INFOGRAFIS: Ikat Pinggang, Pertumbuhan Ekonomi Aceh Triwulan II Minus 1,82 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Aceh Triwulan II Minus 1,82 Persen

ACEHSATU.COMEkonomi Aceh mengalami penurunan pada triwulan II tahun ini.

Mengikuti pergerakan ekonomi nasional, perekonomian Aceh di triwulan II mengalami penurunan signifikan.

Berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh, Pertumbuhan Ekonomi Aceh triwulan II  2020 minus 1,82 persen (yoy).

Meski menurun, pertumbuhan ekonomi Aceh masih lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mengalami konstraksi sebesar 5,32 persen.

Ekonomi Aceh dengan migas triwulan II-2020 terhadap triwulan II- 2019 turun sebesar 1,82 persen (y-on-y).

Sementara pertumbuhan y- on-y triwulan II-2020 tanpa migas turun sebesar   3,61 persen.

Ekonomi  Aceh  dengan  migas  triwulan  II-2020  bila  dibandingkan triwulan I-2020 (q-to-q) mengalami penurunan sebesar 1,28 persen.

Sementara q-to-q tanpa migas juga mengalami penurunan sebesar 3,75 persen.

Dari sisi produksi pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 27,80 persen.

Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi ada di komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 77,62 persen.

Penjelasan BPS Aceh soal lemahnya pertumbuhan ekonomi Aceh

Kepala BPS Aceh Ishanurijal dalam keterangan resminya di laman youtube mengatakan, sektor transportasi dan pergudangan menjadi sektor yang sangat terpuruk bagi perekonomian Aceh di triwulan II 2020.

Sektor ini mengalami kontraksi sebesar 50,68 persen.

Selanjutnya dikuti sektor penyedia akomodasi makan dan minum yang berkontraksi sebesar 15,38 persen.

Sektor yang memberikan konstribusi positif tertinggi masing masing adalah konstruksi yang tumbuh positif sebesar 23,94 persen, pertambangan dan  penggalian sebesar 23,32 persen dan informasi dan komunikasi sebesar 17,26 persen.

Dikatakan Ihsanurijal, penopang utama bagi produk domestik bruto (PDRB) Aceh di triwulan II adalah sektor pertanian, perikanan dan kehutanan.

Sektor ini memberikan konstribusi sebesar 30,92 persen. Diikuti perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor.

“Dampak dari covid-19 terasa di Aceh pada triwulan II 2020,” ujar Ihsanurijal.

Ditambahkan, perekonomian Aceh triwulan II 2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp40,06 triliun atau sebesar US$2,81 milyar.

Sementara itu PDRB tanpa migas adalah sebesar Rp38,71 triliun atau sebesar US$2,72 milyar.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi untuk wilayah Sumatera pada triwulan II mengalami penurunan sebesar minus 3,01 (yoy) bila dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Sedangkan bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya mengalami pertumbuhan minus 3,70 persen.

Pertumbuhan minus tertinggi triwulan II tercatat di Kepulauan Riau yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar 6,6 persen diikuti Bangka Belitung dengan pertumbuhan negatif 4,98%, Sumatera barat sebesar -4,91 persen.

Kemudian, Lampung (-3,57 persen), Riau (-3,22 persen), Sumatera Utara (-2,37 persen).

Aceh (-1,82 persen), jamni (-1,72 persen), Sumatera Selatan (-1,37 persen) dan Bengkulu (-0,38 persen).

Pertumbuhan ekonomi nasional triwulan II menjadi yang terendah sejak 1999. (*)

Lihat Infografis berikut ini

Pertumbuhan Ekonomi Aceh
@acehsatu.com