Ini Dia Penyakit Sosial Paling Berbahaya, Sama Bahayanya Dengan Komunisme

ACEHSATU.COM – Miris sekali menyaksikan carut – marut negeri ini, ketika masalah – masalah kemanusiaan terus muncul silih berganti, seakan – akan tiada habisnya.

Belum selesai masalah yang satu telah muncul pula masalah yang lain.

Kini satu masalah sosial yang sedang memanas, yaitu menyangkut perilaku asusila dan perselingkuhan yang kian marak.

Penyebabnya beragam, salah satunya karena maraknya pornografi dan pornoaksi dalam lingkungan sosial masyarakat.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri – istrimu, anak – anak perempuanmu dan istri – istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Ahzab:59).

Memang tidak semua pelaku pornografi dan pornoaksi itu muslim, tapi setidaknya kita yang mayoritas muslim mempunyai hak untuk memberikan batasan aurat yang bisa di tolerir oleh semua kalangan.

Kalau kita perhatikan, penolakan terhadap batasan pornografi dan pornoaksi ini banyak dilakukan oleh para pelaku seni dengan alasan “Pemasungan kreatifitas seni”.

Tapi apakah kreatifitas seni itu harus selalu memamerkan aurat? Kalau itu yang diperkirakan mereka berarti kita kembali ke jaman Jahiliyah, dimana pamer aurat terutama aurat wanita menjadi barang komoditi.

Pornografi dapat diidentifikasi sebagai penyakit sosial yang amat berbahaya.

Dalam bahasa agama, pornografi dapat disebut sebagai biang kejahatan (umm al-khaba’its).

Dikatakan demikian, karena pornografi dapat menimbulkan keburukan-keburukan lain dalam masyarakat.

Pornografi dapat melemahkan ikatan-ikatan moral, serta mendorong timbulnya pola kehidupan baru yang cenderung permisif dan hedonistik.

Ancaman pornografi kini kian meningkat, tidak saja pornografi, tetapi juga pornoaksi.

Pada yang pertama, kategori porno berbentuk foto atau gambar (grafis), sedangkan pada yang kedua (pornoaksi) berbentuk perbuatan atau perilaku.

Tentu, yang kedua ini lebih mengancam, karena sifatnya yang langsung (live), konkret (externalized), dan menantang (interested).

Dalam bahasa Alquran, pornografi atau pornoaksi itu disebut tabarruj.

Menurut para pakar tafsir, tabarruj berarti mempertontonkan segi-segi keindahan wanita (idzhar-u mahasin-i al-mar’at-i), atau memamerkan sesuatu yang menurut kelayakan harus ditutup (idzhar-u ma yajib-u ikhfa’uh-u).

Firman Allah, “Dan hendaklah kamu jangan berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS al-Ahzab: 32).

Tabarruj seperti tersebut dalam ayat di atas menunjuk pada kebiasaan wanita zaman jahiliyah.

Mereka biasa berdandan secara berlebihan dengan memperlihatkan perhiasan dan segi-segi keindahan tubuh mereka.

Ini dilakukan justru ketika mereka hendak keluar rumah.

Kebiasaan mereka dalam hal ini kelihatannya tidak berbeda dengan wanita masa kini. Ini berarti, kebiasaan wanita pada zaman jahiliyah dulu (jahiliyyat al-ula) telah muncul kembali pada zaman jahiliyah modern sekarang (jahiliyyat al warn al’isyrin).

Wanita-wanita beriman diperintahkan agar meninggalkan kebiasaan jahiliyah.

Mereka diminta agar lebih menjaga diri, dengan mengendalikan pandangan, menutup aurat, mengenakan kerudung atau jilbab, dan sama sekali tidak dibenarkan melakukan tabarruj (QS al-Nur: 31).

Dalam suatu hadis, Rasulullah SAW melarang wanita dewasa membuka aurat.

Dikatakan, aurat wanita adalah seluruh badannya, kecuali dua hal sebagai pengecualian, yaitu wajah dan telapak tangan (HR Abu Daud).

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika diturunkan ayat 31 surat al-Nur di atas, wanita-wanita Muslimah serentak menutup kepala dan leher mereka.

Bahkan, ada di antara mereka yang merobek kain sarung mereka sebagai kerudung atau jilbab.

Jadi, perintah agar wanita Muslimah menutup aurat, menjaga kesopanan, dan kepantasan dengan berkerudung atau berjilbab, bukanlah masalah khilafiyah, tetapi ajaran Islam yang sebenar-benarnya berdasarkan Alquran dan As-Sunah.

Setiap Muslim, setingkat dengan kemampuan yang dimiliki, harus berusaha melawan pornografi dan pornoaksi.

Usaha ini dirasakan makin penting dilakukan di tengah-tengah ancaman pornografi dan pornoaksi yang semakin menggila dewasa ini.

Bila bahaya pornografi dan pornoaksi tidak diatasi sejak dini, meskipun terlambat, maka akan menjadi ancaman serius.

Bahaya yang ditimbulkan sama dengan bahayanya komunisme. sebab keduanya membelakangi Tuhan. (*)