ACEHSATU.COM — Hasil hitung cepat dari berbagai lembaga mengindikasikan bahwa Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul di Sumatera Barat (Sumbar).

Sigi dari tiga lembaga survei SMRC, Indikator, dan Charta Politika menunjukkan kandidat nomor urut 2 itu menang telak di Sumbar dengan perolehan suara antara 83%-87%.

Hasil ini mirip dengan pemilihan presiden 2014 ketika Prabowo, yang saat itu berpasangan dengan Hatta Radjasa, juga menang telak di Sumbar dengan perolehan suara 76,9%.

Pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, seperti dilansir BBC Indonesia, Kamis (18/4/2019) berpendapat bahwa budaya menjadi faktor yang dominan dalam memengaruhi pilihan masyarakat Sumbar.

Petugas KPPS mengenakan pakaian pengantin Minang, di TPS Desa Punggung Ladiang, Pariaman, Sumatera Barat, Rabu (17/4/2019). Foto | Antara.

Ia menjelaskan bahwa warga Minang, etnis mayoritas di Sumatera Barat, punya jargon yang disebut 3T – tokoh, takah, dan tageh. Artinya, pemimpin bukanlah sekadar tokoh yang elit dan memiliki kemampuan lebih dari masyarakat kebanyakan, tapi juga memiliki karisma (takah) dan gairah atau semangat (tageh).

“Kalau Prabowo kita gambarkan lebih berapi-api ya. Dia mau bekerja untuk kepentingan masyarakat, nasionalisme, dan seterusnya. Gambaran seperti yang disebut tageh,” tuturnya sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah dan Dwiki Martha, dari Padang.

Selain faktor budaya, Asrinaldi menilai bahwa faktor agama juga menjadi pertimbangan bagi warga Sumbar yang mayoritas Muslim.

Meski dalam kedua pemilu kali ini, kedua kandidat sama-sama mengusung identitas keislaman namun rasa keislaman yang dibawa Jokowi antara lain melalui calon wakilnya, Kyai Haji Ma’ruf Amin, berbeda dari selera masyarakat Sumbar, kata Asrinaldi.

Ma’ruf Amin berasal dari organisasi Nahdatul Ulama (NU), sementara di Sumatera Barat pengaruh Muhammadiyah lebih dominan. (*)