Indonesia Resesi, Bayang-bayang Ketakutan

Indonesia Resesi, Bayang-bayang Ketakutan

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Indonesia resesi. Kata itu yang paling ditakuti oleh semua warga Indonesia.

Resesi di Indonesia akibat keganasan pandemi virus Corona (COVID-19) kian nyata. Lima negara dari tiga benua sudah terjun ke jurang resesi akibat wabah tersebut.

Indonesia resesi bukan tidak mungkin akan terjadi.

Mengingat ekonomi RI pada kuartal II-2020 tercatat minus 5,32%.

Bila berlanjut ke kuartal selanjutnya, maka Indonesia resmi masuk ke dalam jurang resesi.

Untuk meminimalisir dampak resesi tersebut, masyarakat wajib menguatkan dana cadangannya. Caranya dengan mengerem beberapa pengeluaran yang dirasa tidak penting dan mengalihkan uang tersebut ke dana cadangan tadi.

“Ditahan dulu deh belanja konsumtifnya, tahan dulu aja, disimpan dulu aja uangnya, tidak lama kok paling tidak untuk 6 bulan ke depan, kalau 6 bulan sudah beres, Januari, Februari sudah aman baru boleh belanja lagi,” kata Chairman & President Asosiasi Perencana Keuangan IARFC (International Association of Register Financial Consultant) Indonesia, Aidil Akbar kepada detikcom, Kamis (6/8/2020).

Beberapa pengeluaran konsumtif yang dimaksud seperti biaya untuk travelling, mudik akhir tahun, ganti HP, borong sepeda lipat, dan belanja tidak penting lainnya.

“Liburan ditunda dulu, kita tidak butuh liburan untuk saat ini, toh tidak bisa kemana-mana juga, pengeluaran biaya besar ditunda dulu, bahkan mudik akhir tahun ditunda juga, tahan dulu aja, terus pengeluaran yang tidak penting misalnya ganti HP, September biasanya iPhone keluarin series baru, jangan tergiur untuk ganti HP, terus sekarang musim sepeda lipat tuh, kalau tidak penting-penting amat, nggak usah beli dulu, baju, sepatu juga dan lain-lain,” tuturnya.

Apalagi, bulan ini banyak pusat perbelanjaan yang memberi diskon. Aidil mewanti-wanti masyarakat untuk bisa menahan diri agar tak tergoda dengan diskon-diskon tersebut.

“Bulan Agustus ini banyak diskon, kan menjelang 17 Agustus-an, jadi hati-hati terjebak diskon, selain karena 17 Agustus, mal-mal ini kan lagi berusaha menambah jumlah pengunjung, karena pengunjung mal masih sepi, untuk memancing ini ya mal-mal adakan diskon, tapi balik lagi, kita harus disiplin sama diri kita sendiri jangan terbujuk rayu diskon tadi, karena kita punya kebutuhan yang lain,” tambahnya.

Apa itu Resesi

Resesi menjadi kata yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Sebenarnya apa sih resesi itu?

Resesi adalah situasi yang terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Bagaimana Indonesia?

Jika dalam kuartal berikutnya ekonomi tetap negatif, maka resesi berlanjut. Sebuah negara berhasil keluar dari resesi ketika ekonominya sudah bisa tumbuh positif lagi.

Nah, Indonesia sudah hampir masuk ke resesi nih. Pasalnya, di kuartal II-2020, ekonomi Indonesia minus -5,32% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu.

Jika di kuartal III-2020 ekonomi kembali minus, maka Indonesia resmi masuk resesi. Mudah-mudahan pemerintah bisa membuat gebrakan selama tiga bulan ke depan supaya resesi tidak terjadi.

Beda Resesi dengan Krisis dan Depresi

Jangan sampai salah mengerti, resesi ekonomi beda dengan krisis, apalagi dengan depresi ekonomi. Krisis adalah keadaan yang mengacu pada penurunan kondisi ekonomi drastis yang terjadi di sebuah negara.

Penyebab krisis ekonomi adalah fundamental ekonomi yang rapuh antara lain tercermin dari laju inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang macet.

Penyebabnya juga dikarenakan beban utang luar negeri yang melimpah dan melebihi kemampuan bayar, investasi yang tidak efisien, defisit neraca pembayaran yang besar dan tidak terkontrol.

Gejala krisis ekonomi biasanya didahului oleh penurunan kemampuan belanja pemerintah, jumlah pengangguran melebihi 50% dari jumlah tenaga kerja, penurunan konsumsi atau daya beli rendah, kenaikan harga bahan pokok yang tidak terbendung, penurunan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung drastis dan tajam, dan penurunan nilai tukar yang tajam dan tidak terkontrol.

Krisis ekonomi biasanya mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, angka pengangguran naik, pemerintah kesulitan membiayai belanja, dan harga kebutuhan naik tajam.

Sedangkan depresi ekonomi, sebenarnya tidak ada definisi standar tentang perbedaan antara resesi dengan depresi.

Tapi, depresi ekonomi biasanya lebih parah dalam hal besarnya dan lamanya kontraksi ekonomi.

Mengutip Fortune, terdapat perbedaan yang jelas dalam penurunan PDB dan jangka waktu krisis antara resesi dengan depresi.

Dalam resesi, penurunan PDB berada di kisaran -0,3% hingga -5,1%.

Di Amerika Serikat (AS) contohnya, penurunan PDB paling parah (-5,1%) terjadi lebih dari sepuluh tahun lalu yaitu pada Desember 2007-Juni 2009.

Untuk penurunan PDB paling rendah berada di -0,3% terjadi pada Maret-November 2001.

Sedangkan dalam istilah depresi, penurunan PDB berada di kisaran -14,7% hingga -38,1%. Penurunan PDB terburuk di AS (-38,1%) terjadi pada Januari 1920- Januari 1921. Untuk penurunan PDB paling rendah berada di -14,7% terjadi pada Januari 1910-Januari 1912. Secara sekilas, nampak bila penurunan PDB pada depresi ekonomi jauh lebih buruk daripada resesi.

Selain perbedaan besar penurunan PDB, jangka waktu krisis juga menentukan perbedaan antara resesi dengan depresi.

Pada resesi, jangka waktu atau lamanya krisis berlangsung selama 6-18 bulan.

Sedangkan untuk depresi, lamanya krisis berlangsung antara 18-43 bulan. Dengan kata lain, depresi ekonomi merupakan kondisi yang jauh lebih parah dari resesi. (*)

Sumber detik.com