seberat-beratnya.

Cukup Papa genk, Yongky, Bunta dan lebih dari 700 gajah lainnya yang korban selama 10 tahun terakhir. Moral kita sebagai bangsa ini patut dipertanyakan jika kita tidak menghentikan kekejaman terhadap satwa dimana seharusnya kita bisa hidup berdampingan.

Tanah Suci Mekkah, 12 Juni 2018

Teungku Nurhayati

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top